2 tahun lalu · 6293 view · 5 menit baca · Saintek ape_skeletons.png
Foto: Wikipedia

Evolusi Manusia dan Seleksi Alam

Seri Kajian Ramadhan

Saya lupa kapan pertama kali saya memahami teori evolusi dengan benar. Sudah pasti bukan di sekolah. Sudah pasti juga bukan ketika saya mahasiswa undergrad. Di tengah lingkungan yang sesak dengan agama, cuma keajaiban yang bisa menyelamatkan saya dari teror penolakan terhadap teori evolusi.

Saya harus menggarisbawahi kata “memahami teori evolusi dengan benar” di sini, karena banyak orang yang mengklaim paham teori evolusi tapi sesungguhnya sedang membayangkan sesuatu yang lain, bukan teori yang dijelaskan oleh Charles Darwin, sang proklamator evolusi.

Darwin bukanlah orang pertama yang mengenalkan teori evolusi. Ada beberapa ilmuwan sebelum Darwin yang berbicara tentang evolusi. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Darwin adalah ilmuwan yang paling bertanggungjawab atas terkenalnya teori ini dan sekaligus bertanggungjawab karena membuatnya menjadi teori paling kontroversial di muka Bumi.

Sebagaimana terjadi pada banyak orang, dulu saya memahami teori evolusi secara keliru. Saya pikir bahwa teori evolusi adalah perubahan pada suatu makhluk hidup secara linear, dari satu jenis ke jenis yang lain. Kesalahpahaman ini sepenuhnya ditanamkan oleh para penolak teori evolusi yang sejak awal memang tak paham atau tak mau paham dengan teori ini.

Dengan pemahaman seperti itu, kita dengan mudah menolak doktrin yang selalu disematkan kepada Darwin, yakni bahwa manusia berasal dari kera. Argumennya sederhana, “jika manusia berasal dari kera, kok kera masih ada sampai sekarang.” Masuk akal, tapi menggelikan.

Kebodohan memang tidak ada batasnya. Ketakutan akan sesuatu yang tidak kita pahami bisa melahirkan kebencian. Caci-maki dan kecaman terhadap teori evolusi dan penemunya bermula dari kebodohan dan ketakutan semacam ini.

Seleksi Alam

Kata kunci untuk memahami teori evolusi adalah “seleksi alam.” Sebelum Bioteknologi berkembang pesat seperti yang kita kenal sekarang, alam adalah satu-satunya “agen” yang dapat menyeleksi keberlangsungan makhluk hidup. Kini, setelah teknologi semakin canggih dan manusia semakin mendekati peran Tuhan, seleksi tidak hanya dilakukan oleh alam, tapi juga oleh manusia.

Ketika ilmuwan berbicara tentang evolusi manusia atau evolusi anjing atau evolusi lumba-lumba, maka yang dimaksudkannya adalah evolusi lewat seleksi alam. Manusia menjadi seperti sekarang ini (homo sapiens) lewat seleksi ketat yang panjang. Darwin menggambarkan proses seleksi sebagai sesuatu yang “brutal,” yang tak hanya menyangkut nyawa individu, tapi keberlangsungan spesies.

Sejak makhluk hidup (organisme) muncul di permukaan bumi sekitar 3,5 miliar tahun silam, sudah jutaan spesies yang muncul dan punah. Kepunahan mereka akibat seleksi alam. Yang selamat dan bertahan hidup adalah mereka yang cocok (fit) dengan kondisi alam. Mereka yang tidak cocok akan mati dan lenyap.

“Yang paling cocok” (the fittest) adalah kata kunci kedua untuk memahami teori evolusi. Dalam persaingan menuju keberlangsungan, hanya yang cocok --yang mampu beradaptasi-- dengan alam yang bisa bertahan. Survival of the fittest. Alam tidak memilih yang terkuat atau yang tercepat atau yang terbesar, tapi yang tercocok.

Mengapa homo erectus punah padahal mereka sempat bertahan ratusan ribu tahun? Mengapa neanderthal lenyap dari muka bumi padahal ukuran fisik mereka lebih besar dibanding homo sapiens? Mengapa dinosaurus punah sementara tikus bertahan? Jawabannya: survival of the fittest.

Ketika saya kecil, di pinggiran Jakarta, saya sering menjumpai capung dan kupu-kupu. Kadang-kadang saya masih melihat burung berwarna-warni dan juga tupai. Tapi, sekarang, semua hewan itu hilang. Saya tak pernah menjumpainya lagi. Lingkungan yang berubah dan alam yang tak lagi bersahabat membuatnya tak lagi cocok bagi mereka.

Tapi tikus got, jumlahnya tak berkurang, tubuhnya makin subur, dan kecerdasannya tampak mengalahkan rata-rata kucing rumahan. Lingkungan dan alam di sekitar rumah saya yang berubah tidak cocok bagi capung dan kupu-kupu, tapi sangat cocok bagi tikus got. Survival of the fittest.

Manusia dan Kera

Salah satu dasar penolakan kaum beragama dan sebagian besar para penolak teori evolusi adalah karena teori ini mengajarkan bahwa manusia berasal dari kera. Benarkah teori evolusi mengajarkan doktrin seperti itu? Jika benar, apa maksudnya?

Dalam tulisan terdahulu, saya sudah menjelaskan bahwa “manusia berasal dari kera” hanyalah salah satu isu saja dalam teori evolusi. Yang membuat banyak orang marah sesungguhnya bukanlah menyamakan manusia dengan kera. Beratus-ratus tahun manusia sadar bahwa bentuk fisik mereka cukup mirip dengan kera, setidaknya jika dibandingkan dengan kuda, sapi, atau tonggeret.

Yang membuat kaum agamawan marah dengan doktrin “manusia berasal dari kera” adalah implikasinya. Jika doktrin ini diterima, serta-merta ajaran tentang penciptaan runtuh. Teori evolusi tak memberi ruang satu incipun pada penciptaan. Menerima teori evolusi sama saja dengan membunuh doktrin agama tentang penciptaan.

Tapi, benarkah doktrin itu ada dalam teori  evolusi? Benarkah Darwin mengatakan bahwa “manusia berasal dari kera”? Jika pertanyaan ini diajukan kepada saya, saya akan mengobservasi orang yang bertanya; jika dia cukup cerdas dan punya imaginasi, saya akan jawab “iya,” tapi jika dia tampak lusuh, berjidat hitam, dan sering teriak-teriak di jalan, dengan mantap akan saya jawab “tidak.”

Doktrin “manusia berasal dari kera” barangkali adalah isu paling kontroversial dalam teori evolusi dan menjadi alasan paling mendasar orang menolak teori ini. Dalam sejarah sosial-politik Barat, khususnya di Amerika, isu ini telah berulangkali muncul dan bahkan sampai ke pengadilan. Kasus ini dikenal dengan sebutan “monkey trial” atau peradilan monyet. Jika Anda tertarik dengan isu ini, silahkan baca di sini atau bisa dilihat film dokumentasinya di tautan ini.

Saya pernah jelaskan sebelumnya bahwa syarat utama memahami teori evolusi adalah memiliki imaginasi. Yang miskin imaginasi pasti gagal memahami teori ini. Darwin tidak mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, tapi manusia memiliki nenek-moyang yang sama dengan kera modern (simpanse, gorila, orang utan). Manusia sendiri adalah bagian dari keluarga kera besar (hominid).

Pelajaran Biologi dasar mengajarkan kepada kita bahwa makhluk hidup memiliki hirarki taksonomis yang berujung pada satu nenek moyang yang biasa disebut dengan istilah “common ancestor” (moyang bersama). Moyang bersama manusia dan orang utan hidup sekitar 14 juta tahun silam. Di antara kera besar, manusia dan simpanse adalah yang termuda. Moyang keduanya hidup sekitar 5 juta tahun silam (perhatikan gambar di bawah ini).

Phon EVolusi
Pohon Evolusi

Pernyataan “manusia berasal dari kera” tidak sepenuhnya salah, karena bentuk fisik moyang bersama homo sapiens dan kera modern lebih mirip kera ketimbang manusia. Kecuali Anda merasa keberatan dengan pernyataan ini, Anda bisa mengubahnya dengan frase seperti yang dibuat Darwin.

Soal asal-usul dan nenek-moyang manusia memang seperti sebuah dongeng. Agama mempunyai dongengnya sendiri. Begitu juga Sains. Agama meyakini bahwa manusia berasal dari tanah (Adam diciptakan dari tanah liat), sementara Sains meyakini bahwa manusia tidak diciptakan, tapi berevolusi dari makhluk yang mirip dengan kera.

Keputusan antara memilih yang pertama atau yang kedua mensyaratkan iman yang kokoh, baik iman kepada agama maupun Sains.

Seorang teman yang imannya kepada Darwin bak iman para rasul kepada Allah pernah bertanya kepada saya: mana yang Anda pilih, mempunyai nenek-moyang bersama dengan kera atau bersama dengan kendi dan genteng?

Saya tak sanggup menjawabnya.