Akhir-akhir ini sedang terjadi perdebatan didunia sepakbola tentang rancangan terbentuknya Europan Super League, rancangan ini menjadi kontroversi dikarenakan sistem yang akan dijalankan pada gelaran ini merubah budaya dan sejarah yang telah terbentuk lama.

Selain itu ada hal pro dan kontra yang menyangkut tentang kesejahteraan dan bisnis orang-orang yang berkecimpung didunia sepakbola karena sistem yang dibuat sangat bertolak belakang dengan kaidah yang telah dibuat oleh FIFA dan UEFA selaku induk sepakbola dunia dan eropa yang menaungi klub yang akan mengikuti gelaran ini.

Hal lain yang menjadi kontroversi adalah karena klub dan pemain yang akan mengikuti gelaran ini akan dibanned dari tournament besar sepakbola seperti piala dunia dan piala euro guna mencegah pemain dan klub mengikuti Europan Super League.

Lebih parahnya lagi klub dan pemain juga dilarang melakukan transfer pemain Ketika mengikuti Europan Super League. Seperti yang diketahui bahwasannya transfer pemain menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh pecinta sepakbola karena kerap memunculkan kejutan.

Kebijakan mendadak yang dibuat FIFA dan UEFA seperti ini yang memunculkan perdebatan-perdebatan antara golongan yang pro dengan ESL dan Kontra dengan ESL karena informasi yang didapat juga cukup detail disampaikan oleh petinggi-petinggi klub.

Dalam tulisan ini saya akan coba memberikan informasi yang saya dapat dari media-media olahraga khususnya sepakbola dan memberikan pandangan pribadi saya tentang wacana gelaran ini.

Bisnis besar para konglomerat klub

Berjalannya kompetisi ini menimbulkan perdebatan dikalangan orang-orang yang berkecimpung didunia sepakbola antara lain pemain, pelatih, dan fans. Ada golongan yang pro dengan kompetisi ini dan ada juga golongan yang kontra dengan kompetisi rancangan Florentino Perez selaku presiden Real Madrid.

Golongan yang kontra berpendapat bahwasannya kompetisi ini hanya menjadi kepentingan para petinggi klub peserta yang ikut dimana tujuan mereka mengikuti gelaran ini hanya semata-mata untuk mencari uang yang lebih banyak tanpa memikirkan sejarah, fans, dan tradisi klub yang sudah lama mereka jalani. Golongan yang kontra dengan kompetisi ini langsung melakukan demo besar-besaran yang dipimpin oleh kelompok fans dari masing-masing klub.

Statement-statetment tentang Europan Super League juga bermunculan dari para legenda sepakbola yang telah pensiun, salah satunya dari Garry Nevile salah satu legenda klub Manchester United yang berpendapat bahwa “Kompetisi ini sungguh memalukan. Itu tidak akan pernah terjadi. Biarkan mereka melepaskan diri, tapi hukum mereka. Hukum saja mereka,” statementnya kepada jurnalis Sky Sports.

Sementara golongan yang pro dengan kompetisi ini beragument bahwasannya kompetisi ini adalah kompetisi yang sangat menguntungkan karena kompetisi ini bisa melepaskan semua orang yang berkecimpung didunia sepakbola dari perbudakan yang dilakukan UEFA selaku induk sepakbola eropa.

Dimana yang merasakan perbudakan ini adalah dari kalangan yang berkecimpung didunia sepakbola sendiri khususnya pelatih dan pemain yang merasakan perbudakan dari padatnya jadwal bertanding mereka.

Kesejahteraan pemain mulai luntur

Padatnya jadwal bertanding ini sangat dirasakan oleh klub-klub eropa khususnya yang akan mengikuti turnamen Europan Super League ini. Dimana seluruh pemain mereka sering dibekap cedara karena padatnya jadwal yang dijalani, selain itu feedback yang didapatkan klub-klub eropa juga tidak layak dimana mereka tidak jarang mengalami kerugian finansial disetiap musimnya.

Walaupun semakin banyak sponsor dan hak siar televisi yang masuk ini bukan menjadi jaminan klub-klub sepakbola bisa meraup keuntungan apalagi ditambah situasi Pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Dimana para penonton juga dilarang untuk memasuki stadion karena mencegah Pandemi ini semakin menyebar, tentu saja ini menjadi sebuah kerugian untuk klub-klub besar ini untuk meraup keuntungan secara mereka memiliki basis penonton yang cukup besar didunia.

Dampak ini lah yang dilihat para petinggi klub-klub besar ini dengan menggandeng JPMorgan yakni salah satu institusi perbankan asal amerika untuk mendapatkan penghasilan.

tambahan, walaupun ada klub yang sudah kaya raya tetap mengikuti kompetisi ini sebut saja seperti Chelsea dan Manchester City dimana tujuan mereka bukan hanya semata-mata karena uang saja melainkan untuk meningkatkan kualitas klub mereka sehingga tidak dianggap tertingal dari klub-klub lain.

Sejarah dan Tradisi yang dikesampingkan

Dengan adanya gelaran ini tentu saja lambat laun sejarah dan tradisi yang telah terbentuk cukup lama perlahan akan hilang dikarenakan format dari kompetisi ini sendiri yang sudah sangat berbeda, walaupun melihat baiknya kesejahteraan suatu klub akan terpenuhi apabila mengikuti kompetisi ini.

Tapi sejarah dan tradisi tidak bisa dihilangkan begitu saja mengingat sepakbola yang telah terbentuk cukup lama telah menghadirkan tontonan yang cukup mengesankan dan bisa diterima oleh banyak pihak.

Tentu saja kompetisi ini akan menghadirkan perdebatan yang cukup menarik, mengingat ide ini telah menimbulkan propaganda dikalangan para orang yang berkecimpung didunia sepakbola walaupun hasil akhir dari kompetisi ini berjalan atau tidak Kembali ke kesepakatan UEFA, FIFA, dan para orang yang berkecimpung di Europan Super League.

Pendapat saya pribadi sebagai pecinta sepak bola, saya mendukung gelaran ini karena bisa mengangkat kesejahteraan seluruh orang yang terlibat dalam klub ini sehingga apabila kesejahteraan didapatkan maka kualitas sepak bola akan semakin baik dan para penikmat sepakbola bisa mendapatkan tontonan yang berkualitas.

Pendapat saya kurang lebih terinspirasi oleh salah satu teori yang disampaikan oleh komentator bola Indonesia yakni coach justin yang beranggapan bahwa Europan Super League ini adalah bentuk perlawanan terhadap kearogansian FIFA dan UEFA.

Saya tidak menganggap sepakbola sekarang kurang baik namun saya berpendapat bahwasannya ada yang harus diperbaiki dan diperbarui di sepakbola mulai dari jadwal, pendapatan, dan kejelasan peraturan disepakbola.