Pernahkah kalian berpikir bahwa ujian akhir semester kalian berasa sulit untuk dikerjakan. Soal-soal yang disiapkan oleh dosen itu tidak bisa kalian jawab lantaran kekurangan sumber referensi dan inspirasi. 

Kalian tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu sehingga kalian merasa begitu menyesal karena nilai akhir yang tidak memuaskan. Seandainya aku belajar lebih giat lagi pasti aku tidak akan mengulang mata kuliah ini.

Pengandaian itu tentu saja datang sebagai dampak dari penyesalan. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua alasan, karena kalian tidak mengerti materi yang disampaikan oleh dosen atau karena catatan kalian memang kurang lengkap. Bisa jadi kedua alasan itu membuat kalian tidak belajar lebih giat dari sebelumnya.

Ketika dosen memberikan penjelasan- baik melalui catatan di papan tulis atau berupa slide presentasi- saat itu pula kalian sibuk menyimak. Beberapa di antara kalian lebih memilih memotret catatan dan slide dari dosen dengan ponsel pintar ketimbang harus susah payah mencatatnya di atas kertas. 

Beberapa lainnya tak ingin repot, tinggal minta dikirimkan file foto tersebut dari teman melalui grup media sosial. Alhasil catatan di buku tulis pun kosong sementara memori ponsel pintar dipenuhi foto berupa catatan dan slide dari dosen.

Foto hasil jepretan itu tentu saja terlihat jelas jika diperbesar. Namun apa kalian sadar, bahwa foto catatan dan slide dari dosen itu kadang diabaikan begitu saja atau kadang kalian membacanya tapi tidak begitu mengerti apa maksudnya.

Ada begitu banyak aplikasi menggiurkan di ponsel pintar yang membuat mahasiswa mudah terlena sampai lupa akan foto berharga yang dianggap sebagai penyelamat ujian akhir semester itu. Akhirnya mereka tidak belajar melainkan malah berselancar di dunia maya. Mungkin di antara kalian ada yang pernah merasakannya. Itu adalah hal wajar terutama bagi mahasiswa di negara dengan kode nomer ponsel +62 ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Pam Mueller dari Princeton University menyebutkan bahwa belajar melalui kertas mudah untuk ditangkap otak ketimbang belajar melalui ponsel pintar atau laptop. 

Salah satu penyebabnya adalah cahaya yang dipantulkan oleh layar yang mana membuat mata kurang merespon tulisan atau gambar di atasnya. Lain halnya dengan belajar melalui kertas atau buku, mata akan cepat menangkap apa yang dilihat di atasnya.

Beberapa kampus di India melarang mahasiswanya memotret catatan dosen di papan tulis atau slide presentasi dosen di layar. Kebijakan ini sangat kontroversial, terutama bagi mahasiswa yang tak ingin repot dan menyukai sesuatu yang berbau instan. Faktanya, menyalin catatan dosen di atas kertas merupakan sebuah upaya mencerdaskan mahasiswa.

Ketika kita menyalin catatan atau ceramah dosen dengan kertas, otak dan mata kita akan mudah menangkap karena secara tidak langsung kita menulis sambil menghafal. Penjelasan tersebut pun akan mudah diterima oleh kita. Coba bandingkan dengan tipe mahasiswa yang saya sebutkan di atas.

Asumsi ini didukung oleh sebuah penelitian dari Daniel Oppenheimer. Akademisi dari University of California ini menyatakan bahwa mahasiswa yang mencatat catatan dosen dengan kertas mendapatkan nilai yang lebih bagus dari pada mahasiswa yang hanya memotret atau menyalin catatan dosen dengan ponsel pintar maupun laptop. 

Mengetik dengan laptop atau memotret dengan ponsel pintar memang lebih praktis tapi proses peningkatan pembelajaran dalam hal mengingat materi tidak terjadi karena kefokusan mereka tidak setepat kefokusan ketika sedang mencatat di atas kertas.

Filosofinya, mahasiswa harus berusaha keras agar mendapatkan apa yang diinginkannya termasuk bersusah payah menyalin catatan dosen di atas kertas. Mahasiswa yang tak ingin repot dan menyukai sesuatu yang instan akan sulit menggapai kesuksesan karena usaha yang dilakukannya tidak sebanding dengan kerja kerasnya. 

Di sisi lain, langkah ini merupakan sebagai cara menghargai kerja keras dosen yang menyiapkan materi dan menuliskannya di atas papan tulis.

Jika kalian adalah dosen, semalaman begadang untuk menyiapkan materi. Setelah itu menyiapkan slide presentasi, lalu menambahkan beberapa tulisan di papan tulis. Tiba-tiba mahasiswa dengan santai duduk di belakang dan memotretnya, lalu membagikannya ke seluruh teman di kelas melalui aplikasi atau grup media daring. 

Tak ada satu pun dari kalian yang mencatatnya di atas kertas dengan dalih memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Sebagai dosen, apakah kalian merasa geregetan atau biasa-biasa saja?

Tentu saja geregetan jika kalian adalah dosen yang menginginkan mahasiswa kalian semakin cerdas dan menganut fiosofi kerja keras. Tak ingin repot dan ingin yang instan-instan saja bukanlah budaya asli kita yang dikenal gigih oleh bangsa luar. 

Budaya itu harus dihilangkan jauh-jauh sejak dini termasuk dengan menghilangkan budaya instan seperti memotret catatan dosen dengan ponsel pintar atau meminta file itu dari teman.

Apakah kalian pernah berpikir, budaya instan di atas juga membuat kalian enggan membawa buku catatan. Tas kalian pun hanya berisi laptop dan ponsel pintar. Sementara buku catatan yang sudah kalian beli akan mubazir begitu saja karena kosong melompong. Tak ada satupun kata yang ditulis di dalamnya selain nama dan mata kuliah kalian.

Saya bukanlah dosen yang geregetan melainkan seorang mahasiswa yang pernah merasakan penyesalan di atas. Ponsel pintar saya berisi beberapa slide dan catatan dosen di papan tulis. Sementara buku tulis atau buku catatan saya kosong. Nilai ujian semester saya pun anjlok. 

Ketika sudah bersentuhan dengan ponsel pintar, godaan untuk mengabaikan pelajaran semakin banyak. Di sisi lain, mata saya semakin minus gegara sering membaca tulisan atau foto catatan dosen melalui ponsel pintar.

Beda halnya dengan teman sekelas saya yang rajin menulis catatan dosen di atas kertas sampai buku catatannya penuh bahkan penjelasan dosen yang diucapkan juga turut ditulis olehnya. Teman saya pun sering mendapatkan nilai bagus. Ini membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Daniel Oppenheimer benar adanya.

Kini mahasiswa yang tak mau repot dan menyukai hal yang berbau instan memiliki ide lain yakni meminjam buku catatan teman saya lalu memfotokopi catatan atau buku itu. Praktis bukan? 

Sayangnya, nilai mereka masih tidak sebagus teman saya yang memiliki buku atau catatan aslinya. Kenapa? Mungkin karena proses menulis di atas kertas itu memang penting. 

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, ketika sedang menulis di atas kertas maka secara tidak langsung kita sedang membaca dan menghafal apa yang sedang ditulisnya. Seperti inilah bentuk inovasi sederhana dari kertas yang sering diabaikan.

Tulisan ini bukan untuk mengeneralisasikan semua mahasiswa yang memotret catatan dosen atau memfotokopi catatan teman adalah bodoh melainkan sebagai upaya merawat budaya bangsa kita yang dikenal sebagai pekerja keras termasuk dari hal-hal kecil di atas yang dianggap sepele. 

Lagi pula, apa kalian tidak sedang membohongi kedua orang tua yang membiayai kuliah kalian. Kalian bilang membutuhkan uang untuk membeli buku tulis sebagai media untuk menulis tapi nyatanya buku tulis itu hanya dijadikan sebagai pajangan di kamar kalian saja. 

Lebih parahnya, kalian gunakan uang itu untuk membeli kuota internet supaya bisa bermain media sosial di tengah pelajaran. Kalau sudah begini, jangan salahkan nilai akhir semesteranmu yang tidak sebagus apa yang kamu bayangkan.