Deadliner adalah orang yang suka mengerjakan pekerjaannya ketika tenggat waktu sudah dekat. Banyaknya tugas maupun laporan terkadang membuat seseorang sebisa mungkin menghindar dari kewajiban yang menumpuk, sehingga memilih menjadi deadliner

Gimana sih rasanya jadi deadliner?

Kalau boleh jujur, sumpah jadi deadliner itu nggak enak banget. Nggak recommended serius. Pernah ngerasain dikejar-kejar? Dikejar-kejar hantu? Dikejar-kejar hutang? 

Nah, menurut saya jadi deadliner ini tuh rasanya sebelas dua belas sama kayak dikejar-kejar hantu atau bahkan hutang. Bawaannya tidak tenang dan deg-deg an setengah mati.

Serius deh bagi kalian yang jadi deadliner, satu yang ingin saya bilang: GWS.

Jadi deadliner atau tidak itu sebenarnya sebuah pilihan, semua orang juga sadar sih itu pilihan buruk, tetapi pilihan itu malah dipilih banyak orang dan mulailah masuk ke dalam siklus setan yang untuk keluarnya pun susah.

Deadliner itu ibaratnya seperti sedang simulasi di antara hidup dan mati. Otak dan seluruh organ kerja ekstra ditekan dari berbagai sisi demi dapat menuangkan ide dalam keadaan kepepet.

Para deadliner ini kayaknya kalau membaca persyaratan lowongan kerja yang mencantumkan ‘siap bekerja di bawah tekanan’ akan maju paling depan. Ya gimana ya, orang sudah khatam dengan tekanan yang dibuat sendiri. 

Juara nomor satu mempersulit diri sesungguhnya ya para deadliner ini. Survivor yang hidupnya kurang lengkap tanpa tekanan.

Fenomena deadliner ini sebenarnya merupakan kultur buruk di balik para mahasiswa dan mungkin juga banyak yang bertanya-tanya kenapa mahasiswa ini lebih memilih menjadi deadliner daripada mengerjakan lebih awal? Berikut adalah beberapa fakta di balik mahasiswa deadliner

1. Menyepelekan tugas

Biasanya mahasiswa yang jadi deadliner ini dimulai dari kejadian terlena dengan “Ah, masih lama”, “Masih seminggu lagi”, “Ngerjain besok kayaknya cukup”, “Segini doang kerjain nanti juga selesai”.

Kira-kira begitulah kata-kata yang sering terlontar ketika sedang mencari pembenaran. Lalu lebih memilih melakukan aktivitas lain yang sebenarnya kurang berguna. 

Padahal tanpa disadari waktu yang digunakan untuk berleha-leha tersebut dapat digunakan untuk mulai mengerjakan tugas yang dianggap sepele itu. Ketika tenggat waktu semakin dekat, maka mulailah panik mengerjakan sambil merapal doa-doa religi supaya diberi kemudahan.

2. Salah perkiraan

Mahasiswa umumnya akan mengambil beberapa mata kuliah yang jadwalnya tidak bersamaan. Hal yang sering terjadi mahasiswa sebenarnya sudah tahu deadline atau batas pengumpulannya kapan, tetapi biasanya banyak yang salah perkiraan mengenai waktu penyelesaian, karena tahu-tahu sudah beranak pinak.

Belum kunjung selesai tugas satu, eh tugas mata kuliah lain sudah menunggu. Alhasil akan dikerjakan menurut skala prioritas mana deadline yang paling dekat dan mengerjakan satu-persatu hingga lunas selesai semuanya. 

Pada fase ini mahasiswa biasanya akan mengeluh tugas banyak, padahal sebenarnya dirinya yang mempersulit diri sendiri.

3. Si paling healing.

Para deadliner ini biasanya punya 1001 alasan supaya bisa mangkir dari tugasnya sejenak. Kadang dari mulai rebahan untuk mendinginkan otak, lalu tahu-tahu sudah bablas sampai scroll Twitter, Instagram, Tiktok, nonton YouTube, balas chat di WhatsApp, pokoknya gitu terus sampai deadline di depan mata.

Niatnya healing biar tidak stres, nyatanya malah merusak mental diri sendiri. Begitulah manusia, pokoknya ngerasain enak dulu, soal susah dipikir belakangan.

4. Waktu yang salah

Ide yang muncul di waktu yang salah mungkin adalah salah satu hal yang dialami oleh sebagian besar deadliner. Sudah menjadi rahasia umum, para deadliner ini suka menyelesaikan pekerjaan mereka dengan SKS atau sistem kebut semalam.

Biasanya ketika mendekati tenggat waktu, ide-ide cemerlang akan muncul satu per satu, seolah-olah ide ini harus diberi tekanan dulu baru mau muncul. 

Otak yang biasanya cenderung beku dan buntu, akan encer dan lancar berpikir secara tiba-tiba ketika tenggat waktu pengumpulan sudah dekat. Seakan otomatis muncul naluri untuk berbuat yang mungkin juga didasari oleh rasa takut seperti takut tidak mendapat nilai.

Pada waktu ini biasanya prinsip yang penting mengerjakan dan menumpuk adalah satu-satunya yang terlintas.

Menjadi deadliner memang tidak pernah ada tenangnya. Lingkaran setan yang tidak pernah ada habisnya ini tidak akan hancur apabila hanya diam tidak ada perubahan.

Kepada pada para mahasiswa seperjuangan, saran kalau bisa mulailah untuk mencicil sedikit apapun ketika tugas diberikan. Paksakan diri untuk jangan terlena terlalu jauh sebelum tugas selesai.

Jangan pernah berpikir untuk mengerjakan nanti saja seadanya yang penting selesai karena ini hanya akan dibaca oleh dosen lalu berakhir menjadi rangkaian file terabaikan.

Menunda mengerjakan tidak akan menghilangkan penderitaan melainkan hanya menunda penderitaan yang makin besar akibat harus dikejar deadline

Pokoknya mulailah mengerjakan tugasmu seawal mungkin, karena makin diundur makin besar penderitaan dan peluangmu untuk mengulang di semester depan.


Referensi

https://mojok.co/terminal/realita-di-balik-para-mahasiswa-yang-suka-dikejar-deadline/