Farid Esack, lengkapnya Maulana Farid Esack, pemikir Muslim asal Afrika Selatan itu memang seorang juru bicara bagi solidaritas atas nama kemanusiaan untuk semua orang. Kenyataan bahwa setiap orang adalah manusia harus dikedepankan di atas pertimbangan lainnya, termasuk agamanya. Apa pun agama seseorang tidak lantas menurunkan derajatnya sebagai manusia seperti diri kita sendiri.

Farid Esack memiliki pengalaman yang mendalam sekali dengan kemiskinan dan kelaparan. Ia lahir di Wnyberg, sebuah kota bagian dari sebuah kota terkenal di Afrika Selatan bernama Café Town pada tahun 1959 dalam asuhan seorang ibu yang menjalani hidup sebagai single parent. Di Wynberg maupun di Bonteheuwel, demografi atau susunan penduduk terdiri dari berbagai agama. Di samping agama Kristen dan Islam, ada agama Baha’i dan Yahudi. Farid mengenang tuan Frank, satu-satunya orang Yahudi di lingkungan tempat tinggalnya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik dari Esack ketika mengenang solidaritas tetangga-tetangganya yang beragama lain. Farid mengatakan:

“Kepada tetangga Kristen itulah kami bergantung demi semangkuk gula untuk menyambung nafas di hari-hari berikutnya. Dan mereka menjadi tempat berbagi derita. Kepada tuan Frank kami memohon perpanjangan waktu kredit yang seolah-oleh tiada akhirnya. Kenyataan bahwa penderitaan kami menjadi terpikulkan berkat solidaritas, kemanusiaan, dan senyum para tetangga Kristen membuat saya curiga pada semua ide keagamaan yang mengklaim keselamatan hanya ada bagi kelompoknya sendiri, dan mengilhami saya dengan kesadaran akan kebaikan intrinsik dari agama lain. Bagaimana mungkin saya menatap keramahan yang memancar dari Bu Batista dan Bibi Katie sembari meyakini bahwa mereka ditakdirkan masuk neraka?”

Dari kenangan tersebut terpantul benih-benih pluralisme dalam diri Esack sejak dini. Solidaritas dan penerimaan terhadap orang lain tanpa dihantui oleh perbedaan agama, ras dan kelamin merupakan inti dari pluralisme yang tertanam kuat pada diri Esack sampai saat ini.

Sejak kecil Farid Esack sangat sensitif dengan penderitaan yang ia alami di sekitarnya. Kemiskinan yang menyebabkan perut kosong menghantui kesehariannya. Ketakutannya pada hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Nabi memohon dijauhkan dari kemiskinan dan kekafiran mendorongnya untuk belajar dengan tekun dan menjadi aktivis sosial yang gigih.

Farid Esack dengan keberanian yang dimilikinya sangat meyakini bahwa Alquran adalah sebuah wahyu yang memberikan pemihakan kepada kelompok lemah atau mustad’afin. Maka apa pun penafsiran seseorang atas Alquran harus berpihak kepada kaum mustad’afin.

Komitmen membangun sebuah masyarakat egaliter, berkeadilan, berkesetaraan, dan tanpa rasialisme harus menjadi ukuran-ukuran dalam setiap penafsiran teks-teks suci. Pengalaman hidupnya di Afrika Selatan, terutama pada masa politik Apertheid (politik berdasarkan ras), telah memberikan wawasan kemanusiaan (horison of humanity) bagi Esack.

Menurut Esack, pengetahuan sebagaimana alat sosial lainnya, di samping dapat dikritik, juga tidak pernah dapat netral. Esack meyakini bahwa tugas Muslim memahami Alquran dalam konteks penindasan ada dua hal. Pertama, untuk memaparkan cara interpretasi tradisional dan kepercayaan-kepercayaan tentang fungsi teks sebagai ideologi dengan tujuan untuk melegitimasi tatanan yang tidak adil, untuk mengakui kesatuan umat manusia, menggali dimensi-dimensi keagamaan dalam situasi ketidakadilan dari teks dan mempergunakannya untuk melakukan  pembebasan.

Esack berusaha mengeksplorasi retorika pembebasan Alquran dalam suatu teori teologi dan hermeneutika dan pluralisme agama untuk pembebasan yang lebih koheren. Teologi pembebasan Alquran bekerja menuju pembebasan agama dari struktur sosial, politik dan agama serta ide-ide yang didasarkan atas kepatuhan tanpa kritik dan pembebasan seluruh penduduk dari semua bentuk ketidakadilan dan eksploitasi termasuk ras, gender, kelas dan agama.

Kunci hermeneutika pembebasan dimunculkan dari perjuangan Afrika Selatan demi kebebasan dan dari Alquran. Dalam hal ini Esack mencoba mengelaboralisasi kata-kata kunci: taqwā, Tawhīd, Al-Nās, al-mustad’afun ‘adl dan qist, serta Jihād. Sehingga dari kolaborasi tersebut nampaklah ada kaitan antara jalan Tuhan yang mengidentikkan diri dengan kemanusiaan (Al-Nās), hubungan antara jalan Tuhan dan jalan kemanusiaan. 

Melibatkan diri dalam hermeneutika pembebasan Alquran dalam situasi ketidakadilan adalah melakukan teologi dan mengalami iman sebagai solidaritas terhadap masyarakat tertindan dan marginal dalam perjuangan untuk pembebasan. Jadi, hermeneutika pembebasan Al-Qur’an berbeda dari teologi tradisional dan modern dalam tiga aspek:

1). Perbedaan pada tempat penafsir,

2). Teologi pembebasan hidup dalam dunia “kekerasan dan harapan, refleksi dan tindakan, spritualitas dan politik”, dan

3). Kebenaran bagi penafsir yang terlibat, tidak pernah menjadi mutlak. Pemikirannya itu semua dilatarbelakangi atas kehidupan Esack berada di wilayah Afrika dengan berbagai dinamika konflik kehidupan.