32940_44845.jpg
Dok. Pribadi
Cerpen · 6 menit baca

Fantasia

Julia kembali membentakku dengan suara yang keras. Mulutnya dipenuhi umpatan nama-nama binatang, kontras dengan sapuan lipstik merah marun di bibirnya begitu menawan. Dia melemparku dengan sebuah testpack, yang setelah kuperhatikan dari dekat rupanya bergaris dua merah. Dengan agresif dia menuntut untuk dinikahi. Ocehannya bahkan sampai pada level mengancam; kalau-kalau, dia berani untuk membunuhku jika inginnya tidak dipenuhi.

Tepat pada saat dia memaki dengan kata, “brengsek” dan melemparku dengan kondom bekas pakai, kuhajar dia dengan dua kali pukulan tepat dikening, dia terjatuh dan pingsan. Kubiarkan sejenak,  lalu kugendong dan kuletakkan tubuh jenjangnya ke atas ranjang.  

Kudengar petir mulai berisik, mendung mulai mengepul diluar. Kucarikan selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang supaya tidak kedinginan. Kulepaskan kacamatanya supaya nanti tidak tertindih. Aku menyadari satu hal, ada tato di tubuhnya yang baru kulihat, sebuah kalimat dalam bahasa latin kalau kutebak, “sine qua non”, di lengan atas sebelah kanan. Warna tulisan itu hitam kehijauan dengan font yang digarap cukup rapi, sangat minimalis. Aku benci tato sebagaimana aku benci pada diriku sendiri.

Jarum Jacques Martin berwarna merah muda dipergelangan tangan wanita itu menujuk pada angka dua. Dini hari terasa begitu senyap. Udara dingin menembus sampai ketulang rusuk. Gerimis dilihat dari lantai Sembilan—apartemen milik Julia—terlihat bak ribuan jarum yang berjatuhan, keperak-perakan  karena pantulan cahaya lampu jalan Jakarta yang cukup terang dari bawah sana. Gerimis dengan background  hitam malam dikejauhan sana membuat suasana terlihat dari ketinggian terasa renyah.

Wanita itu adalah sumber kebahagiaan sekaligus masalah buatku. Bayangkan, aku mesti berurusan dengan dokter sejak tiga bulan terakhir hanya karena dia mengancam akan menyambangi kediamanku jika aku membuatnya kesal atau cemburu. Entahlah, masalah gangguan tidur katanya. Dokter memberikan obat yang aku tidak peduli apa nama dan kandungan isinya, yang penting aku bisa tidur, beres. Sebuah pelarian, sebuah ketergantungan baru.

Singkatnya, setelah memastikan wanita itu baik-baik saja, aku mengobati memar dikepalanya dengan air es. Setelah itu kuputuskan untuk tidur. Aku mengambil obatku yang sebelumnya kusimpan di laci obat. Kuambil segelas air putih dan langsung meminumnya. Kemudian aku duduk diatas meja kayu sambil berusaha untuk rileks dengan kedua kaki tergantung setinggi 25 senti. Aku mengurungkan niat untuk merokok karena pendingin ruangan yang masih menyala.

Pada menit kesepuluh setelah minum obat, tiba-tiba tubuhku tidak bisa digerakkan, kaku sejadi-jadinya. Bukannya rasa kantuk yang menjalar, malah rasa segar berlebihan yang menjejal dibalik pelupuk mata. Nafasku mulai sedikit panas. Jantung memompa darah lebih cepat. Efeknya hampir mirip seperti minum Viagra. Tapi ini lain! Seluruh tubuh terasa hangat tanpa keringat. Energi dan histeri semangat berjejalan didadaku. Anehnya tubuh malah tidak bisa kugerakkan. Meski begitu, aku merasa tubuhku seringan kapas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jika saja ada kipas angin didepanku mungkin aku bisa melayang, pikirku.

Menit ke empat belas, tubuhku terasa makin segar dan terus merasa lebih segar tiap detiknya. Dengan tubuh kaku terduduk di atas meja, aku  tercengang dalam kelumpuhan yang hebat dan sangat kuat.

Menit ke lima belas, hasratku menyala-nyala. Ruangan apartemen yang semula gelap remang dengan lampu oranye pudar, berubah berkilauan dengan lampu-lampu neon warna-warni. Tiba-tiba terdengar suara dentuman bak sedang di lantai dansa. Atmosfer ruangan menjadi begitu riuh sekaligus sesak dengan teriakan hiseria. Kedua telingaku menjadi sakit. Kamar berputar-putar. Suara tawa terbahak-bahak disana-sini memenuhi ruangan.

Suasana yang riang berubah jadi suram pada menit ke enam belas. Semula riuh menjadi kelam; gelap yang dalam. Sensasinya sangat temaram mengelilingi tubuhku, punggung dan kepalaku sangat berat seperti ditimpa tiga karung beras. Kulihat dan kurasakan, dinding-dinding kamar menghitam dengan pekat—tiap sisinya makin lama makin mengecil dan menyempit—sampai-sampai aku tertelan dengan sesak dan rapat. 

Aku terjebak didalam kehampaan. Dadaku sesak nafasku tersengal-sengal. Tubuhku yang tadinya terasa hangat mendadak dingin sejadi-jadinya. Kakiku terasa beku seperti menginjak es balok. Tetapi kepalaku terasa lain! Kepalaku terasa panas serperti diguyur semangkuk kuah sup panas.

Perasaanku menggantung, pikiranku tertelan dalam kesempitan. Tiba-tiba kegelapan yang sunyi mendalam  berubah menjadi bising yang sebising-bisingnya. Suara aneh bermunculan dari segala penjuru. Apakah gelak tawa atau tangisan pilu sukar dibedakan. Begitupun rintihan perih minta tolong dan suara erangan nikmat ejakulasi, terdengar begitu padu sekaligus berantakan dengan kombinasi yang sangat kacau. 

Tangisan bayi tiba-tiba bermunculan memekakkan telingaku, seolah mereka ada tepat disamping telingaku. Suara ribut-ribut ringkikan kuda atau suara kakek tua yang kesakitan menjadi sulit kubedakan. Auman harimau dan burung gagak bergantian memenuhi pikiranku; semua terasa kacau dalam bunyi yang sunyi sekaligus ngeri tak terperi.

Sementara—aku terus melawan. Pikiranku tiba-tiba lepas, aku bisa berlari dalam pikiranku! Kulihat ada setitik cahaya putih dikejauhan. Aku berlari sekuat tenaga didalam pikiranku sendiri menuju sumber cahaya—sekaligus aku memungut sisa bait doa yang kupreteli sejak belasan tahun lalu; berdoa kepada Tuhan untuk menjauhkan bunyi maut yang ingin menelan pikiranku persis  dibelakang.

Aku merasakan basah air keringat yang menetes bercucuran. Mendadak pikiranku blank. Kegilaan ini kembali membawaku ke kamar di apartemen Julia. Suasana kamar kembali normal seperti sediakala. Aku masih tetap tidak bisa bergerak di atas meja. Kakiku masih menggantung.

Kesadaranku kembali menjadi milikku. Kudapati diri ini masih terduduk diatas meja. Aku menggerakan bola mataku sekuat tenaga kearah jam tangan Julia untuk memastikan sudah berapa lama aku terjebak dalam kegilaan konyol ini: jarum jam mengarah pada pukul setengah tiga pagi.

Tapi tunggu, kegilaan ini belum berakhir.

Kuperhatikan jarum jam ditangan Julia berputar ke arah sebaliknya. Begitupun suasana di ruangan ini, perlahan mundur kemasa lalu—sampai pada adegan dimana—aku menyaksikan sambil tetap terpaku diatas meja, diriku yang lain, diriku sesaat sebelum kegilaan ini muncul dan  memukul kening wanita itu sampai pingsan.

Sampai pada titik itu, jarum jam berhenti berputar mundur dan berjalan kembali maju kedepan. Tepat saat jam menunjuk pukul dua lebih lima menit, disitu aku melihat diriku sesaat mengambil di laci obat disamping meja. Obat dimana segala kegilaan ini bermula; rupanya yang kuminum bukan obatku. Aku keliru mengambil kapsul di laci karena lelah—yang kuminum  obat milik Julia, mungkin sejenis napza, atau entahlah persetan pikirku, yang seminggu lalu sempat ia bicarakan padaku. Obat itu katanya manjur untuk melawan halusinasi kuat Skizofrenia. Tentu saja aku melarangnya.

Kembali aku merasakan sensasi blank. Persis seperti layar smartphone yang error; yang kulihat hanya putih bersih sejauh mata memandang.

Aku tersadar, diatas meja aku terbangun dari kondisi setengah sadar. Kudapati Julia menggenggam sebilah pisau tepat didepanku. Aku lemas selemas-lemasnya sampai-sampai tidak bisa bergerak. Tiba- tiba, Julia berdiri dihadapanku. Dia menghajar kepalaku dengan botol beling gin Bombay Saphhire warna hijau tosca. Kemudian langsung menusuk pinggangku dalam-dalam. Dia memutar pisau itu. Bunyi yang terdengar kurang lebih seperti seperti kain yang disobek.

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Tidak bisa berbuat apa-apa masih dalam posisi yang sama. Hajaran botol hampir membuatku pingsan. Sambil terduduk yang kurasakan hanya panas dan perih. Cairan kental mulai membasahi sela-sela pangkal, hal itu membuatku merasakan sensasi hangat sekaligus dingin. Tidak lama aku ambruk dalam kantuk yang sangat hebat; aku tertidur dengan pulas seiring terdengar Julia tertawa sekeras-kerasnya.

Lalu aku mendadak tersentak.

Kurasakan geli ditelingaku, terasa hangat dan basah, juga akrab. “Mas, bangun. Sarapannya sudah siap, mobil juga sudah kupanaskan, sudah jam lima tau! Aku mau antar Dike ke sekolah sebentar lagi, nanti ketinggalan sarapan lho”, kudengar suara Inge membisiki telingaku. Aku langsung terkesiap, “Kepalaku berat banget, aku menggigau nggak?”, hanya itu yang meluncur dari mulutku, takut-takut kalau aku menyebut nama Julia dalam tidur, bisa gawat pikirku. Inge pasti ngambek.

“Aku tidur sama Dike, dia minta ditemani tidurnya semalam, sambil diceritakan dongeng Kancil, tumben itu anak takut, nggak pernah-pernahnya lho dia manja seperti itu, sama kayak kamu yang manja, mas”, katanya. “Ohya, aku tidak ingat kejadian kemarin, yang kuingat aku sedang ada meeting, ada apa ya?”, aku bertanya pada Inge mengalihkan pembicaraan, karena aku baru sadar kalau aku kemarin di kantor belum sempat pulang kerumah selama dua hari berturut-turut karena ada sesuatu lebih  yang harus dikerjakan.

“Kamu pingsan kemarin, mas. Itu kaat rekan kantormu. Dia langsung membawamu pulang. Bukannya dibawa kerumah sakit atau apa ini malah diantar pulang! Aneh sekali, kurang professional kantor mu mas dalam memelihara kesehatan pekerjanya. Aku sendiri juga yang kesana buat ambil mobilmu. Tiga bulan ini, kuperhatikan, kamu kayaknya bekerja terlalu keras, ada proyek besar di kantor?”, dia bertanya

“Um… bukan apa-apa, emang lagi kecapekan aja, ngomong-ngomong, siapa yang antar aku kemarin?”, aku balik bertanya pada Inge

“Oh, ya, dia memperkenalkan diri sebagai Julia, kok kamu nggak bilang sih punya sekretaris baru, memangnya yang lama kemana?”

Mendengarnya aku langsung meraba kepalaku, kudapati memar disebelah kanan kening. Sialan pikirku. Aku langsung cek Whatsapp, rupanya benar, Julia mengajakku ketemu di apartemennya nanti malam jam Sembilan.