Penerjemah
1 tahun lalu · 249 view · 5 menit baca · Agama 92564_77723.jpg
Dokumen Pribadi

Fanatisme Agama, Fanatisme Tanpa Dialog

Ketika mendiskusikan agama, kita tidak bisa mengesampingkan fanatisme agama. Kefanatikan agama dimengerti dan diimani secara luas oleh para penganut masing-masing agama. Beberapa penganut agama merasa mengimani apa yang mereka percaya dengan secukupnya, akan tetapi, banyak diantara penganut lainnya yang sangat mencintai keyakinan yang dipeluknya.

Wacana mengenai fanatisme dan ekstremisme muncul pasca peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat. Akan tetapi, sangat tidak adil jikalau kita menggeneralisir bahwa saudara Muslim kita, apakah seorang fundamentalis, ekstremis, atau teroris tanpa mengetahui bagaimana membedakan apa yang mereka anut selama ini. Tulisan ini membahas dua topik, pertama, dua bentuk fanatisme, yang adalah fundamentalisme dan ekstremisme, dan yang kedua, ekstremisme di Indonesia.

Sebenarnya, fundamentalisme dan penggunaannya muncul pada konteks agama-agama Kristen yang mengacu pada sejarah Amerika pada masa awal abad ke dua puluh untuk mempromosikan adanya pandangan terhadap ajaran Kristiani yang tidak dapat ditawar-tawar (Pratt, 2006: 2). Acuan fundamentalisme tersebut mengarah pada penganut Kristen Baptis di wilayah bagian Selatan, yang tidak hanya menjaga teologi Reformasi tetap hidup (Unnever & Cullen, 2006: 1), yang mana penganut Kristiani tidak hanya mengimani dalam hati saja, tetapi juga harus menjaga sekaligus memelihara nilai-nilai moral dan bersikap relijius untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka adalah penganut Kristen yang mereformasi.

Fundamentalisme merupakan bisa dikatakan sebagai perspektif religio politik karena fundamentalisme ada di semua agama di dunia (Unnever & Cullen, 2006: 1), seperti pada agama Yudaisme, Kristen, dan Islam. Oleh karena itu, bisa disimpulkan kalau setiap penganut agama adalah seorang fundamentalis. Semua penganut agama menjadi fundamentalis karena apa yang mereka percayai mengenai agama mereka.

Para fundamentalis itu dipengaruhi oleh budaya dan negara dimana mereka tinggal, sehingga bisa dikatakan bahwa setiap penganut agama memiliki pengertian yang tertanam dalam pikiran dan hati sanubari mereka. Muslim yang tinggal di Afrika belum tentu sepaham dengan saudara seiman mereka yang berada di belahan Timur Tengah.

Karena fundamentalisme menjadi akar bagi fanatisme, hal itu bisa menjadikan para penganut, entah menjadi ekstremis atau penganut agama yang lebih moderat. Jadi, bisa dikatakan bahwa fundamentalisme merupakan akar dari ekstrimisme (Unnever & Cullen, 2006: 1). Seorang ekstremis biasanya memilih jalan kekerasan untuk memaksakan apa yang mereka percayai pada orang lain. Kadang kita mendengar berita bahwa mereka melakukan pembajakan pesawat dan meledakkan bangunan seperti hotel dan fasilitas umum yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Para ekstremis dengan rela melakukannya meskipun harus mengorbankan nyawa mereka. Tak heran apabila banyak sekali kasus bom bunuh diri. Bunuh diri, dalam perspektif awam, merupakan tindakan konyol dan sia-sia, akan tetapi dalam pemahaman mereka, mengorbankan diri sendiri dengan memakai bom adalah sebuah tindakan martir, dimana mereka akan diganjar dengan surga. Ekstremis memercayai akan kebenaran tunggal dalam agama yang dipeluknya.

Mereka juga tidak merasa perlu membangun dialog antar golongan atau dengan pemeluk agama lain untuk menciptakan toleransi dan perdamaian. Malah, ekstremis memercayai bahwa Kitab secara teks tanpa mempertimbangkan konteks pendukung lain, seperti pendekatan sosiologi, sejarah, dan hukum. Mereka percaya bahwa umat manusia telah keluar jalur dari yang diajarkan, sehingga para ekstremis ini merasa harus meluruskan kembali jalan umat manusia yang bengkok. Akibatnya, mereka cenderung menghakimi orang lain dengan mudahnya. Mereka menginginkan umat manusia kembali ke jalan yang benar untuk menyenangkan hati Tuhan.

Tujuan ekstremis adalah untuk menghapuskan nilai-nilai yang mereka pandang tidak baik yang dapat merusak moral masyarakat. Mereka percaya dengan melakukan tindakan-tindakan untuk menegakkan syariat, maka mereka sedang memperjuangkan jihad. Kendati demikian, jihad dapat dilakukan untuk kemanusiaan dalam arti yang luas, seperti mengentaskan kemiskinan, melawan ketidakadilan gender, dan memperjuangkan pendidikan bagi kaum difabel.

Kasus di Yogyakarta beberapa waktu lalu mengenai Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang digagas oleh Pdt. Stephen Tong, yang sejatinya digelar di Stadion Kridosono pada tanggal 20 Oktober 2017 dibatalkan sepihak oleh pengelola stadion PT Anindya Mitra Internasional atas desakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi massa Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI). Pihak Stadion Kridosono membatalkan sepihak pada tanggal 12 Oktober atau delapan hari sebelum pelaksanaan dengan alasan keamanan Yogyakarta sedang tidak kondusif. 

Kasus diatas hanyalah salah satu contoh dari kekerasaan yang harus dialami oleh salah satu agama yang diakui oleh Negara Indonesia. Belum kepada pemeluk agama yang lainnya. Keberadaan ekstremis memang meresahkan karena mereka memang tidak segan untuk berbuat sesuatu yang destruktif dengan memandang kaum lain secara tidak proporsional.

Dalam Islam, ada sebuah istilah yang disebut ghuluw. Afroni mengkaji persoalan ghuluw sebagai benih ekstrimisme dalam beragama Islam. Menurut Afroni, “Secara etimologi, ghuluw berarti berlebih-lebihan dalam sebuah perkara …. Beberapa sikap yang dapat dikategorikan sebagai ghuluw adalah fanatik terhadap suatu pandangan tertentu, berprasangka buruk terhadap orang/kelompok lain dan bahkan bisa mengkafirkan orang lain.” (Afroni, 2016: 70) Prasangka buruk yang dilakukan terus menerus tidak akan membuahkan toleransi, malah hanya akan memercikkan kobaran kebencian kepada pemeluk agama lain. Selain itu, perdamaian akan sulit dicapai apabila ghuluw ini masih dilakukan.

Sikap ghuluw sudah terjadi sejak dahulu karena berbagai faktor, antara lain karena faktor geografis dan sosial politik. Umat Muslim, terutama dari Suku Badui Arab hidup di tanah tandus dan padang pasir yang gersang. Lingkungan yang keras menuntut mereka menjadi orang yang keras, tidak mudah menyerah, sekaligus tidak terbiasa melihat perbedaan, bahkan pola pikir mereka bisa dikatakan sederhana. (Afroni, 2016: 83).

Keadaan sosial politik yang karut marut di negara-negara Muslim, hilangnya prinsip-prinsip agama, dan pandangan dunia Barat terhadap Islam, membuat para ekstrimis ingin mengembalikan nilai-nilai Islam seperti semula. Mereka ingin memurnikan kembali ajaran-ajaran Islam seperti zaman Nabi. Para ekstrimis ini menjadikan negara-negara Arab, Pakistan, Afghanistan sebagai tolok ukur keimanan, padahal Indonesia sangat berbeda dari mereka.   

Mayoritas penduduk atau umat beragama Islam tidak lagi berada di Jazirah Arab. Islam telah menyebar ke seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Indonesia adalah negara dengan multikultur. Negara ini dipersatukan dari beragamnya suku daerah, budaya, etos kerja, latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda, dan lainnya. Islam pada abad-abad yang lalu tentu berbeda dengan Islam pada saat ini, bahkan dengan tantangan permasalahan yang berbeda pula. Dalam perjalanannya, ada nilai-nilai keislaman yang berproses dengan keyakinan lain untuk melahirkan toleransi dan perdamaian yang juga menjadi salah satu pilar untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga, intoleransi para ekstremis sebenarnya tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa dibiarkan terjadi kepada siapapun juga di Indonesia.  

  

DAFTAR PUSTAKA

Afroni, Sihabuddin. “Makna Ghuluw dalam Islam: Benih Ekstrimisme Beragama.” Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya, 1.1 (2016): 70-85. (https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/index) Diakses 3 Februari 2018

Unnever, James D and Cullen, Francis T. “Christian Fundamentalism and Support for Capital Punishment.” Journal of Research in Crime and Delinquency, 43 (2006): 169-197. (journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0022427805280067) Diakses 30 Januari 2018

Pratt, Douglass. “Terrorism and Religious Fundamentalism: Prospects for a Predictive Paradigm.” Marburg Journal of Religion, 11.1 (2006):1-15. (www.uni-marburg.de/fb03/ivk/mjr/pdfs/2006/articles/pratt2006.pdf) Diakses 1 Februari 2018

BBC Indonesia. “Dituding Murtad, Kebaktian Nasrani di Yogyakarta dibatalkan.” 20 Oktober 2017. (http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41695336) Diakses 4 Februari 2017.

Tribunnews.com. “Panitia Kecewa Kebaktian Nasional di Yogyakarta Dibatalkan Sepihak.” 20 Oktober 2017. (https://www.google.com/search?q=Tribunnews.com.+%E2%80%9CPanitia+Kecewa+Kebaktian+Nasional+di+Yogyakarta+Dibatalkan+Sepihak.%E2%80%9D&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab) Diakses 4 Februari 2017.

Artikel Terkait