Remaja menjadi masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Tidak bisa disebut anak-anak dan tidak bisa disebut dewasa juga. Usia remaja sekitar 10-19 tahun. Masa remaja menjadi masa yang ditakutkan banyak orang tua. Karena di masa ini, mereka akan cenderung mencoba hal baru dan mencari jati dirinya. Lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah sehingga menimbulkan rasa cemas pada hati orang tua.

Tidak hanya orang tua saja yang bisa merasakan cemas, remaja pun dapat mengalaminya. Apalagi saat mereka telah memikirkan akan masa depan. Biasanya pemikiran ini terjadi pada remaja tingkat akhir pada Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Mereka akan mulai bingung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan atau tidak. Jika melanjutkan akan mengambil jurusan apa, jika tidak apa yang akan dilakukan. 

Banyak pertanyaan di benak mereka saat masa-masa itu. Peran orang tua sangat diperlukan dalam masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Biasanya remaja akan cenderung bingung dan kehilangan arah.

Rasa cemas yang timbul karena memikirkan masa depan. Sebenarnya hal ini wajar dan dapat dialami semua orang. Karena tidak ada satu orang pun yang tau apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Namun jika terlalu cemas memikirkan masa depan akan berdampak pada kehidupan kita.

Fase peralihan ini disebut quarter life crisis, yaitu fase krisis di mana seorang remaja menuju usia dewasa. Quarter life crisis menjadi masa ketidakpastian di kalangan anak muda yang cenderung terjebak, tidak termotivasi, dan sedang mempertanyakan ke mana arah karier, percintaan dan tujuan hidup ke depannya. Menyebabkan rasa cemas, takut, tidak aman, kesepian, dan kekecewaan.

Quarter life crisis dapat terjadi karena faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor eksternal seperti mendapatkan beban ekspektasi dari orang lain. Padahal hal tersebut dapat menyebabkan beban mental dan stres berkepanjangan. Sedangkan faktor internal seperti adanya masalah finansial, masalah dalam percintaan, masalah dalam pertemanan, dan masalah pada diri sendiri.

Biasanya ketika seseorang sedang mengalami fase quarter life crisis, mereka akan cenderung bingung terhadap apa yang harus diperbuat. Serba takut akan berbagai hal dan kesulitan dalam mencari jalan keluar terbaik. Cenderung membuat berbagai asumsi tentang apakah hal itu benar atau buruk. Asumsi yang dibuat bahkan cenderung ke arah negatif. Padahal fokus yang berlebih akan asumsi yang dibuat justru membuat rasa sesal dan akan merugikan orang lain.

Menurut peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London, Dr. Oliver Robinson, ada empat fase dalam Quarter Life Crisis (QLC). Fase pertama, dimana seseorang akan merasa terjebak pada suatu keadaan. Mereka akan merasa terjebak dan sulit keluar dari zona tersebut. 

Fase kedua, tahap di mana seseorang berusaha untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Sadar berada pada posisi yang sulit, sehingga berusaha untuk mengejar dan mengubah segalanya ke arah yang lebih baik. 

Fase ketiga, muncul keinginan untuk memulai kehidupan baru. Dimana mereka telah berhasil mencapai target di kehidupan. Contohnya saat telah berhasil lulus pada jenjang SMA, tetapi rasa senang yang dirasakan tidak terlalu lama karena diharuskan untuk kembali memupuki semangat untuk merebutkan kursi di bangku kuliah.

Fase keempat, fase di mana telah timbul komitmen pada diri sendiri terhadap pendidikan, pekerjaan atau hubungan percintaan dan siap untuk menghadapi tantangan serta kehidupan baru pada masa yang akan datang.  

Quarter life crisis merupakan bentuk krisis umum yang tindak disadari banyak orang. Alhasil masih banyak orang yang kesulitan mengatasi karena tidak paham dengan apa yang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman akan tanda-tanda dari quarter life crisis. 

Biasanya orang akan mulai mempertanyakan apa  tujuan hidupnya. Muncul pertanyaan di kepala dan sulit untuk menemukan jawabannya. Saat melakukan kegiatan pun tidak merasa bahagia. 

Biasanya mereka mulai kehilangan tujuan hidup dan terlalu ambisius tanpa dibarengi dengan usaha yang sepadan. Merasa kurang motivasi dan merasa bahwa lingkungan sekitar tidak membantu untuk keluar dari masalah. Berusaha untuk menyelesaikan sendiri dan berasa pada fase bingung untuk keluar dari zona nyaman atau tidak.

Setelah mengerti tanda-tanda dari quarter life crisis, kita juga harus mengetahu cara menghadapinya. Langkah yang paling penting adalah kenali diri sendiri. Dengan mengerti apa kekurangan dan kelebihan diri sehingga dapat dijadikan untuk bahan evaluasi sekaligus sekaligus sebagai motivasi. Berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. 

Dengan fokus terhadap memperbaiki diri sendiri sehingga hidup akan lebih tenang tanpa beban. Berani untuk keluar zona nyaman dan mencoba hal baru dengan tujuan mengembangkan kemampuan diri sendiri. 

Memulai hidup lebih produktif dan tidak pernah ragu untuk memulai hal baru karena kita tidak tau apa yang kita hadapi di masa depan. Percaya pada masa depan bahwa akan menghadapi hal baik sehingga bisa menjadi motivasi untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Jangan terlalu khawatir akan masa depan dan mulai mengatur hidup agar lebih tertata. Relakanlah apa yang sudah menjadi masa lalu dan mulai kehidupan baru dengan baik. Ingatlah bahwa orang-orang yang memasuki masa krisis ialah orang yang berpikir. 

Mereka cenderung memiliki pemikiran dan proses yang ada. Fokuslah untuk meningkatkan kemampuan diri, dan yakin bahwa pasti akan menjadi yang terbaik dengan versimu.

Baca Juga: Beranjak Dewasa