Mahasiswa
2 tahun lalu · 1677 view · 2 menit baca · Saintek images_2.jpeg

Evaluasi Otak Ahok

Retorika birokrasi Gubernur DKI Jakara, Basuki Cahaya Purnama (selanjutnya ditulis: Ahok) dinilai berbeda dengan para pimpinan daerah lainnya. Dalam menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya, tak jarang Ahok berbicara dengan nada yang tinggi dan tiada filtrasi untuk menyaring setiap untaian kata yang keluar dari mulutnya.

Satu sisi Ahok dinilai sebagai sosok yang berani dan tegas, sisi lainnya menilai bahwa ia adalah sosok pemimpin yang angkuh dan arogan. Dua penilaian masyarakat yang berbeda atas makna di balik sosok seorang Ahok tentu suau hal yang lumrah dan wajar. Terlebih bahwa kewajaran tersebut hadir dari dua kelompok yang menyandarkan penilaiannya atas dasar suka atau tidak suka (like or dislike).

Bagi pendukung Ahok, sikap tersebut merupakan suatu bentuk keberanian dan ketegasan seorang pemimpin, namun bagi kelompok di sebrangnya, Ahok tak lebih hanya sebagai sosok pemimpin yang kasar. Jika kedua penilaian di atas didasarkan atas suka atau tidak suka (like or dislike), maka ukuran dalam menentukan kebenaran makna atas retorika seorang Ahok bersifat subjektif, ukurannya tidak jelas.

Pertanyaannya adalah, apakah ada penilaian lain yang bersandar pada aspek objektivitas ilmu pengetahuan? Adalah Taruna Ikrar, Guru Besar Neurobiologi Universitas of California yang mencoba untuk memberikan analisa dan penilaian atas fenomena Ahok dari sudut pandang sains modern khususnya neurosains.

Ia menyatakan bahwa Ahok merupakan salah satu model pemimpin yang perlu dievaluasi otaknya. Sebagai seorang ahli otak dan sistem saraf yang ada di dalam diri manusia, Taruna mencoba untuk menganalisa dan mengevaluasi sikap dan prilaku Ahok yang selama ini dinilai ada kelainan di dalam dirinya.

Setidaknya ada 3 (tiga) cara khusus (special method) untuk mengevaluasi otak Ahok, yaitu: performance emotions, unstable less empathy, dan wild decision making. Pertama, performance emotions adalah emosi yang tidak stabil yang menunjukkan adanya ketidakstabilan kimia otak di dalam tubuh.

Jika hal ini dialami oleh seseorang, maka dampak yang ditimbulkan akan sangat berbahaya, terlebih seseorang tersebut memiliki kekuatan dan kekuasaan. Kedua, unstable less empathy adalah kurangnya rasa empati terhadap persoalan sosial kemasyarakatan. biasanya ini terjadi jika seseorang memiliki hambatan rasa di area sublimbic otak.

Gejala ini merupakan suatu keadaan bahwa terdapat yang salah dalam sistem interaksi antara aspek logical-kognitif dan emosi. Biasanya hal ini disebabkan oleh trauma seseorang terhadap masa lalu. Ketiga, wild decision making yaitu seseorang yang ketika mengambil suatu putusan tidak menyertakan pertimbangan-pertimbangan yang matang, atau tidak menyertakan potensi fungsi luhurnya.

Jika seseorang terindikasi memiliki beberapa hal seperti yang disebukan di atas, maka seseorang tersebut disebut sebagai disorder personality. Taruna menilai bahwa Ahok sedang mengalami kelainan seperti itu. Secara tegas Taruna menyatakan: “Ahok perlu dirujuk ke pakar Neurosains. Saya bersedia memberikan advokasi dan pendampingan.”

Bagi penulis, apa yang dikatakan oleh Taruna merupakan hipotesa yang didasarkan atas diagnosa dari luar, yang tentunya kebenaran atas hipotesanya tersebut harus dibuktikan dengan cara verifikasi dan melakukan pemeriksaan secara langsung kepada yang bersangkutan.

Selanjutnya apakah Ahok mau atau tidak menerima tawaran baik dari seorang Profesor yang sedang diusulkan menjadi calon penerima Nobel di bidang Kedokteran oleh Universitas California tersebut. Ketegasan dan keberanian seorang Ahok dalam menyampaikan suatu bentuk kebijakan tentu merupakan suatu kewajiban dan harapan kita bersama. Namun di atas itu semua, ada suatu hal yang telah ia lupakan; kebijaksanaan. Karena menurut sang guru, “hukum tanpa hikmah hanya akan melahirkan kebijakan tanpa kebijaksanaan.”

Artikel Terkait