2 tahun lalu · 116 view · 3 menit baca · Agama tahun-baru.jpg

Euforia Tahun Baru dan Fitrah Manusia

Menanti awal tahun, mengakhiri akhir tahun. Menghitung hari, awal tahun yang baru sudah di hadapan mata. Lalu apa yang harus dilakukan? Segera membeli terompet atau bahkan petasankah? Untuk gadget, segera mencari display picture BBM/ WA / Instagram berkenaan dengan tahun baru.

Ataukah hendak menyiapkan update status keren dan inspiratif untuk tahun baru?

Hingar bingar euphoria kemeriahan tahun baru sudah tercium. Sahutan stasiun televisi dan panggung hiburan di sana – sini sudah banyak menawarkan kemeriahan tahun baru. Bahkan banyak masyarakat mulai terbuai dengan pesona semu aroma kemeriahan tahun baru.

Setiap tahun yang biasanya tak pernah tidur larut pun, siap menahan dan mengorbankan rasa kantuk demi menghitung mundur tepat di pertengahan malam. Pengorbanan luar biasa di akhir tahun, untuk menjaga mata tetap terbuka hingga tengah malam bahkan dini hari, berujung indahkah untuk awal tahun nanti?

Alih – alih ingin memulai sesuatu yang baru di tahun yang baru, yang ada malah mengantuk karena menahan rasa kantuk di tahun yang lalu. Pada akhirnya, tertidur lelap di pagi hari di tahun yang baru tanpa ada makna yang tertinggal sesudahnya.

Belum lagi bagi mereka yang rela merogoh kocek lebih dalam untuk merayakan tahun baru di tempat mewah. Pesta pora layaknya bangsa Eropa lakukan menjadi sumber inspirasi bagi mereka. Alih – alih punya planning di tahun yang baru, yang ada kehabisan dana karena tuntutan materi.

Tak bermaksud memandang sebelah mata sebuah perayaan tahun baru. Tapi faktanya miris memang, setiap tahun baru hanya melakukan teatrikal seperti yang telah dijelaskan. Akan lebih indah dan lebih bermakna jika di tahun yang baru melakukan sesuatu yang “berbeda”. Sesuatu yang sejatinya mengembalikan kepada fitrah kita sebelumnya. Yaitu dalam hal penciptaan manusia.

Dalam Al-Quran surah Adz Dzariyat ayat 56, sudah dinyatakan dengan jelas perihal penciptaan kita, “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” Sudahkah sepanjang tahun ini kita mengaplikasikan ayat ini dalam kehidupan kita?

Khalifah Ahmadiyah Hazrat Mirza Masroor Ahmad sudah lama menyerukan apa yang seharusnya dilakukan anggotanya (baca: para Ahmadi) untuk melewatkan waktu malam menjelang Tahun Baru ini dengan beribadah kepada Allah Ta’ala atau bangun dini hari menjelang mulainya Tahun Baru untuk menunaikan salat nafal tahajud.

Tahajjud bersama dilaksanakan oleh para anggota Jema’at Ahmadiyya di banyak tempat di seluruh dunia. Selaras dengan apa yang difirmankan Allah Taala pada surah Adz-Dzariyat ayat 56.

Mari dirunut kembali kejadian – kejadian yang telah terjadi sepanjang tahun 2016 pada diri masing – masing. Berapa banyak kah waktu yang terbuang untuk hal – hal yang laghau/ sia – sia.

Sudahkah mengumpulkan bekal untuk di akhirat kelak. Tak ada jaminan sampai kapan kita akan tetap bertahan di dunia yang fana ini. Maut/ kematian sudah menanti pada waktunya tanpa kenal rasa welas asih. Tak akan pernah bisa ditunda atau tertunda hingga waktu yang telah ditentukan Sang Pencipta.

Menelisik kehidupan nyata saat ini, rasanya mencari kesenangan dunia sudah menjadi prioritas utama. Pergi pagi pulang pagi bukan untuk mencari sesuap nasi lagi, namun hanya untuk memenuhi tuntutan kehidupan yang mewah dan glamor.

Tak ada lagi batasan kebutuhan primer, sekunder, dan tersier lagi. Semuanya dirasa menjadi kebutuhan primer demi memenuhi nafsu duniawi. Selaras dengan sabda Rasulullah SAW, “Kenikmatan dunia layaknya seperti manusia meminum air laut dalam dahaga.”

Dalam surah Hud ayat 15 – 16 Allah SWT berfirman, “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan memberikan balasan sepenuhnya kepada mereka  atas amal – amal mereka didalamnya dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang – orang yang tidak akan ada bagi mereka di akhirat kecuali Api dan sia – sialah apa yang mereka perbuat didalamnya,  dan sia – sia apa yang telah mereka kerjakan.”

Tak sedikit, orang yang terlena dengan kenikmatan duniawi yang dimiliki. Dalilnya, itu memang buah hasil jerih payahnya. Sudah sepantasnya mereka dapatkan dan mereka nikmati. Lalu posisi Tuhan, posisi ibadah? Di manakah?

Miris memang, selagi sehat selagi penuh harta dan tahta memang teramat sangat membahagiakan. Namun selagi Tuhan memanggil pada waktunya, siapkah?

Pilihannya ada pada diri masing – masing. Akankah kembali pada fitrat yang sejatinya ditawarkan Allah SWT pada surat Adz-Dzariyat ayat 56. Atukah kita akan menjadi budak duniawi yang dijelaskan pada surah Hud ayat 15 – 16? Islam tidak melarang mencari nikmat – nikmat dunia.

Namun ingat, kenikmatan dunia adalah sarana untuk di akhirat kelak. Karna dunia, bukanlah tujuan akhir dari segalanya.

Mari kita menalar kembali tujuan hidup kita yang sebenarnya di penghujung tahun ini. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang untuk hal – hal yang sia – sia.

Selagi masih ada sisa usia, mari kembali ke fitrat tujuan penciptaan manusia.