Ada hal yang mendasar yang dilupakan umat Islam hari ini, yaitu iqra atau perintah membaca. Perintah ini mengandung hikmah yang begitu besar yang sangat berguna bagi perkembangan peradaban manusia. Sayangnya, perintah ini hanya segelintir umat Islam yang menyadarinya.

Jika direnungkan sejenak, kita akan bertanya-tanya, mengapa perintah Allah yang pertama kali diturunkan kepada Nabi saw adalah iqra yang tak lain merupakan perintah membaca? Mengapa bukan perintah beriman? Bukan pula perintah syahadat, salat, puasa, dan sebagainya? Mengapa perintah membaca?

Terkait kondisi dan situasi yang dihadapi Nabi saw, waktu itu beliau tengah dalam keadaan yang bingung dan prihatin atas prilaku kaumnya yang berada dalam belenggu ke-jahiliya-an. 

Beliau membutuhkan petunjuk agar dapat menyadarkan kaumnya dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus. Sehingga, Allah kemudian memerintahkan Nabi saw untuk membaca.

Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab, sebelum turunnya Alquran, (QS. 29:48).

Namun, keheranan ini akan sirna jika didasari arti iqra dan didasari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw semata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusian, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagian hidup, baik duniawi maupun ukhrawi.

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah menjelaskan, ayat pertama dari wahyu pertama yang diterimah Nabi saw tidak menyebutkan objek bacaannya, sehingga objeknya bersifat umum. 

Maka dari itu, kata iqra yang digunakan dalam arti membaca mencakup segala sesuatu yang dapat terjangkau, baik bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun yang bukan, sehingga dalam konteksnya, mencakup bacaan terhadap ayat-ayat suci Alquran, kitab-kitab, buku, majalah, koran, alam raya, masyarakat, dan sebagainya.

Dari sini dapat dipahami bahwa, sebagai jawaban atas keresahan, kegundahan, dan keprihatinan Nabi saw atas kaumnya, adalah Nabi saw diperintahkan untuk membaca. Yaitu membaca ayat-ayat Allah, tidak hanya yang tertulis, namun juga yang terserak di segenap ciptaan-Nya di alam raya ini.

Kiranya perlu dicatat di sini bahwa perintah membaca dalam Alquran yang disandarkan dengan kalimat “bi ismi Rabbika” dengan ‘nama Tuhanmu’ menjadi isyarat bahwa penyandaran tersebut merupakan syarat yang menuntut si pembaca bukan saja sekadar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarkan kepada hal-hal yang bertentangan dengan penyandaran “nama Allah” itu.

Demikian yang digariskan, betapa Alquran secara dini menggarisbawahi pentingnya “membaca” dan keharusan adanya keikhlasan serta kepandaian memilih bahan-bahan bacaan yang tepat.

Perintah membaca adalah perintah yang paling berharga bagi umat manusia, kerena membaca merupakan jalan yang mengantar manusia dalam mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa “membaca” adalah syarat utama membangun fondasi peradaban.

Jika diakui bahwa makin banyak membaca makin tinggi peradaban, atau sebaliknya, maka tidak mustahil jika suatu saat “manusia” akan didefinisikan sebagai “makhluk membaca”, suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya semisal “makhluk sosial” dan “mahkluk berpikir”.

Melalui kegiatan membaca, baik itu ayat-ayat Allah yang tertulis maupun yang tersirat di alam raya ini, manusia telah memperoleh pemahaman dan penemuan yang berkembang dari masa ke masa. 

Pemahaman dan penemuan itulah yang menjadi material dasar pembangunan awal fondasi peradaban. Dan  yang terpenting, melalui membaca, manusia mengenal Tuhannya dan mengetahui jalan untuk sampai kepadanya-Nya.

Bukti konkret di era masa kemajuan peradaban Islam abad pertengahan yang tercatat dalam lembaran sejarah mustahil akan tercapai,jika umat Islam kala itu tidak mau membaca. 

Sebagaimana diketahui, generasi Islam kala itu merupakan generasi yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka berlomba-lomba belajar, mencecap ilmu sebanyak-banyaknya, berusaha sekuat tenaga memahami ayat-ayat Allah yang terserak di alam raya. 

Tak heran jika peradaban Islam waktu itu mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang memberikan sumbangsih besar terhadap peradaban dunia, sehingga Islam muncul sebagai peradaban universal.

Maka, jika kita menghendaki peradaban Islam kembali mencapai masa kejayaannya, maka tidak ada jalan lain selain membudayakan kembali iqra sebagai falsafah hidup.

Iqra harus kembali menjadi fondasi peradaban, mengingat saat ini seolah-olah hal tersebut terlupakan oleh umat Islam sendiri, sehingga kebekuan akademik dan disintegrasi peradaban yang mendera saat ini bisa teratasi.

Demikian, perintah membaca merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia dalam membangun fondasi peradaban. Berdasarkan hal tersebut, tidaklah mengherankan jika perintah “membaca” menjadi tuntunan pertama yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia.