Suatu hari saya bertanya dengan salah seorang teman kampus, dia berasal dari Singapura atau yang banyak diketahui sebagai negara tetangga dengan peraturan disiplin yang ketat. Saya yang niatnya hanya sedikit iseng bertanya.

"Bro, Singapur bisa bersih gitu, memangnya denda buang sampahnya bisa bikin miskin kah "?.

Setelah diam sejenak, dia menjawab. " ngga juga, mungkin karna tempat pembuangan sampahnya sangat banyak".

dari percakapan singkat tersebut, yang sebelumnya hanya mencoba sedikit bercanda ternyata malah membuat pribadi ini merenung. Umumnya ketika sedang merenung, isi kepala saya tiba tiba sibuk hingga memunculkan ide ide dari skenario palsu sebelum menjadi sebuah gagasan, if you know what i mean.

Dan munculah petanyaan satu persatu di dalam kepala tentang apakah fasilitas bisa menunjang kedisiplinan dan menciptakan ekosistem yang baik, seperti menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya dan menumbuhkan rasa peduli pada lingkungan hidup ?.

Dikutip dari https://terkininews.com/2016/02/29 Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.

Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Dari ketiga paragraf di atas kita bisa memahami bagaimana dunia mengagumi Jepang, kita mengenal Jepang sebagai negara yang bersih dan teratur, sebuah impact yang sudah mereka bangun bertahun bertahun, dan menjadi kurikulum khusus ditiap tiap sekolah dasar di sana.

Kampanye Revolusi Mental yang disurakan nyaring sejak kampanye pemilu oleh pemerintah saat ini masih belum terasaimpact besarnya, mungkin masih butuh waktu lima sampai tujuh tahun lagi atau lebih. Tentu bukan waktu sebentar membuat sebuah perubahan. Berikut ini diketahui tertulis di makam seorang Uskup Anglikan di Westminster Abbey sekitar 1100 AD. Tentang cerita seorang pria yang ingin mengubah dunia.

“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.

Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

 Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”

Jika para pembaca dan saya seumuran mungkin pernah membaca quote diatas pada LKS( Lembar Kerja Siswa), tapi saya lupa pada pelajaran yang mana. Merenungi percakapan saya dan teman singapur saya di kampus dulu, salah satu penunjang disiplin pada kecerdasan sosial yang dalam hal ini adalah membuang sampah pada tempatnya adalah fasilitas berupa tempat sampah yang bertebaran dimana mana, mungkin jika kita memulai dari memberi sarana atau fasilitas penunjang yang lebih dari cukup, bukan tidak mungkin untuk membangun sebuah kebiasaan baik pada lingkungan akan terlaksana dengan pelan tapi pasti.

Apakah tidak ada pendidikan kecerdasan sosial di Negara kita ? jawabannya ada, dan sudah ada dibangku sekolah dasar. Tetapi hanya teori saja, secara praktik tidak dilakukan dalam waktu yang panjang seperti negara Jepang, yang memulai memberi pendidikannya untuk anak anak sd, setidaknya sampai umur 9 tahun, atau setara dengan peserta didik dibangku kelas 4 SD.

Pendidikan pertama seorang anak adalah Ibu kandungnya. Maka orang tua adalah seorang dewasa pertama yang memberi pendidikan dan contoh bagi seorang anak. Banyak tujuan awal orang tua menyekolahkan anak mereka agar pintar, dan berprestasi di sekolah agar kelak bisa mereka banggakan. 

Melihat kasus tersebut, maka menurut hemat saya, generasi para orang tua baiknya juga diedukasi tentang kecerdasan sosial, hingga melahirkan tujuan tujuan baik sebelum menyekolahkan anak mereka. Jika mental orang tua sebagai pendidik pertama berevolusi, lalu sistem, kurikulum dan sarana untuk menuju kecerdasan sosial kita laksanakan.

Mungkin seharusnya biaya operasional sekolah bukan hanya biaya yang sekolah saja, tetapi ada mandat berisi fasilitas yang wajib dimiliki dari biaya tersebut, seperti tong sampah yang banyak.

Demikian yang ingin sekali saya sampaikan, saya tutup tulisan yang saya kerjakan singkat ini dengan mengambil kutipan dari W.S Rendra

“ Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi,

, Keberanian menjadi cakrawala, dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.