Saya melihat Fadli Zon ketika wajahnya muncul pada salah satu berita di TV. Saya melihatnya untuk pertama, yang ada di pikiran saya, orang ini suka berbicara. Ia suka mengomentari orang, termasuk pemerintah. Komentarnya itu tak jarang memunculkan masalah dan perdebatan.

Ketika orang tidak setuju, ia seakan tak mau kalah, dan benci disanggah. Ia suka menyerang argumen menggunakan kecerdasan bahasanya. Walaupun kadang bicaranya membuat kesal lawan, tapi ia tak begitu pedulikan. Saya suka sikapnya yang mempertahankan pendapat, serta mengkritik hal-hal yang memang perlu dikritisi.

Tapi saya tidak suka sikapnya yang seakan-akan tidak mendengarkan orang lain. Walaupun ia mungkin mendengarkan, tapi ia hanya mendengar tanpa memperhatikan.

Kenapa Fadli Zon dibenci oleh orang banyak? Apakah karena ia termasuk anggota DPR? Ataukah karena ia menggunakan kekuasaannya dengan tidak baik? 

Mungkin masyarakat iri dengan keberhasilan Fadli Zon dalam politik di pemerintah. Mungkin masyarakat benci dengan sikap dan wataknya yang berbicara mengenai presiden dan tokoh politik sebagai lawannya.

Sebenarnya hal yang tidak disukai dari Fadli Zon ialah ucapannya yang sering kali bersifat kontroversial. Seperti ucapan, “Lebih hebat dukun daripada lembaga survei,” karena katanya lembaga survei itu banyak margin error-nya. 

Lalu ada juga, “Apa sih hebatnya Jokowi?” Cuma datang ke tempat nelayan, apakah kehidupan nelayan akan berubah setelah kedatangan Jokowi? 

Dan untuk yang terbaru, “Apa sih hebatnya Ahok?” Kinerjanya yang membuat warga Jakarta perhatian, sama sekali tak memengaruhinya. Yang dikatakannya justru Ahok biasa-biasa saja tidak ada hebatnya. Ahok memang biasa, tapi ia mampu membenahi Jakarta dengan baik.

Seperti ucapannya mengenai Ahok, “Jadi saya kira mungkin itu refleksi kedalaman hubungan Pak Jokowi dengan Ahok sebagai teman sejati, bukan teman politik atau teman biasa.” Memang benar, Ahok ditunjuk sebagai komisaris utama Pertamina oleh Erick Thohir, Menteri BUMN,

Kalimat yang tersusun dengan makna ketidaksukaan inilah yang berpotensi kebencian bagi dirinya. Apalagi banyak orang yang suka dengan Ahok, bisa saja beralih membenci Fadli Zon.

Fadli Zon tidak salah apa-apa. Ia hanya mengucapkan sesuai dengan kenyataan, tapi kadang-kadang julid. Sinisme dari seorang Fadli Zon wajar saja, karena memang ia melihat dari sudut pandangnya.

Banyak orang tidak suka Fadli Zon, sebab ia suka membuat puisi. Puisi yang dibuat dengan maksud hati untuk melampiaskan kegelisahan justru malah membuat orang marah. Ia kurang peka terhadap masyarakat, atau sengaja memancing kemarahan orang. Saya tidak tahu maksud sesungguhnya dari puisi itu.

Yang saya tahu ialah Fadli Zon mempunyai perpustakaan pribadi yang begitu besar. Mungkin seperti perpustakaan pribadi Bung Hatta. Saya terpana bahwa ia suka membaca buku. Dapat dipahami jika ia suka menuliskan kalimat di Twitter.

Untuk pendidikan, ia merupakan S1 UI dan S2 di London. Anaknya bernama Zara dan Shafa. Untuk Shafa, ia lulusan Queen Mary University of London, Inggris. Istrinya Katharine Grace bergerak di bidang keuangan.

Banyak orang tidak suka dengannya, dan malah menyerang media sosial yang dimiliki oleh anaknya, Shafa. Hal ini membuat saya bingung, dan berpikir sejenak. Sampai sebegitukah kebenciannya terhadap seorang Fadli Zon? Mungkin ia memang menyebarkan kebencian, tapi setiap manusia pasti memiliki kebaikan.

Lihat saja Rumah Kreatif yang dibangunnya. Lihat bagaimana ia mampu mendirikan perpustakaan. Bagaimana ia berkarya dengan menuliskan puisinya. Mungkin karena terlalu benci hingga kebaikan yang telah dilakukan tertutupi.

Tidak hanya itu, berkatnya tercipta banyak tulisan kritis dan menarik. Tulisan yang lahir untuk dirinya maupun hal-hal yang dilakukan dan diucapkannya. Ternyata Fadli Zon mampu memberikan inspirasi bagi negeri ini. 

Meskipun memang ucapannya begitu menyakitkan, tapi kalau dipikirkan lagi, hal itu justru menjadikan orang lebih baik lagi. Supaya kemudian kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam berucap. Kita bisa mempelajari apa yang baik dan menghindari apa yang buruk dari seorang Fadli Zon.

Kenapa banyak yang membenci Fadli Zon? Sebab ia sinis dan mengungkapkan kebenciannya melalui media sosial. 

Menurut saya, kita punya hak untuk membenci dan tidak. Tetapi perlu dipikirkan ialah apakah dengan membenci lantas menjadikan diri kita lebih baik? Ataukah justru orang yang kita benci malah melakukan kebaikan? Sementara kita yang membenci ini malah melakukan keburukan.

Fadli Zon tidak hanya seorang negarawan. Ia tidak hanya paham politik, tapi ia juga tahu budaya. Sebaiknya kita pun belajar bagaimana budaya mengantarkan seseorang pada bahasa yang lebih baik. Bahasa yang digunakan oleh Fadli Zon, terbentuk dari kesukaannya pada buku. 

Dan mungkin kita harus belajar dari Fadli Zon. Bagaimana ia mampu membangun perpustakaan, dan kemudian belajar membuat puisi. Selain itu, kita juga bisa belajar bagaimana ia menyampaikan kalimat yang menarik pada masyarakat. Jadi tidak ada kebaikan yang akan terlihat, jika kita terlalu membenci seseorang.