Sepakbola merupakan cabang olahraga paling populer dan paling  digemari oleh banyak orang di seluruh dunia. “Beautiful Game” merupakan salah satu julukan bagi olahraga satu ini karena banyaknya keindahan yang terjadi dalam sebuah pertandingan.

Bagi sebagian orang, menonton pertandingan sepakbola menjadi suatu penghibur dikala suasana hati sedang sedih, dan menjadi penyemangat dikala tim favorit meraih kemenangan.

Selain itu, sepakbola juga menyuguhkan permainan memukau yang dapat membuat penontonya berdecak kagum seperti permainan taktik tiki-taka ala Pep Guardiola, Gegenpressing Jurgen Klopp, Jogo bonito Timnas Brazil dan masih banyak lagi.

Sepak bola juga dapat menyatukan berbagai perbedaan yang ada. Contohnya kita bisa lihat ketika Tim nasional Indonesia berlaga, hampir semua orang di Indonesia sangat antusias untuk menyaksikan jalanya petandingan walaupun hanya lewat layar kaca.

Berbagai orang dengan perbedaan latar belakang suku, budaya, agama, usia bersatu untuk mendukung aksi punggawa garuda berlaga.

Namun, akhir-akhir ini keindahan permainan sepakbola mulai terancam dengan banyaknya orang-orang kaya yang membeli sebuah klub sepakbola. Mereka hanya membeli klub tanpa murni memiliki kecintaan pada olahraga ini. Bisa jadi, mereka hanya menjadikan sepakbola hanya sebagai ajang untuk mendongkrak popularitas semata.

Fenomena Maraknya Orang Kaya Membeli Klub Bola

Fenomena orang kaya yang membeli suatu klub sepakbola sebenarnya sudah terjadi sejaklama. Paris Saint Germain dan Manchester City adalah contoh klub yang dimiliki oleh orang kaya. PSG dan Man City merupakan klub yang dibeli oleh pengusaha asal arab.

Bos PSG Nasser Al-Khelaifi adalah konglomerat asal arab pemilik Qatar Sport Investment (QSi). Ia mengakuisisi klub PSG pada tahun 2011 dan menjadikan klub tersebut sebagai salah satu klub dengan kekuatan finansial terbesar di dunia.

Sedangkan Manchester City adalah klub yang dimiliki oleh Sheikh Mansour. Sheikh Mansour merupakan pebisnis paling berpengaruh di timur tengah. Singat cerita, Pada tahun 2008 dia membeli Manchester City lewat Abu Dhabi United group yang salah satu pemiliknya adalah Sheikh Mansour sendiri. Pembelian tersebut kini sukses menjadikan Manchester City sebagai salah satu klub terkuat di liga Premier Inggris.

Di Indonesia, fenomena orang kaya membeli sebuah klub baru marak terjadi akhir-akhir ini. Diawali dengan akuisisi sebuah klub sepakbola oleh beberapa public figure. Mulai dari artis papan atas seperti Rafi Ahmad, Atta Halilintar sampai pengusaha seperti Rudy Salim dan Gilang juragan99.

Raffi Ahmad merupakan artis papan atas Indonesia yang namanya sudah malang melintang di dunia entertain Indonesia. Sementara Rudy Salim merupakan seorang pengusaha. Keduanya dikenal bersahabat dekat, lalu bersama-sama membangun klub sepakbola RANS Cilegon FC.

Fenomena banyaknya artis dan orang kaya yang membeli klub sepakbola membuat saya dan para fans sepakbola lain menjadi resah dan berburuk sangka. Keresahan itu menjadi hal yang wajar jika artis-artis yang mengakuisisi klub sepak bola ini dianggap ikut-ikutan dan hanya memanfaatkan sepakbola untuk meningkatkan engagement mereka saja

Bisa dikatakan, para artis dan orang-orang kaya yang membeli klub sepakbola bukan berarti mereka benar-benar memiliki rasa cinta pada sepakbola. Sepakbola hanya dijadikan sebagai ladang bisnis dan  menjadi alat untuk meningkatkan eksistensi semata.

Sebagai fans yang benar-benar mencintai dan menikmati sepakbola, kita tentunya tidak ingin hal tersebut terjadi. Sangat disayangkan apabila permainan yang indah ini hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya mencari eksistensi dan keuntungan tanpa murni memiliki kesukaan dan rasa cinta pada sepakbola.

Rusaknya Citra Sepakbola

Beberapa waktu lalu tentunya kita masih ingat akan wacana adanya kompetisi European Super League atau Liga Super Eropa di benua Eropa. Kompetisi ini kabarnya dianggap sebagai kompetisi tandingan dari Liga Champions.

Kompetisi ini rencananya hanya akan diikuti oleh 12 klub raksasa di benua biru. Hal tersebut membuat klub-klub lain di eropa tidak dapat mengikuti kompetisi ini.

Banyak fans dari berbagai klub diseluruh penjuru dunia menentang adanya ide kompetisi tersebut. Kompetisi ini dianggap hanya ide serakah dari para pemilik klub-klub besar dan hanya akan menguntungkan klub-klub besar saja. Hal tersebut tentunya merusak citra sepakbola sebagai olahraga paling banyak digemari.

Sepakbola Bukan Hanya Tentang Uang

Kekhawatiran dan keresahan saya akan rusaknya citra sepakbola menjadi sedikit berkurang tatkala teringat bahwa sepakbola adalah permainan yang mempertaruhkan skill di atas lapangan, bukan tentang siapa yang memiliki banyak uang untuk memenangkan laga. Besaran uang yang dimiliki orang-orang kaya tidak menjamin untuk bisa meraih segala hal yang diinginkan di sepakbola.

Contohnya kita bisa lihat klub Paris Saint Germain yang sangat berambisi untuk bisa meraih gelar Liga Champions. Berbagai cara dilakukan oleh PSG untuk dapat meraih gelar prestisius tersebut. Di awal musim 2021/2022, PSG menggelontorkan banyak uang untuk merekrut pemain bintang.

Mulai dari Lionel Messi yang memiliki 7 gelar balon d’Or, Gianluigi Donnarumma pemenang yashin trophy, hingga Sergio Ramos. Dengan skuad mewah yang dimilikinya, PSG di gadang-gadang menjadi kandidat kuat untuk bisa menjuarai liga champions musim ini.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Perjalanan PSG di liga champions musim ini hanya mentok di babak 16 besar. Mereka harus mengakui kekalahan dari Real Madrid dengan skor agregat 2-3.

Hal tersebut merupakan salah satu bukti bahwa di sepakbola, kemewahan yang dimiliki tidak dapat memberikan segala sesuatu yang diinginkan.  Sebesar apapun harta, kekuasaan, ataupun jabatan yang kau miliki, tidak menjamin untuk membuatmu bisa meraih segala keinginan di sepakbola.

Kau bisa membeli klub, membeli pemain mahal, membangun fasilitas mewah dan stadion yang megah. Akan tetapi gelar juara dan seluruh cerita panjang sejarah tidak akan bisa  dibeli walaupun kau memiliki segalanya.

Sepakbola adalah permainan paling indah yang pernah ada. Sepakbola akan terus hidup pada setiap zaman dan akan tetap indah untuk ditonton dan dimainkan. Jangan sampai permainan ini dicemari dengan niat buruk oleh orang-orang yang tidak mempunyai cinta sama sekali di sepakbola serta hanya mencari kepentingan pribadi dibalik permainan yang indah ini.