Awalnya saya mengira fenomena YouTube akan bernasib sama seperti mIRC, BBM, atau Yahoo Messenger, yang booming sesaat lalu musnah. Namun nyatanya YouTube malah makin membesar menjadi raksasa tunggal dalam platform berbagi video ini.

Youtube serupa magnet dunia pervideoan. Ibarat daun teh, ia adalah pucuknya. Paling segar dengan kandungan vitamin tinggi bagi manusia-manusia modern yang haus pengakuan dan hiburan. Hal-hal yang dulu biasa kita nikmati lewat radio, tayangan televisi atau melalui sebuah tulisan, kini bisa dengan lebih mudah, murah, dan enak tersaji melalui gambaran visual sesuai selera orang perorang.

Dahulu, misalnya, ketika ingin membuat aneka masakan kue, saya bisa pinjam buku resep masakan ke teman, mencari di blog atau website yang menyediakan tulisan tentang menu makanan lewat mesin pencari (google tentunya, ini juga raksasa tunggal!). Saya baca lalu praktikkan.

Namun sekarang saya bisa dengan khidmat nan santai melihat secara langsung praktik pembuatan kue itu dalam tayangan video. Tentu tanpa capek membaca dan jauh dari berasumsi. Ini laksana melihat emak-emak memasak dari dapurnya langsung, Guys! Merasai ulekannya, memandang bentukannya, sekaligus menikmati tetesan air liurnya.

Saya contohkan lagi, misalnya saya ingin membuat kolam ikan di rumah, dulu saya mencari info di majalah atau tanya teman atau tanya tetangga. Makin ke sini saya lebih mudah belajar lewat tutorial di website. Namun sekarang ini saya malah lebih nyaman manakala tutorial ini bisa saya lihat proses dan hasilnya lewat tayangan berbagi video ini.

YouTube sejalan dengan selera zaman post truth ini, instan, praktis, mudah, dan amazing!

Beberapa cerita di atas membuat saya termenung, bagaimana dengan nasib para manusia pekerja nyata di sekitaran kita yang akan tertutup keran kreasinya akibat begitu merebaknya fenomena ini. Bagaimana nasib para penulis, nasib para cerpenis, para blogger, atau para pekerja di industri pertelevisian, dan pekerja-pekerja lain sejenisnya yang mesti menyesuaikan ritme kekiniannya?.

Lihat saja misalnya stasiun-stasiun TV yang sudah tampak mulai ngos-ngosan dalam memproduksi sebuah tayangan. Kita dapat melihat sekarang ini banyak sekali tayangan di TV hasil saduran dari YouTube. Entah acara memasak para artis, tayangan 7 fenomena unik, berita kriminal, atau sekadar acara gosip-gosipan.

Atau misalnya fenomena tentang para blogger yang pelan-pelan menutup blognya dengan meninggalkan begitu saja blog yang mati suri. Mereka berbondong-bondong beralih menjadi content creator di YouTube. Atau lihatlah misalnya para cerpenis yang lebih tertarik membuat cerita-cerita pendek lucu bin unyu-unyu di channel ini.

Youtuber fenomenal Indonesia semacam Atta Halilintar yang punya subscriber 22 sekian juta atau Ria Ricis yang punya pengikut 20 juta, hampir 10% penduduk Indonesia adalah pengikutnya. Bandingkan dengan penulis kenamaan semisal Sujiwo Tejo yang punya follower di Twitter ‘hanya’ sebanyak 1,7 juta, atau novelis Dewi Lestari yang punya follower di laman Instagram sebanyak ‘lagi-lagi hanya’ 309 ribu atau di Twitter ia punya pengikut sejumlah 1,7 juta.

Berbeda misalnya dengan penulis sekaligus Youtuber Raditya Dika. Sebagai Youtuber, ia mempunyai subscriber sejumlah 8,71 juta. Sebagai penulis, seperti di Instagram pengikutnya hanya 15 ribu sekian, tetapi di Twitter ia punya 15,7 Juta pengikut. Sebuah transformasi penulis multideminsional yang mengerti benar ceruk pasar.

Ya sudahlah, yang sudah beralih ya biarkan beralih, bermetamorfosis dan taat pada hukum alam. Tetapi bagaimana nasib para penulis lainnya yang secara umum hidup dari merangkai kata menelurkan gagasan yang berada jauh sekali dari gambaran elok visual, mereka yang hanya berkutat dengan imajinasi belaka?

Memang, satu-satunya kelemahan kanal ini, menurut sependek pengetahuan saya, adalah imajinasi, yang tidak bisa kita dapatkan di kanal. Kita dibatasi pagar-pagar kenyataan visual. Namun sepertinya imajinasi inilah sang pembunuh berdarah dingin yang secara perlahan mematikan eksistensi para penulis.

Kita saksikan bagaimana para penulis terus saja tergerus dan kehilangan pasar pembacanya, buku-buku yang semakin mengecil oplahnya, tergantikan oleh tayangan-tayangan seminar, pelatihan, workshop, dan semacamnya yang tentu saja lebih menarik, baik karena pengaruh videografis, kemasan ataupun karena keterkenalan tokohnya.

Saksikan juga para penulis yang tak lagi di-setiai para pembacanya, seperti misalnya majalah otomotif, majalah pertanian, majalah politik, atau majalah segmented lainnya  yang hidup segan mati tak mau. Media yang terkalahkan oleh tutorial-tutorial receh.

Hal di atas ditambah lagi dengan faktor persaingan antar penyedia layanan internet. Mereka bersaing secara gila-gilaan dengan menawarkan paket internet dengan harga terbaik. Membuat para netizen semakin dimanja dan menjadi lebih maniak.

Dengan slogan ‘Broadcast Yourself’, para penikmat saluran ini selain bisa berlaku sebagai objek, ia sekaligus juga dapat menjadi subjek dengan mengunggah video-video sesuai dengan minatnya. Disajikan dari satu manusia ke banyak manusia yang lain hingga membuat sekat komunal makin bias, buah dari penegasan tentang standarisasi pengakuan eksistensi manusia milenial.

Manusia milenial cenderung agak susah diajak berpikir serius, ‘Generasi Rebahan’ mereka biasa menyebutnya. Jadi manakala anda temukan video-video ‘tidak penting’ tapi viral, ya memang cuman segitu seleranya. Selera pasar sudah berubah, bung!

Coba lihat misalnya, tutorial ‘Tidak Melakukan Apa-apa’ atau tutorial ‘rebahan’, dengan tontonan orang yang sedang tak melakukan apa-apa hanya mlongosaja tapi lihat penontonnya bisa puluhan, ratusan ribu bahkan jutaan. Oh, jayalah negeri ini.

Merunut ke belakang, generasi saat ini adalah hasil bentukan dari generasi sebelumnya yang mengajarkan kehidupan lewat peninggalan-peninggalan ilmu pengetahuan yang kita sesap melalui goresan tinta sejarah, melalui manuskrip kuno, atau melalui pahatan-pahatan di dinding-dinding batu. Kebanyakan melalui tulisan, sketsa, heirogliph, atau entah apa namanya.

Namun menurut pandangan saya, sebagus apapun tayangan Youtube, ia sampai saat ini belum bisa menggantikan tulisan dengan keindahan kata dan kedalaman makna. Apalagi untuk jenis tulisan bergenre sastra,tentu masih layak untuk dipertahankan saat ini, entah beberapa tahun ke depan.

Karena hanya sastralah yang masih serius memperhatikan rima dan diksi. Ia bisa mempermainkan imajinasi sekaligus emosi manusia melalui liukan kata-kata serta tarikan tanda baca. Selebihnya biasa saja.

Mirisnya lagi, jumlah penambahan penulis baru yang cenderung stagnan berbanding terbalik dengan penambahan jumlah para vlogger. Maka marilah kita terus terlena, dan saksikanlah epdisode paling dramatik mengenai matinya para penulis satu-persatu. Yang ‘mati’ karena ia berhenti menjadi penulis ataupun yang beralih ikut-ikutan hijrah menjadi Youtuber.

Inilah saatnya para penulis menentukan pilihannya, bertransformasi sesuai dengan kehendak jaman, atau tetap meyakini jalan sunyi kepenulisannya.

Suatu saat kelak, seperti apa kita akan ditahbiskan oleh generasi setelah kita? Peninggalan jenis apakah yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang? Apakah manuskrip tulisan yang bercerita tentang sejarah, sastra, atau ilmu pengetahuan, atau tak lebih dari kepingan-kepingan video yang terpendam dalam tanah, yang menampilkan joget tiktok viralmu itu?