Baru-baru ini ketua Progres 98, Faizal Assegaf, melempar tulisan dengan analisa yang menurut saya terkesan ngelantur dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Diberi judul “Puteri Gus Dur Getol Menipu Umat Islam”, tulisan itu diterbitkan oleh media online Pilarbangsa.com pada 18 Februari lalu.

Dalam tulisan itu, ia menilai bahwa Yenny Wahid dan jaringan Gusdurian rajin menyebarkan fitnah keji kepada umat Islam. Fitnah itu ia sandarkan atas tuturan Yenny Wahid tentang hasil survey Wahid Foundation bersama Lembaga Survey Indonesia yang mengungkap bahwa 11 juta dari 150 juta penduduk muslim Indonesia siap melakukan tindakan radikal. Hasil survey ini oleh Faizal dianggap menyudutkan kelompok Islam dengan stigma terorisme dan radikalisme.

“Tentu modus penipuan tersebut tidak gratis. Apalagi muncul jelang Pilgub DKI putaran kedua dan YW merupakan pembela setia oknum penista agama alias Ahok.” Ujar lelaki yang pada 2014 tersandung kasus atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik Megawati Soekarnoputri dan Jaksa Agung Basrief Arief..

Selain itu, ia juga menyinggung kasus Buloggate dan Bruneigate yang menurutnya Gus Dur atau Abdurrahman Wahid dulu dilengserkan lantaran terlibat dalam kasus itu. Padahal, sebagaimana diberitakan banyak media, tentang kasus ini, Sutan Bhatoegana sudah mengklarifikasi dan meminta maaf kepada keluarga Wahid dan Nahdliyin atas pernyataan yang menyebutkan bahwa Gus Dur, Presiden ke-4 RI, lengser karena skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate.

Ngawur dan Mengada-Ada

Bagi saya yang mengenal Wahid Foundation dan Gusdurian dengan baik dari jarak tenggang yang harmonis, omongan Faizal Assegaf ini jelas ngawur dan mengada-ada.

Tentang pernyataannya yang mengatakan bahwa survey yang dilakukan Wahid Foundation itu untuk kepentingan salah satu calon di Pilgub DKI putaran kedua, hngga saat ini saya tidak menemukan secuil data pun yang bisa menguatkan pendapat itu. Justru malah sebaliknya. Apa buktinya?

Pertama, hasil survey itu telah dipublikasikan sejak Agustus tahun 2016 lalu. Tentunya, survey itu pun dilakukan jauh sebelum bulan Agustus atau sebelum pilkada serentak akan berlangaung.

Kedua, indikator-indikator di dalam survey tersebut dirumuskan antara Wahid Foundation dan Lembaga Survey Indonesia. Perumusan itu juga mengikuti standar yang dipakai oleh banyak lembaga Internasional seperti, Pew Research Centre, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan Amnesty Internasional. Artinya jelas, bahwa survey ini tidak sembarangan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, harus diakui bahwa survey semacam ini juga banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga ternama di Indonesia. Misalnya, Center for Religious and Cross-Culture Studies (CRCS), Setara institute dan lembaga ternama lainnya. Maka, sulit bagi saya untuk mengatakan kalau hasil survey itu tidak ilmiah atau untuk kepentingan Pilgub DKI pada putaran kedua.

Wajah Anti-Intelektualisme

Membaca tulisan Faisal Assegaf di Pilarbangsa.com itu membuat saya dapat gambaran tentang apa yang oleh Richard Hofstadter disebut anti-intelektualisme. Anti-Intelektualisme sendiri dapat dipahami sebagai pandangan, sikap, dan tindakan yang merendahkan ide-ide, pemikiran, kajian, telaah, riset, diskusi, hingga debat.

Dalam rumusan Richard Hofstadter, anti-intelektualisme diindikasikan dengan perendahan, purbasangka, penolakan, dan perlawanan yang terus-menerus, ajek, serta konstan terhadap dunia ide dan siapa pun yang dianggap menekuninya.

Mengaitkelindankan point diatas dengan narasi yang dibagun Faisal Assegaf dalam tulisannya memang menampilkan fakta yang tak berpunggungan. Kecenderungan Faizal dalam menyubur tumbuhkan  pemikiran atau pengamatan yang mengandalkan kelincahan pelisanan, bukan pikirannya, pun jelas menampak. Maka telaah yang dihasilkan pun fakir otoritas episteme, nisbi keadilan faktual, dan sepi kebenaran di dalamnya.

Lalu Apa kerugian dari munculnya gejala ini? Jeremy Jennings (1997) pernah mengatakan bahwa, kemunculan para pakar, pengamat, dan komentator di media-media justru menunjukkan gejala meredupnya peran kaum intelektual. Intelektual tak melulu identik dengan gelar akademis, pengamat dan komentator pun bagian dari kaum intelektual. Berangkat dari tulisan Faizal Assegaf itu, semoga saja kita tidak menjadi pengamat yang kita tidak tahu persis apa duduk perkaranya.

Tulisan ini juga dimuat di islami.co pada 21 Februari 2017