“Penyebaran virus telah menjadi pandemi.” Sebuah peringatan yang diungkapkan oleh Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal badan WHO kala itu.

Pandemi COVID-19 yang hingga kini masih menjadi momok permasalahan dunia. Menjadikannya sebuah pusat pembicaraan sosioekonomi global, serta kekhawatiran akan menurunnya semua sistem perekonomian dan aktivitas sosial dunia.

Sebuah keadaan yang tidak hanya membuat semua manusia menjadi mawas diri terhadap apa yang tengah terjadi, namun pada akhirnya akan membuat kita benar-benar menelaah dan mendalami perihal epidemiologi—sebuah analisis pola pandemi ini.

Tak banyak yang dapat kita lakukan, sebagai masyarakat yang diminta untuk mematuhi peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini. Kewaspadaan diri yang bercampur dengan ketaatan akan protokol-protokol kesehatan, pun kini semakin dijalani dengan mandiri.

Ungkapan stay at home yang kerap digaungkan, menjadi ihwal keresahan tersendiri bagi mereka yang merasakan dan tengah menjalankannya. Bahwa kebebasan bersosialisasi yang biasa mereka miliki, kini terbatas interaksi.

Keprihatinan global yang melahirkan kondisi Psikosomatik pada hampir sebagian masyarakat di dunia. Sebuah keadaan psikologi atas kemampuan adaptasi manusia, akan penerimaan kondisi di kehidupannya. Sebuah pembicaraan yang tak melulu mengenai rangkaian ketidakseimbangan kejiwaan. Namun, ialah ilmu yang mendalami makna tentang keberadaan kualitas hidup, jiwa serta pemetaannya.

Tak dapat dimungkiri, bahwa sebagian besar manusia telah mengalami symptom psikologi sedemikian. Melansir dari NY Times, Dr. Toni Goodykoontz—seorang asisten profesor dan kepala seksi psikiatri pengobatan WVU mengatakan, “Sebagian pasien yang saya tangani mulai mengeluhkan sakit kepala dan nyeri di dada secara tiba-tiba. Lalu, mulai membayangkan bahwa mungkin mereka telah terkena virus tersebut.”

Namun, bukan berarti rasa sakit dan keluhan itu tidaklah nyata. Kondisi interpretasi pemikiran manusia yang membuat hal-hal imaji tersebut, terlahir dan mampu mewujud. Bak dongeng-dongeng fiksi di dalam mimpi yang telah berhasil termanifestasi.

Tak ada lagi kenyamanan dalam berinteraksi. Manusia satu dengan yang lain, kini mengambil peran heroik tersendiri demi melindungi kesehatan tubuh serta kondisi mental yang masih mereka miliki. Ketakutan-ketakutan mental yang semestinya ditangani sebagai tindak perlindungan mandiri. Bukanlah lagi menjadi suatu penurunan kapasitas serta kualitas keberadaan diri yang kerap dilindungi.

Manusia tumbuh dan berkembang dengan dua keadaan yang tampil secara inheren—tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Dengan adanya kualitas kesehatan jiwa serta kondisi tubuh yang telah termaktub bersama di dalamnya.

Menyadari serta mewaspadai bahwa pandemi global ini adalah satu jalan terbuka, untuk lebih memahami betapa tak ternilainya kesadaran utuh pada pemikiran manusia. Bahwa hampir 7.7 miliar populasi  penduduk dunia merasakan keresahan yang serupa.

Seperti pendapat yang telah dikembangkan oleh psikolog serta dokter Persia pada abad pertengahan, Ahmed Ibn Sahl Al-Balkhi dan Haly Abbas. Terdapat penyakit yang menekankan interaksi pikiran dengan  tubuh. Bahwa kondisi fisiologi dan psikologi seseorang dapat saling memengaruhi.

Sebuah fenomena luar biasa mengenai kondisi manusia, yang terkadang terlupakan oleh tingginya konsentrasi akan merebaknya epidemi tersebut. Kekhawatiran global akan terjangkitnya tubuh tanpa mengindahkan kesadaran psike di dalam diri.

Dunia psikologi sudah menjadi harta karun kejiwaan umum, yang seharusnya dapat diterima dan dimaknai sebagai konsep penelitian kesembuhan—yang telah mengalami proses kelahiran analisis panjang berabad-abad lamanya.

Sebutlah saja Sigmud Freud, Carl Jung, Alfred Adler, atau bahkan Ibnu Sina yang mendefinisikan bahwa, “Jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh manusia.” Bahwa eksistensi manusia bukanlah hanya mengenai mekanisme fisik semata, pun mengenai kesatuan aktualisasi jiwa beserta hakikat fisiologi di dalamnya.

Psikologi, sebuah frasa yang berasal dari bahasa Yunani yang memiliki makna ilmu dan jiwa. Suatu penelitian tentang psikis yang menjadi komponon penting bagi kesadaran masyarakat dunia, atas ketidakpastian keadaan darurat pandemi saat ini. Keilmuan yang sepatutnya dimengerti dengan keterbukaan perspektif serta nurani.

Seperti pengistilahan lockdown yang kini menjadi histeria tersendiri, kemudian melengkapi sejarah epidemi hampir di seluruh negeri. Para pekerja yang memindahkan tugas dan pekerjaannya ke rumah, dengan sebutan khas WFH (Work From Home) yang tak pun asing lagi di telinga. Begitupun para pelajar atau mahasiswa yang harus mengurungkan euforia minat belajar mereka, dengan membawanya pulang—sebagai Take Home Activity.

Tak tampak lagi kegembiraan dan interaksi bebas menjamur di sudut ingar-bingar padatnya aktivitas kota. Keluhan, kejenuhan, bahkan ketakutan masih menjadi tantangan besar atas keadaan diri yang tak terbantahkan.

Sebuah konsep keadaan yang semestinya masih dapat dihidupkan dengan penuh kesadaran dan penerimaan yang lapang. Menumbuhkan tindakan-tindakan yang masih dapat menghiburkan, walaupun minus interaksi yang kini masih kita rasakan. Seperti membuat terobosan-terobosan terkini mengenai hal  bernuansa digitisasi terjangkau, sehingga masih dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Konsep-konsep terbarukan mengenai bagaimana seluruh komponen masyarakat, akan mampu menikmati hadirnya program tersebut. Baik sebagai media pembelajaran, penghiburan, maupun kebutuhan-kebutuhan pada kapasitas dan area penting lainnya.

Kondisi pandemi yang tak seharusnya malah menambah keterpurukan diri, kemudian akan memengaruhi kesimbangan psikologi. Saatnya kita, mulai mempelajari dan memahami keadaan dunia dengan lebih bijaksana. Memberanikan diri dan menghadapi, bahwa manusia masih dapat berkutat bersama aktivitasnya dengan konsep yang lebih sistematis pada nantinya.

Pandemi bukanlah sebuah negeri fantasi yang penuh dengan pemikiran dan konsep-konsep khayali. Ia adalah bagian dari proses terbentuknya struktur fase bumi, dalam mengimbangi tumbuh dan lahirnya manusia itu sendiri.

Sebuah penerimaan masyarakat dunia, bahwa kesehatan jiwa adalah kehadiran penting dalam  mekanisme tumbuh dan berkembangnya manusia. Ilmu jiwa, yang kini mulai mendapat tempat di hati dan menjadi pandangan penting dunia.