Sudah 4 semester saya menikmati keindahan dan keramaian yang ada di kota berlabelkan kota kreatif dunia. Banyak hal yang menarik dari kota kecil di tengah pulau Jawa ini, mulai dari batik tentunya, kuliner khas, destinasi wisata, bahkan sejarah yang ada di kota ini.

Pekalongan adalah kota dengan 4 kecamatan dan dengan percampuran multibudayanya, yaitu Arab, China, dan Jawa. Hal itu memberikan daya tarik tersendiri untuk para pelancong yang datang ke kota dengan julukan batik ini.

Destinasi wisata bisa dibilang cukup lengkap di Kota Pekalongan. Ingin bermain air sekaligus membuat istana dengan pasir pantai, kalian bisa datang langsung ke pantai Slamaran. Cukup dengan membayar tiket masuk seharga 2500 di hari biasa atau 5000 rupiah saja dihari libur, kalian bisa menikmati deburan ombak pantai Utara Jawa.

Ingin berwisata sekaligus belajar tentang batik? Kalian bisa berkunjung ke Museum Batik untuk mengetahui berbagai macam koleksi batik dan cara membatik di sana. 

Sebenarnya masih banyak lagi keunikan dan sesuatu yang menarik dari Kota Pekalongan. Namun, di sini saya bukan berbicara tentang wisata atau kuliner yang ada. Hal menarik lainnya yang kalian perlu ketahui tentang kota kecil ini adalah sejarahnya, dan lebih spesifik lagi adalah sejarah terkait peristiwa 3 Oktober 1945 di Lapangan Kebon Rojo Kota Pekalongan.

Ya, peristiwa atau bahkan bisa dibilang sebagai perang untuk mengusir Jepang dari Kota Pekalongan. Latar belakang dari peristiwa itu merupakan keinginan dari masyarakat Kota Pekalongan yang ingin merdeka dan melucuti seluruh persenjataan Jepang.

Pada akhirnya dilakukan perundingan yang diwakili oleh Mr. Besar atas nama masyarakat Kota Pekalongan. Perjanjian awal perundingan dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 1945, namun dengan alasan yang tidak jelas pihak Dai Nippon mengundur perundingan hingga tanggal 3 Oktober 1945. 

Setelah berlangsung perundingan di markas Kempetai, masyarakat Kota Pekalongan tak sabar menunggu hasil dari perundingan tersebut, dan situasi pun mulai memanas. Pada akhirnya ada tiga orang pemuda yang berteriak dari luar mendesak agar perundingan segera diselesaikan.

Namun, karena sudah tak sabar, ketiga pemuda tersebut nekat menurunkan bendera Jepang di markas Kempetai tersebut dengan bendera merah putih. Pada saat itu pula langsung mereka diberondong peluru senapan Jepang.

Seketika ribuan massa langsung mengepung Kempetai dan serentak menyerang pasukan Jepang. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 37 orang gugur dalam pertempuran, sementara 12 orang mengalami cacat.

Untuk memperingati peristiwa berdarah tersebut, akhirnya didirikan Monumen Djoeang atau Monumen 3 Oktober 1945 yang kita tahu saat ini berlokasi di Lapangan Kebon Rojo. Serta, markas Jepang atau gedung Kempetai diubah menjadi masjid Asy Syuhada yang tepat berada di seberang monumen. 

Di depan masjid juga terdapat patung berbentuk bambu runcing berupa 3 batang bambu dengan 10 bilah ruas yang melambangkan peristiwa 3 Oktober. Kini pun setiap 3 Oktober di depan monumen bersejarah tersebut selalu diadakan upacara dan aksi teatrikal oleh pelajar, instansi pemerintah, serta mahasiswa yang ada di Kota Pekalongan sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa pahlawan yang gugur saat itu.

Pic by: Cupman Gallery (Foto bekas markas Kempetai ‘Masjid Asy Syuhada’ sekarang))

Setelah kita tahu sejarah singkat terkait monumen 3 Oktober, ada fakta lain di balik bekas markas Jepang depan monumen, yaitu masjid Asy Syuhada. Berikut beberapa fakta lain dari masjid Asy Syuhada yang banyak belum diketahui oleh masyarakat.

Awal mula monumen bukan di Lapangan Kebon Rojo saat ini

Monumen sebenarnya pertama kali didirikan tepat persis di depan markas Kempetai yang sekarang adalah masjid Asy Syuhada. Jadi, sebelum pembangunan masjid, monumen dipindah ke Lapangan Kebon Rojo dikarenakan monumen yang ada saat itu seolah-oleh tidak bisa dipakai untuk upacara.

Serta, dengan alasan perluasan lahan monumen, akhirnya pemerintah Kota Pekalongan saat itu memutuskan untuk memindahkan monumen agar bisa digunakan dengan semestinya, yaitu untuk upacara setiap tanggal 3 Oktober dan mengenang peristiwa heroik tersebut.

Tanah bekas monumen dijual kepada pihak tertentu

Kemudian ternyata tanah bekas monumen tersebut dijual salah satu pihak. Sedangkan pembangunan monumen yang sudah selesai (di Lapangan Kebon Rojo) ternyata bekas markas Kempetai ditutup dan akan dibangun Islamic Center.

Namun, faktanya setelah itu, tanah yang akan dibangun Islamic Center tersebut dijual kepada orang Tiong Hoa dan ternyata dijual lagi ke bank BNI. 

Kejadian penjualan tanah bekas monumen itu akhirnya membuat masyarakat Kota Pekalongan mempermasalahkan hal tersebut dengan adanya GMPR (Gerakan Masyarakat Pro Reformasi) untuk mengambil kembali tanah yang terjual, agar bisa dibangun masjid kembali.

Setelah adanya hasil permusyawarahan, dibangunlah masjid Asy Syuhada

Setelah kejadian dijualnya tanah bekas monumen, dan terjadi gerakan untuk mengambil kembali kepemilikan tanah tersebut, terjadilah permusyawaratan antara pihak BNI dan masyarakat Kota Pekalongan. Hasilnya, akhirnya bisa dibangun masjid Asy Syuhada yang kita kenal sampai sekarang ini.

Ternyata dari fakta lain terkait bekas markas Jepang ini dapat kita ketahui bahwa monumen 3 Oktober adalah bentuk dari memperingati akan perjuangan pahlawan yang telah membuat Kota Pekalongan terbebas dari belenggu Jepang. Serta monumen yang biasa kita lewati di pinggir jalan Pantura saat ini bukanlah monumen yang pertama kali ada sejak peristiwa 3 Oktober tersebut, melainkan monumen yang dibangun pertama kali berada di depan markas Kempetai atau sekarang adalah masjid Asy Syuhada Kota Pekalongan.

Semua data yang saya tuliskan di atas berdasarkan wawancara dengan Dirhamsyah selaku sejarawan Kota Pekalongan dan beliau juga seorang penulis buku Pekalongan yang (Tak) Terlupakan. Semoga informasi yang saya sampaikan dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita terkait dengan sejarah dari Kota Pekalongan.