Rasa soldaritas dan toleransi akhir-akhir ini penuh ketidakpahaman dan memacu tindak kejahatan di negeri seribu pulau, tanah airku Indonesia. Membunuh dosen, memenjarakan guru, bahkan pembunuhan teman sekelas oleh siswa Sekolah Menengah Pertama, alangkah mudahnya.

Hal ini membuktikan efektivitas pendidikan dan pengaruh sosial semakin pudar. Pahlawan tanda jasa pun selalu dijadikan kambing hitam oleh persepsi-persepsi tak berakal. Terang terlihat dan tajam terasa, moral yang hangus akibat kurangnya sentuhan kasih keluarga telah melahirkan konflik-konflik baru.

Era 90 an menuju masa kini, menurut pengalaman saya adalah generasi transisi dunia pendidikan dan sosial untuk masyarakat Indonesia. Banyak hal telah berubah seiring arus politik yang dibawa para pemimpin. Contohnya dalam dunia pendidikan. Saat itu cubitan, tamparan, bahkan tendangan menghiasi ke anak didik. Saya sendiri pernah beberapa kali dapat tamparan oleh guru, saking kerasnya, kelasku bergemuruh(lebay).

Tapi, generasi itu tak pernah manja dan main lapor-laporan keorang tua. Karena ibarat pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Hal itu berarti, laporanmu adalah bukti ketidakpatuhanmu kepada guru-guru yang telah mendidikmu. Sebaliknya, dengan berbekal UU HAM, anak-anak dengan tingkat kenakalan level 100 kategori parah menjadi lebih bebas berekpresi saat ini. Cubit sedikit eksekusinya penjara. Lucu sih.

Di sisi lain, dalam kegiatan sosial, dulu, traditional games adalah hal dominan dalam mengisi gelak tawa anak-anak. Kini menjadi kenangan dengan berbagai meme yang kita bisa lihat disosial media. Menghabiskan waktu diluar rumah untuk bermain bersama, begitu amat menyenangkan. Murni dari campur tangan teknologi. Meskipun terkadang tangis juga mengisi.

Sangat beda dengan era digital kini. Anak sekolah dasar pun sudah memiliki smartphone. Kesekolah membawa smartphone, makan tak lupa membawa smartphone, belajar kelompok sibuk dengan smartphone dan bermain bersama smartphone. Sangat sedikit kita bisa melihat anak-anak bermain seperti dulu. Masuk hutan, kejar-kejaran, muka penuh keringat dan lain sebagainya.

Padahal, Pendidikan dan jiwa Sosial adalah pondasi pembentukan mental individu. Jadi, pembentukan perilaku personal diciptakan oleh kegiatan dengan siapa kita bersama. Apakah kondisi yang sadis, demokratis, bijak ataukah manja-manjaan. Jika secara rutin kita melaluinya bersama siswa-siswa ranking 1 (para juara kelas) hampir dipastikan kita akan menghabiskan waktu bersama buku tercinta.

Sedangkan bagi individu-individu yang menghabiskan pikirannya dengan mereka yang selalu memalak anak-anak kaya, nongkrong bukan didalam sekolah pastilah memaksa anak itu berperilaku gangster. Sehingga menimbulkan apa yang telah saya paparkan pada paragraph pertama tadi.

Namun sebenarnya, saya tidak sependapat dengan hal tersebut secara total, kenapa? Karena itu adalah pandangan umum yang mungkin berhasil seperti itu. Soalnya banyak cerita tentang from minus to hero (dari preman to Dosen). Buktinya dosen saya dulu, ketika masih berstatus mahasiswa, benda-benda tajam adalah sahabat setia.

Saya juga pernah mengarungi cerita bersama para preman. Dan hasilnya, saya tetap peduli kok dengan perkembangan pendidikan. Nothing change. Yang menjadi pertanyaan, mengapa bisa?

Saya percaya hal tersebut rumusnya adalah keluarga. Sepreman-premannya sifat yang saya miliki akan tetapi lebih preman ibu saya. Mau membentak malah dibentak. Jadi, preman yang sukses adalah preman yang mampu mengalahkan ibunya.

Untuk itu, baiknya para ibu harus tangguh, bijak menyikapi perkembangan si anak. Dengan meramu perasaan memanjakan, memarahi dan mengasihi. Jangan ada yang tumpah tindih agar menghasilkan putra putri yang bijak. Apalagi kalau kalah oleh sianak.

Banyak sekali ibu di Indonesia cenderung memanjakan. Saya tidak mencoba menghakimi tapi itulah yang terjadi. Mau ini di berikan. Mau itu di belikan, tragis. Padahal uang didompet tak cukup untuk sebulan. Memanjakan bukan perihal yang salah tapi caranya.

Yah nggak mungkin lah memanjakan anak dengan membiarkan mengkonsumsi sinetron-sinetron tak bermoral yang dimana tak mampu melawan hasrat sianak. Anak-anak tidak mengetahui apa yang baik dan yang buruk. Mereka hanya menyerap. Apalagi dengan usia relatif muda.

Sangat banyak penyakit mental telah  diberitakan dari sabang sampai merauke dari era 90 sampai saat ini. Tidak ingin membandingkan namun, sayang sekali jika para pendidik tidak lagi dihormati seperti dulu.

Berbagai tanggapan muncul terkait konflik guru dan murid ini, ada yang prihatin, melakukan tindakan pencegahan dan ada juga yang pasif. Sepertinya, hal tersebut tergantung pada siapa mereka. Orang-orang dengan status pegawai biasanya berinisiatif dengan rasa prihatin. Hanya memberikan komentar terkait perkara. Bagi aktivis yang telah melalang buana diberbagai tempat kejadian perkara inilah yang biasa melakukan tindakan pencegahan. Misalnya, menyibukan generasi muda dengan berbagai kegiatan.

Saya pun seperti itu, daripada mengoceh sana sini lebih baik berbuat sesuatu yang positif. Salah satunya adalah kelompok belajar kecil-kecilan. Karena saya percaya bangsa yang kokoh lahir dari gerakan-gerakan kecil yang aktif dan bermanfaat.

Pada intinya, untuk menjawab kerusakan moral saat ini adalah Revolusi Mental. seperti yang telah pemerintah cita-citakan. Ini adalah perkara yang sangat-sangat baik. Namun, Pemerintah haruslah berupaya agar revolusi mental lebih di koar-koar sampai ketitik terkecil dilingkup masyarakat.

Misalnya dengan melibatkan Masyarakat, Pak RT dan Pak RW atau Pak Desa dan Bu Desa dengan membuat berbagai kegiatan. Entah itu program cinta lingkungan atau program pengembangan diri dengan melihat Sumber Daya Manusia yang pasif. Sebab lahirnya perilaku kriminal adalah ketidakikutsertaan mereka dalam kegiatan sosial di masyarakat dan juga kurangnya pengetahuan dari orang tua dalam memperbaiki mental mereka.

Jadi, marilah mengedukasi anak-anak kita generasi muda untuk bijak mengonsumsi teknologi sebagai salah satu akar masalah yang tidak dipahami oleh sebagian masyarakat ibu pertiwi ini dan menanamkan jiwa sosial sedini mungkin tentang bagaiamana pendidikan seharusnya tersistem.

#LombaEsaiKemanusiaan