Virus Corona atau Covid-19 pertama kali dilaporkan muncul pada akhir Desember 2019 lalu di Wuhan, China. Virus berbahaya ini merupakan salah satu virus dengan penularan yang sangat cepat. Dan tidak heran dengan penularannya yang sangat cepat itu membuat hampir seluruh negara di dunia terkena imbasnya hingga saat ini.

Lockdown, Social/Physical Distancing, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan beberapa istilah dalam upaya pemerintah di dunia memutus rantai penyebaran virus berbahaya ini. Bukan tanpa sebab, di Indonesia sendiri tercatat hingga tanggal 3 Juni lalu, jumlah positif Covid-19 mencapai 28.233 orang dengan grafik yang selalu naik setiap harinya.

Dengan adanya pembatasan aktivitas sosial ini tentu berdampak besar terhadap berbagai sektor kehidupan, khususnya sektor ekonomi dan sosial yang menjadi peran utama dalam kelangsungan hidup manusia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh filosof terkenal Yunani bahwa manusia adalah zoon politicon, manusia adalah makhluk sosial. Filosof yang kita kenal dengan nama Aristoteles tersebut mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Ini membuktikan bahwa dengan adanya pembatasan aktivitas sosial selama masa pandemi ini akan berdampak besar terhadap segi kehidupan manusia.

Jika aktivitas sosial dibatasi, maka aktivitas ekonomi otomatis akan terganggu. Sektor ekonomi mulai dari perindustrian hingga perhubungan akan mengalami penurunan pendapatan. Jika pendapatan menurun, maka pemilik perusahaan tidak akan mampu membayar karyawannya. Pada akhirnya terjadilah PHK besar-besaran, dan itu telah terjadi di negara kita saat ini.

PHK berarti kehilangan pekerjaan, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan sumber nafkah bagi keluarga. Jika nafkah tidak ada, maka harapan yang diandalkan di tengah pandemi ini adalah bantuan dari pemerintah.

Namun bantuan pemerintah tidak dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Alhasil masalah sosial akan muncul seperti kelaparan, kriminalitas, hingga kematian.

Menurut pakar ekonomi, kita sekarang berada dalam fase yang sangat genting, jika kita meremehkan pandemi ini, dan tidak mengambil kebijakan yang tepat, maka angka kemiskinan akan bertambah secara drastis dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan. Hal ini membuat kita berpikir keras akan langkah apa yang akan kita ambil kedepannya.

Rene Descartes mengungkapkan cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), ungkapan terkenal dari filsuf asal Perancis ini memang mengisyaratkan kita bahwa berpikir adalah bukti kita ada. Proses berpikir akan muncul salah satunya ketika kita menghadapi suatu masalah, dalam hal ini masalah kita adalah Covid-19. 

Pandemi Covid-19 ini memang menuntut kita berpikir keras untuk segera memutus rantai penyebarannya. Hal ini menimbulkan berbagai ide dan skenario dalam menangani kasus Covid-19. 

Para ilmuwan juga telah melakukan berbagai penelitian demi menemukan vaksin yang efektif untuk membunuh Covid-19. Baru-baru ini kita mendengar istilah Herd Immunity, Vaksinasi, hingga Mutasi Virus yang digadang-gadang efektif menekan penyebaran Covid-19 disamping lockdown dan social distancing.

Apakah itu Herd Immunity, Vaksinasi dan Mutasi Virus?

Herd Immunity dapat diartikan sebagai suatu kekebalan terhadap penyakit. Kekebalan dapat dicapai apabila mayoritas orang dalam suatu populasi terinfeksi lalu sembuh melalui vaksinasi yang tepat dan efektif.

Namun Herd Immunity dianggap memiliki resiko yang tinggi karena penyebaran virus yang sangat cepat dapat menyebabkan kewalahan dalam menyediakan fasilitas. Selain itu hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang efektif untuk membunuh Covid-19.

Vaksinasi adalah pemberian vaksin yang dianggap efektif terhadap pasien Covid-19 maupun yang tidak terinfeksi demi memberikan pencegahan akan penularan virus. Vaksinasi dinilai menjadi opsi yang paling efektif karena memiliki peran jangka panjang.

Para ilmuwan hingga saat ini masih berusaha dalam menemukan vaksin yang efektif untuk Covid-19. Namun biaya penelitian vaksin hingga dianggap teruji secara klinis dan pemeriksaan sangatlah mahal, dan waktu yang dibutuhkan juga cukup lama hingga bertahun-tahun.

Mutasi Virus adalah cara menghentikan penyebaran Covid-19 dengan cara mutasi. Virus akan mengalami mutasi atau perubahan dalam genomnya. Ketika virus mengalami mutasi menjadi sesuatu yang lebih parah, maka tingkat infeksinya akan jauh lebih rendah sehingga membuat kematian sendiri pada virus tersebut. Namun cara ini juga memerlukan penelitian seperti halnya Vaksinasi.

Sekarang timbul pertanyaan, manakah cara yang lebih efisien dilakukan?

Mengingat meskipun ketiga cara tersebut dianggap efektif, namun masih banyak kendalanya terutama pada dana dan waktu. Alih-alih menemukan cara yang tepat kita malah dibuat dalam keadaan keraguan.

Meskipun demikian keraguan merupakan awal dari kebenaran. Ini tidak terlepas dari perkataan Descartes yang mengatakan bahwa untuk memperoleh kebenaran yang pasti kita harus mulai meragukan segala sesuatu.

Ketika kita meragukan sesuatu itu berarti kita sedang memikirkan kebenaran. Ketika kita meragukan cara penanganan Covid-19 yang efektif, itu artinya kita sedang memikirkan sebab akibat yang akan diperoleh atas tindakan yang akan kita lakukan. Ketika kita telah mengetahui sebab akibatnya, maka tindakan yang akan kita lakukan otomatis menjadi terarah.

Dalam artikel ini penulis tidak akan memberikan pilihan dari tiga ide penanganan Covid-19 yang telah dijelaskan di atas. Dan penulis pun tidak akan memberikan ide baru mengenai cara penanganan Covid-19 yang efektif.

Namun penulis ingin membuka mindset kita dan memberikan pemikiran yang harus kita pegang teguh. Karena menurut penulis ini merupakan faktor penting yang harus dipahami sebelum menerapkan kebijakan maupun ide dalam penanganan Covid-19 ini.

Dan faktor penting yang penulis maksud adalah mengenai keselarasan dan saling memahami antara masyarakat dan pemerintah.

Masyarakat dan pemerintah merupakan elemen utama pembentuk suatu bangsa. Keselarasan antara masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, seperti halnya Indonesia yang memiliki cita-cita bangsa yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Keselarasan antara masyarakat dan pemerintah tidak hanya diperlukan untuk mewujudkan cita-cita bangsa saja, namun keselarasan ini diperlukan setiap waktu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan tidak terlepas ketika menghadapi pandemi ini.

Sejak ditetapkannya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah di Indonesia yang dimulai pada April lalu, bukannya menurun namun grafik positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Sehingga muncul pertanyaan, apa gunanya penetapan PSBB?

Jika kita memahami lebih dalam, sebenarnya bukan penetapan PSBB yang menjadi masalah, namun keselarasan antara masyarakat dan pemerintah lah yang dianggap masih kurang.

Ketika pemerintah menetapkan peraturan PSBB, masih saja ada masyarakat yang tidak mengindahkan aturan ini. Bahkan aturan sederhana seperti memakai masker ketika keluar rumah pun tidak dilaksanakan.

Di sisi lain, pemerintah yang menjadi harapan masyarakat selama pandemi dinilai kurang efektif dalam memberikan bantuan terhadap masyarakat. Pasalnya pemerintah dianggap lalai dalam memberikan bantuan sehingga memunculkan aksi nekad bekerja tanpa mengindahkan protokol Covid-19.

Jadi keselarasan antara masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan. Jika keselarasan dapat dicapai maka sikap saling memahami akan muncul, dan ketika sikap saling memahami muncul, maka tidak akan ada masyarakat yang menentang aturan maupun pemerintah yang menyelewengkan jabatannya. Dan alhasil penyebaran Covid-19 pun dapat ditangani dengan cepat.

Untuk meyakini hal ini, kita bisa bercermin kepada negara-negara yang saat ini mengalami penurunan kasus positif Covid-19. Negara seperti Malaysia mengalami penurunan kasus Covid-19 bukan karena Herd Immunity, bukan karena Vaksinasi, maupun Mutasi Virus. Akan tetapi karena keselarasan antara masyarakat dan pemerintahannya.

Jika negara lain berhasil dalam menekan lajunya penyebaran Covid-19 hanya dengan lockdown atau social distancing (PSBB), lalu bagaimana dengan negara kita? Tentu negara kita juga bisa, asalkan kita saling memahami satu sama lain.

Jadi kesimpulannya, masyarakat yang taat aturan dan pemerintah yang amanah dengan tanggung jawabnya menjadi kunci utama dalam menyelesaikan segala permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Termasuk dalam penanganan pandemi Covid-19 ini, keselarasan antara masyarakat dan pemerintah adalah faktor penting yang harus kita pahami dan kita wujudkan.