Dua bulan lalu, saya dan dua karib saya (King Sugi dan King Ilung) ngopi sembari ngobrol ngalor-ngidul di warung makan milik nenek kami di Yogyakarta. Sebenarnya bukan nenek kandung kami sih, namun mahasiswa-mahasiswa yang sedang atau pernah tinggal di kos-kosan miliknya menganggapnya seperti nenek sendiri. Karena sikapnya yang baik dan penuh perhatian dengan para penghuni kos.

Dalam obrolan yang kopistik itu, King Ilung tiba-tiba nyeletuk, “Ayo nanti malam ke kedai kopi, sambil melihat orang-orang yang sesekali fanā’ di hadapan gawai.” Saya dan King Sugi langsung tertawa. Kami berdua paham apa yang dimaksud oleh King Ilung. 

Setelah saya selesai tertawa, saya menambahi, “Orang-orang yang fanā’ di jalan online, termasuk kita ini, haha..” Lalu King Sugi ikut berkomentar singkat, “Bettool! Kami bertiga pun tertawa terkekek-kekek.  

Obrolan kami tentang orang-orang yang sesekali fanā’ di jalan online itu sebenarnya hanya gurauan, yang kami sendiri tidak meyakininya sebagai fenomena nyata. Tapi kemudian saya iseng-iseng memikirkannya dengan—pura-pura—sedikit serius.

Apakah ada, fanā’ di jalan online? Bukankah fanā’ dan online merupakan dua kata yang paradoks, bahkan keduanya memiliki pengertian yang saling kontradiktif? Fanā’ berarti lenyap, hilang, hancur, mati dan sebagainya. 

Sedangkan online merupakan tanda dan status seseorang sedang terhubung dengan jaringan internet atau dunia maya. Terhubungnya seseorang dengan dunia maya menandakan dia sedang hidup dan eksis di dalamnya.

Lalu apakah benar ada, fanā’ di jalan online? Atau lebih khususnya, adakah manusia yang mengalami fanā’ di jalan online? Mari kita tengok keseharian kita. Bisa jadi kita memang mengalaminya

Sejak kemajuan teknologi digital, jaringan internet memberikan perubahan besar dalam tatanan hidup manusia zaman kiwari, terutama dalam relasi sosial. Jaringan internet memberkati manusia dengan memberikan ruang terbuka untuk berkomunikasi dengan siapa pun tanpa batas, bahkan dengan orang yang belum pernah bertemu secara fisik vis a vis. kalaupun ada batas limit, batas limit itu hanya berupa kuota, itu pun masih mudah diatasi dengan membeli tambahan kuota atau memburu free wifi.

—Jadi teringat beberapa kisah cinta dua anak manusia (+ dan -) yang belum pernah bertemu secara langsung, namun mereka disahkan telah bertemu oleh nilai-nilai luhur dan kitab undang-undang digital, kemudian menjalin kasih (jadian) melalui komunikasi chatting. Hingga hubungan kasih mereka ambyar, mereka pun tidak pernah bertemu. Ambyar secara online.— 

Dalam tatanan hidup yang diberkati oleh jaringan internet, relasi sosial manusia menemukan bentuknya yang baru, yaitu relasi sosial online. Bentuk baru ini, kemudian menetapkan istilah baru pula untuk bentuk relasi sosial yang lama, yaitu relasi sosial offline. 

Bentuk relasi sosial yang baru juga merubah pola komunikasi manusia zaman ini, di mana mereka lebih cenderung berkomunikasi secara online. Meskipun pada praktiknya, relasi sosial online tetap saling bertautan dengan relasi sosial offline, dalam arti keduanya tidak terpisahkan.

Kecenderungan tersebut bisa kita lihat—salah satunya—pada pola perkenalan pertemanan dengan saling meminta nomor WhatsApp, akun Line, Facebook, Instagram, Twitter atau lainnya. Setelah saling menyimpan nomor, nge-add, atau mem-follow akun masing-masing, maka akad (ijab kabul) perkenalan menjadi sah sebagai relasi pertemanan. Setelah itu, manusia memasuki pola komunikasi dunia maya dengan berbagai macam hiruk pikuk yang melingkupinya.

Kecenderungan terhadap pola online initidak hanya terjadi dalam hubungan komunikasi antara manusia dengan manusia lainnya. Melainkan terjadi pula pada lini-lini lain dari kehidupan manusia, yang tentunya meniscayakan manfaat bagi manusia itu sendiri [di samping meniscayakan dampak non positif]. 

Manfaat itu bisa kita lihat—di antaranya—pada lapak-lapak jual-beli online yang ikut membantu pertumbuhan ekonomipada informasi berita online yang bisa diakses secara cepat, dan urusan administrasi online yang praktis serta efektif. Oleh karena itu, online merupakan gerak perubahan.

Namun di sisi yang berbeda, online menjadi semacam jalan menuju dimensi lain. Ketika seorang netizen memainkan gawainya dan tersambung dengan jaringan internet, raganya secara faktual masih eksis di tempat dia memegang gawai, tapi kesadarannya eksis di realitas lain, yaitu realitas maya. 

Berarti, pada saat dia online, kesadarannya tidak eksis di realitas offline. Hal itu ditandai dengan berhentinya interaksi dia dengan benda-benda di sekitarnya selain gawai. Karena pada saat itu, keterpautan kesadarannya dengan realitas offline terputus. Dalam arti lain, dia sedang mengalami kondisi fanā’. Tentu bukan fanā’ dalam pengertian yang sufistik. Melainkan fanā’ sebagai kondisi ketiadaan kesadaran dalam realitas offline. 

Kondisi ketiadaan kesadaran tersebut kadang termanifestasikan dalam bentuk diam, tertawa dan senyum-senyum sendiri di hadapan gawai, atau dalam bentuk umpatan nyaring seperti “Cuk, Jingan, Jinguk, Jangkrik, Sikak, Celes, Kadal Kurap, Tembelek Kuda, Kelek Tengu…” saat kalah main game online atau kesal karena pacar tidak lekas membaca dan membalas pesan WhatsApp, padahal status akunnya terlihat online.

Reaksi dan ucapan semacam itu, muncul spontan dari diri netizen tanpa dia menyadari secara utuh realitas offline di sekitarnya. Ya, semacam syathahāt (celoteh-celoteh spontan) para netizen lah... Jika para sufi mengucapkan syathahāt sufistik, maka para netizen mengucapkan syathahāt sibernetik.

Pada faktanya, online memang bukan sekadar tanda terhubungnya seseorang dengan jaringan internet. Online juga merupakan kondisi lenyapnya kesadaran pikiran seseorang dari realitas offline, karena kesadarannya telah masuk ke dalam realitas online dan menyatu dengan dunia yang diciptakan—secara imanen—oleh teknologi cyber. Dalam hal ini, teknologi cyber merupakan yang absolut. 

Bisa dikatakan juga, online adalah kondisi penyatuan sekaligus titik temu para netizen. Ketika mereka mengaktifkan status onlinemereka mengalami keterhubungan satu sama lain. Keterhubungan ini meniscayakan kesadaran mereka menyatu dengan teknologi cyber sebagai yang absolutal-Mutlaq atau the absolute truth dalam dunia maya

Mengapa teknologi cyber sebagai yang absolut? Bagaimana tidak absolut, sementara beberapa waktu lalu kita melihat para netizen ambyar milenial berhasil membangkitkan kembali Didi Kempot dan lagu-lagunya yang lawas, lalu mengangkat dia sebagai “Lord” mereka. 

Dengan begitu, mereka mampu meyubilmasi patah hati menjadi perayaan yang asik. Sehingga terbebas dari risiko gila gara-gara ambyar. Itu salah satu sisi non negatif dari keabsolutan teknologi cyber. 

Sisi non positifnya; bagaimana teknologi cyber tidak absolut, jika isu, opini dan berita yang berseliweran secara bebas di media sosial yang belum tervalidasi kebenarannya sering dianggap sebagai kebenaran absolut

Lantas, apakah semua penjelasan ini mengafirmasi celetukan King Ilung tentang orang-orang yang sesekali fanā’ di hadapan gawai? Jawabannya ada dalam ungkapan ilmu mantik tentang definisi manusia, tapi ilmu mantik versi cyber, yaitu al-Insānu hayawānun unlainu; manusia adalah hewan yang online. Dalam hal ini, Online merupakan bentuk lain dari "berpikir" di era digital.