Demam Piala Eropa 2020 sedang melanda pecinta sepakbola diseluruh dunia, khususnya negara-negara Eropa yang ikut berkompetisi di turnamen akbar di benua biru tersebut.

Pandemi covid-19 sempat membuat Piala Eropa ditunda dan baru dilaksanakan di tahun 2021. Kondisi negara Eropa yang sudah bisa mengatasi covid-19 membuat suporter sudah diperbolehkan menonton di stadion.

Piala Eropa 2020 diikuti oleh 24 Negara yang terbagi dalam 6 grub. Tim-tim besar Eropa seperti : Prancis, Portugal, Belgia, Belanda, Italia, Inggris, Jerman, hingga Spanyol tetap menjadi unggulan di turnamen akbar benua biru itu.

Euforia Piala Eropa 2020 pun melanda masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Maluku. Masyarakat Maluku memang sejak lama fanatik mendukung Timnas Belanda. Ternyata, fanatiknya masyarakat Maluku mendukung Timnas Belanda punya sejarah yang sangat panjang.

Suporter Fanatik Belanda diluar Eropa

Belanda kembali tampil di turnamen besar setelah absen di Piala Dunia 2018. Tim Oranje sukses merajai Grub C dengan poin sempurna di tiga laga. 

Memphis Depay dkk sukses mengalahkan Ukraina, Austria, dan Makedonia Utara. Hasil itu membuat Belanda sukses melau ke babak 16 besar dan berpeluang juara walau tanpa bek andalan mereka, Virgil Van Dijk.

Kesuksesan Belanda melaju ke babak 16 besar Piala Eropa 2020 ikut dirayakan oleh suporter mereka di Maluku. Suporter Belanda di Maluku selalu melakukan pawai jika Belanda bermain, tak peduli menang ataupun kalah.

Saat Belanda mencetak gol, bunyi tiang listrik selalu berbunyi di kampung-kampung sebagai tanda merayakan gol Timnas Belanda. Antusiasme masyarakat Maluku dalam mendukung Belanda tak akan kalian temui di daerah Indonesia lainnya.

Sayang, langkah Belanda harus terhenti di babak 16 besar. Secara mengejutkan, pasukan Frank De Boer harus disingkirkan oleh Republik Ceko dengan skor 2-0. Namun, tersingkirnya Belanda di Piala Eropa 2020 tak membuat antusiasme masyarakat Maluku memudar. Mereka tetap bangga dengan rame-rame mengunggah foto memakai jersey Timnas Belanda di media sosial.

Ikatan Emosional Maluku-Belanda

Fanatiknya masyarakat Maluku dalam mendukung Belanda bukan tanpa alasan. Hal tersebut dilatar belakangi ikatan emosional yang kuat antara masyarakat Maluku dan Belanda.

Seperti kita ketahui, Indonesia merupakan daerah koloni Belanda di masa penjajahan. Masyarakat Maluku sejak dulu dipercaya pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk bekerja sebagai KNIL (Tentara Hindia Belanda).

Menurut catatan Capt. R.P. Suyono dalam bukunya yang berjudul Peperangan Kerajaan di Nusantara, masyarakat Maluku masuk dalam kompi kedua KNIL yang bertugas menjadi pasukan penggempur yang bertugas melibas musuh. Pasukan KNIL yang berasal dari Maluku juga mendapatkan gaji lebih besar daripada pasukan KNIL dari daerah lainnya di Hindia Belanda waktu itu.

Masyarakat Maluku sangat dipercaya oleh Belanda karena loyalitasnya dan keberaniannya yang menonjol dibandingkan suku lain di Indonesia saat masa penjajahan. Mereka pun dijuluki sebagai “Black Dutch People atau Orang Belanda Hitam”.

Setelah Indonesia merdeka, sebanyak 12.578 orang Maluku memilih pindah ke Belanda di tahun 1951. Mereka adalah bekas tentara KNIL dan sebagian masyarakat Maluku yang menolak bergabung dengan Republik Indonesia dan memilih mendirikan negara Republik Maluku Selatan di tahun 1950.

Akhirnya banyak masyarakat Maluku yang memilih menjadi warga negara Belanda dan sebagian besar masih memperjuangkan negara Republik Maluku Selatan dalam pengasingan. Hal itu membuat ikatan emosional masyarakat Maluku begitu kuat karena banyak kerabatnya yang tinggal di Belanda.

Banyak Pemain Belanda Keturunan Maluku

Ternyata banyak masyarakat keturunan Maluku yang menjadi pesepakbola di Belanda. Ada nama Ruud Gullit, Giovanni van Bronckhorst, Nigel de Jong, hingga Kevin Diks.

Para pemain keturunan Maluku tersebut menjadi andalan bagi Timnas Belanda di eranya masing-masing. Ruud Gullit sukses membawa Belanda juara Piala Eropa 1988, sedangkan Giovanni dan Nigel sukses membawa Belanda menjadi runner-up Piala Dunia 2010.

Ruud Gullit sendiri mempunyai ayah bernama George Gullit yang masih mempenyai keturunan Maluku. Dia merupakan salah satu pemain Belanda tersukses yang memenangkan Liga Champions dan Piala Eropa. Ruud Gullit juga pernah mengunjungi Maluku pada tahun 2015 atas undangan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy.

Hampir setiap edisi Piala Dunia, pemain Belanda berketurunan Maluku selalu menyelip dalam skuad Timnas Belanda. Dari era Izaak Pattiwael, Hans Taihitu, Frans Hukom, Simon Tahamatta, Sony Silooy, Piere van Hooijdonk, dan yang paling cukup dikenal adalah Nigel De Jong dan Giovanni Van Bronchorst. Mereka berdua adalah bintang tim nasional Belanda yang berlaga pada Piala Dunia 2010.

Giovanni Van Bronchorst lahir dari pasangan orang tua Victor van Bronckhorst, yang blasteran Indonesia-Belanda, serta Fransien Sapulette yang asli Saparua, Maluku.

Mantan bek kiri Barcelona ini masih bisa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan aksen Indonesia Timur. Selama membela Timnas Belanda , ia sudah memiliki caps 106 plus enam gol.

Stok pemain muda berbakat Belanda juga seolah tak ada habisnya. Pemain muda Belanda keturunan Maluku pun akan menjadi masa depan Timnas Belanda , seperti Tristan Goijer, Sinjo Leninduan, Godfried Roemeratoe.

Selain itu, ada pemain Belanda keturunan Maluku yang memilih memperkuat Timnas Indonesia. Ada nama Stefano Lilippally dan Sergio Van Dijk yang pernah memperkuat Timnas Indonesia. Stefano Lilipally juga bermain di liga Indonesia dengan memperkuat Bali United, sedangkan Sergio Van Dijk pernah memperkuat Persib Bandung.

Kecintaan Masyarakat Maluku terhadap sepakbola memang tinggi. Percayalah, fanatiknya masyarakat Maluku mendukung Timnas Belanda tak akan kalian jumpai di luar Belanda. Datang saja ke Kota Ambon untuk melihatnya saat Piala Dunia dan Piala Eropa.