Di masa pandemi virus Covid-19, tak jarang kita mendapat kabar naiknya angka harian kasus positif Covid-19. Hal tersebut membuat kita merasa parno dan takut untuk bepergian ke luar rumah. Takut apabila bertemu dengan banyak orang, kita akan terinfeksi oleh virus Covid-19.

Untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19, maka diberikanlah vaksin Covid-19. Fungsinya adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh, serta mencegah mutasi baru dari virus Covid-19. Vaksin yang diberikan kepada masyarakat telah diuji oleh para ahli, sehingga sudah dipastikan bahwa kandungan dari vaksin tersebut aman dan berkhasiat.

Pemberian vaksin Covid-19 membawa bukti yang nyata, yaitu berhasil menurunkan angka kasus positif yang menunjukkan bahwa vaksin tersebut efektif dan aman bagi masyarakat. Meski telah vaksin, pemerintah tetap memberikan himbauan kepada masyarakat untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya dengan menerapkan protokol kesehatan. 

Kendati demikian, ternyata masih banyak orang yang memilih untuk tetap mengisolasi diri di rumahnya. Mereka lebih percaya bahwa rumah adalah tempat teraman dan jauh dari ancaman virus. 

Saat sedang menjalani isolasi di rumah, sering kali orang-orang dilanda rasa bosan dan kesepian karena kegiatan yang dilakukan hanya itu-itu saja. Kurangnya aktivitas fisik dan interaksi sosial juga dapat memicu rasa kejenuhan.

Pandemi yang tak kunjung henti ini membuat orang yang stay at home mengalami stres. Jika hal tersebut terus terjadi, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya.

Di masa pandemi, pemerintah memberikan program alternatif kepada pelajar dengan dilakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ). PJJ dilakukan demi mengurangi tingkatan kasus positif Covid-19.

Tetapi, program PJJ ternyata memberikan feedback yang tak mengenakan. PJJ dinilai kurang efektif karena pembelajaran dilakukan serba sendiri, dan banyaknya hambatan yang harus dihadapi. Terlebih, para pelajar merasa bosan dan stres karena tidak memiliki teman untuk diajak berdiskusi atau sekadar mengobrol.

Untuk mengisi kekosongan dan kebosanan, banyak pelajar yang melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan yang dilakukan yaitu seperti marathon drama atau film, membaca buku, memasak atau hanya tidur sepanjang hari.

Nah, bagi sebagian pelajar seperti saya, kegiatan yang dilakukan untuk mengisi kebosanan tersebut adalah dengan fangirling. Menurut beberapa sumber, fangirling itu bisa dikatakan sebagai kegiatan para penggemar perempuan untuk memenuhi hasratnya dengan mengonsumsi produk yang diberikan oleh idolanya, atau sekadar untuk mengisi waktu luang.

Kegiatan fangirling ini ada berbagai macam, dimulai dari menonton video musik (MV), mendengarkan lagu, serta menonton konten hiburan yang disajikan oleh masing-masing idola. Fangirl ada berbagai macam, seperti fangirl K-pop, K-drama, West pop, Thai series, dan sebagainya. 

Di masa pandemi seperti ini, saya sering mendapati munculnya penggemar K-pop baru. Hal tersebut bisa saja terjadi apabila algoritma media sosial mereka memunculkan tayangan dari berbagai acara Korea, sehingga hal tersebut dapat menarik perhatian para ‘muggles’ untuk mencari lebih dalam mengenai acara hiburan Korea.

Merebaknya Korean Wave di masa pandemi ini memunculkan banyak penggemar baru. Dengan respon yang baik, banyak agensi di industri hiburan Korea yang semakin gencar untuk melakukan promosi bagi artis-artisnya. Hal tersebut dilakukan agar dapat menarik penggemar yang lebih banyak lagi. 

Dengan banyaknya promosi, para penggemar turut merasa senang, karena mereka akan mendapatkan kesempatan yang lebih banyak untuk melihat idolanya, walaupun hanya bertemu via layar handphone.

Ketika menjadi fangirl K-pop, banyak hal baru yang saya dapati. Saya mendapatkan banyak kenalan baru, mulai dari yang satu daerah hingga berbeda negara. Saya juga mempelajari budaya dan bahasa baru, mulai dari budaya Korea, hingga budaya negara lain yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Keren, kan?. 

K-pop membuat saya menjadi lebih menghargai keberagaman dan kebersamaan. Dengan kegiatan fangirling yang menyenangkan seperti itu, hari-hari di masa pandemi menjadi jauh lebih berwarna dan terhindar dari rasa bosan.

K-pop juga mengajarkan saya untuk mencintai diri saya sendiri dan lebih menghargai waktu. Mengetahui para idola K-pop yang berjuang keras hingga sampai di titik yang seperti sekarang, mendorong saya untuk bersemangat dalam memperjuangkan mimpi-mimpi yang belum tergapai.

Kemudian, hal terpenting yang saya pelajari saat menjadi fangirl adalah K-pop mengajarkan kita untuk tidak boros. Kita harus mengumpulkan uang demi mendapatkan apa yang diinginkan atau dicapai. Itu penting banget, lho!. Terlebih dengan melihat keadaan ekonomi di masa pandemi yang serba sulit ini.

Namun, perlu diketahui juga dengan merebaknya K-Wave ini ternyata menimbulkan dampak negatif, seperti  membuat para penggemar menjadi adiktif dan konsumtif. Tak jarang K-pop membuat para penggemar menjadi ketergantungan. 

Jangan sampai K-pop membuat kita lupa akan budaya sendiri. Kita harus mengkontrol diri kita agar terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan. Ingat ya teman-teman, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.