IT Staff Qureta
1 bulan lalu · 127 view · 3 min baca menit baca · Kesehatan 35421_55023.jpg
kitabisa.com

Evelyn Ingin Sembuh

Namanya Evelyn. Bocah itu belum berumur 10 tahun ketika saya pertama kali mendengar cerita ini dari teman baik saya yang kebetulan adalah kakak Evelyn sendiri. Ini suatu cerita yang bagi saya memilukan hati kecil, dan mungkin tak akan pernah sanggup saya hadapi jika terjadi pada salah satu anggota keluarga saya.

Gadis kecil nan malang itu harus menghadapi kenyataan bahwa tubuh mungilnya harus divonis oleh dokter mengidap penyakit Thalasemia Beta Mayor ketika usianya masih berumur 2 tahunan seingat saya melalui cerita kakaknya. Saya sempat shock mendengarnya, meskipun waktu itu saya tidak mengerti penyakit apa itu, namun dalam benak saya, pastilah bukan suatu penyakit ringan.

Setelah mendapat penjelasan dan mencari artikel terkait, barulah saya sedikit mengerti bahwa Thalasemia Beta Mayor merupakan suatu kelainan genetik yang membuat tubuh tidak dapat memproduksi sel darah merah dengan baik.

Tetapi saya bukan ahli medis yang mengerti sepenuhnya akan kelainan genetik tersebut. Untuk itu, agar lebih memperjelas apa itu Thalasemia, berikut saya berikan lansiran dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Thalassemia merupakan salah satu penyakit genetik terbanyak di dunia yang ditandai dengan tidak terbentuk atau berkurangnya salah satu rantai globin baik itu -α ataupun -β yang merupakan komponen penyusun utama molekul hemoglobin normal. Berdasarkan hal tersebut, thalassemia dibedakan menjadi thalassemia -α dan thalassemia -β. 

Secara klinis, thalassemia dibagi menjadi: 1. thalassemia mayor, di mana pasien memerlukan transfusi darah yang rutin dan adekuat seumur hidupnya. Pembagian ke 2. bila pasien membutuhkan transfusi tetapi tidak rutin, maka disebut sebagai thalassemia intermedia ke-3., bila tanpa gejala, secara kasat mata tampak normal, disebut sebagai pembawa sifat thalassemia.


Indonesia termasuk salah satu negara dengan angka kejadian thalassemia yang tinggi. Kondisi itu dilihat bukan berdasarkan jumlah pasien, namun, seperti yang diungkapkan oleh Dr. dr. Pustika Amalia Wahidiyat, SpA(K), hal tersebut dilihat melalui frekuensi kelainan gen yang ditemukan. 

Di Indonesia, deteksi untuk thalassemia -α agak sulit dilakukan oleh karena memerlukan pemeriksaan DNA dan pemeriksaan tersebut baru dapat dilakukan di beberapa kota besar saja. Berdasarkan data dari Lembaga Eijkman angka kejadian thalassemia -α di Indonesia sekitar 2,6-11%, banyak ditemukan di Pulau Sulawesi, yaitu pada suku Bugis ataupun suku Kajang. 

Sedangkan thalassemia -β, ditemukan rata-rata sekitar 3-10%, dengan pembawa sifat terbanyak ditemukan di P. Sumatera, dan sekitar hampir 10% di daerah Palembang. Di di Pulau Jawa, angka pembawa sifat sebesar 5%. Sedangkan untuk kelainan hemoglobinopati, pembawa sifat hemoglobin E ditemukan sebesar 1,5-33% dan terbanyak didapatkan di Pulau Sumba.

Dampaknya, Evelyn harus menjalani pengobatan dalam bentuk transfusi darah setiap 3 minggu sekali, dengan biaya yang tentu tidak sedikit. Beruntung saat ini tertolong oleh program BPJS Kesehatan yang dimiliki, serta beberapa bantuan dari pemerintah setempat.

Namun, dalam benak setiap orang yang mengetahui dan mendengar cerita ini, termasuk pihak keluarga, pasti berpikir apakah bocah kecil itu hingga dewasa nanti harus selalu melakukan transfusi darah? 

Sedangkan dampak lainya, menurut keterangan dari saudara Evelyn yang merupakan teman dekat saya, transfusi tersebut dapat mengakibatkan efek samping kegagalan organ yang sewaktu-waktu dapat menjadi fatal, hingga menyebabkan kematian.

Bagi saya pribadi, sungguh tidak adil untuk gadis sekecil itu, yang belum mengerti apa yang sedang dia hadapi, gadis yang harusnya tumbuh menjadi wanita cantik, dengan masa depan yang luas dan cerah yang dapat memalingkan mata semua pria yang melihatnya harus berurusan dengan takdir yang memilukan.

Ditambah, satu hal yang bagi saya memilukan, cerita di mana gadis itu selayaknya anak seumurannya, tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya sedang mengidap sesuatu yang berbahaya, melainkan selalu ceria yang ditunjukkan olehnya, terutama untuk kakaknya tercinta, teman saya.


Namun, jika kita percaya pada mukzijat, keajaiban serta kuasa Tuhan, masih ada jalan untuk menyebuhkan Evelyn, yaitu dengan BMT - Bone Marrow atau Transplant tulang sum-sum belakang, di Bangkok, Thailand. Meskipun persentase keberhasilan akan metode ini tidak bisa seratus persen. Apa boleh buat, ini pilihan satu-satunya. 

Tetapi, lagi-lagi hambatannya adalah biaya yang sangat besar. Menurut pihak keluarga, dibutuhkan sekitar Rp2 miliar untuk menjalankan prosedur pengobatan tersebut. Pihak keluarga yang harus juga disadari bukanlah dari kalangan berada yang mampu untuk membayar semua itu.

Dan untuk itu, dengan penuh rasa memohon belas kasih serta rasa kemanusiaan dari para pembaca semua, pihak keluarga memerlukan bantuan berupa donasi akan kebutuhan pembiayaan pengobatan Evelyn, yang dapat diakses melalui tautan ini: Aku Ingin Jadi seperti Mereka.

Bagi saya pribadi, ini bukanlah masalah nominal, tapi masalah kepekaan kita sebagai sesama manusia, apa pun agama, ras, suku, dan latar belakang Anda, serta salah satu bagian untuk merasakan indahnya berbagi untuk sesama.

Dan semoga Evelyn dapat sembuh dan tumbuh sebagaimana mestinya. Amin.

Artikel Terkait