Kurang dari satu bulan lagi, semua orang di dunia akan merayakan pergantian tahun 2019 ke 2020. Apakah semua orang ikut merayakan? Aku tidak, bahkan tidak pernah sekali pun.

Mereka penuh sorak gembira dan merapalkan harapan-harapan baru. Terompet dan kembang api seolah keniscayaan. Lantunan musik bersaing di mana-mana. Seolah tiada keheningan di mana pun.

Tapi, aku merasa hening. Pun saat ini ketika sudah terpikir fenomena tradisi tahun baru yang akan berlangsung nanti. Paham tradisi ternyata tidak hanya terjadi pada masa-masa tradisional, ternyata orang modern juga menganut tradisi-tradisi meski bermodel berbeda.

Aku bahagia dengan prinsipku tak terlalu menyukai tradisi tahun baruan. Kuakui, sebagian aku suka ketika kembang api berdentum ke angkasa membelah tengah malam. Aku suka mendengar suasana itu dari dalam rumah saja.

Sudah pasti aku berubah menjadi spesies lain yang mengendap di rumah saja malam itu. Aku tidak akan pernah berada di tengah kerumunan orang-orang yang mengagungkan tradisi tersebut. Atau, mungkin aku akan berusaha menyamakan spesies dengan mereka. Who knows?

Tahun baru, apanya yang baru? Perubahan angka 2019 ke 2020? Kupikir, itu masih deretan angka-angka lama yang pernah kupelajari sewaktu SD. Deretan angka yang disusun sedemikian rupa dan menimbulkan sebuah sebutan 'tahun'. Yang katanya 'tahun baru' 2020, bukankah tersusun dari angka 2 dan 0 saja? Di mana letak kebaruannya? Menurutku, jika ada angka setelah 9 (bukan 10) itu baru yang dinamakan sebuah kebaruan.

Pratahun baru dan pascatahun baru, semua topik pasti dipenuhi serba-serbi "liburan ke mana?". Semua orang di lingkungan sekitar pasti akan heboh membincangkan itu. Ada juga yang saling mengagungkan pesona tujuan wisatanya, membanding-bandingkan keelokan destinasi masing-masing yang akan (atau telah) dikunjungi. Pasti banyak model begini!

Kesenjangan menikmati libur tahun baru akan menimbulkan keseragaman baru. Yang tadinya tidak mau ke mana-mana akan merasa tidak keren atau butuh pengakuan orang lain. Akhirnya, mereka ikut-ikutan mulai sibuk menentukan tujuan menghabiskan waktu liburnya. Dan, terjadilah makin banyak yang mengagungkan tradisi tahun baruan.

Tidak menutup kemungkinan aku akan terbawa arus juga, karena aku juga butuh pengakuan dari mereka (maybe). Jika itu benar terjadi, semua wacanaku ini hanya tinggal kelucuan yang akan kutertawakan sendiri.

Euforia tahun baru hampir menyerang semua usia. Tidak hanya mereka yang berusia dewasa, para remaja tanggung pun ikut berpartisipasi memenuhi keramaian. Masalahnya, tak jarang hal-hal negatif lebih banyak dari positifnya.

Misalnya, kalau merayakan tahun baru sebatas nonton konser, beli terompet, dan menyaksikan dentuman kembang api, sih, gapapa. Tapi, akan jadi papa kalau sampai pesta yang 'macam-macam'.

Di lanskap hidup yang lain, ada orang-orang tidak beruntung yang berkutat dengan keheningan. Mereka jauuuh dari yang disebut bahagia. Terlalu mewah melihat letupan kembang api bagi mereka, melihat cahaya lilin saja sudah bahagia.

Namanya hidup, penuh oposisi. Jika ada yang beruntung berpesta ria menikmati tahun baru, pasti ada yang tidak. Di suatu tempat, pasti ada orang-orang bergelung dengan nasib dan beban hidup yang tak memungkinkan ikut berpesta. Jangankan memimpikan berada di tengah konser dengan lagu-lagu penuh ambisi, bisa makan di 1 Januari saja sudah untung.

Serba-serbi menuju tahun baru juga akan membuat sejumlah acara televisi menampilkan kaleidoskop. Rangkaian peristiwa yang ditampilkan secara singkat itu seolah menegaskan tahun yang akan berganti dan peristiwa tinggallah peristiwa.

Untuk apa, sih, kaleidoskop itu? Jika yang lalu itu harus di-move on? Hehehe.

Tahun Baru Menurut Sudut Pandangku

Kata baru membuat imajinasiku melambung liar dengan harapan-harapan serbasempurna. Hingga keliaran itu tak terealisasi dan menimbulkan kekecewaan. Sakitnya ampun-ampunan! Itu pengalaman tahun baru yang lalu-lalu. Tapi, apa bedanya dengan yang ini? Sama saja.

Kata baru memaksa pikiranku mengandaikan semua yang lama terganti total dengan hal-hal baru. Rasional, kan, pemikiranku? Namanya juga baru, jika barang baru saja pasti hampir sempurna, tidak ada cacatnya.

Tak terkecuali tahun yang disebut-sebut 'baru'. Kuharap semua beban hidup dan tanggung jawab di pundakku akan musnah dan digantikan kelegaan. Semua harus serbabaru pokoknya!

Besar harapanku terhadap kebaruan ini, sampai-sampai aku menyamakan tahun baru dengan keajaiban. Sebuah keajaiban yang akan memusnahkan 'keberatanku' ketika aku membuka mata esok paginya di 1 Januari. Tapi, ternyata pundakku masih berat pula.

Jadi, apanya yang baru? Sedangkan aku masih harus menyelesaikan urusan-urusan lamaku di tahun lalu yang belum kelar. Seharusnya masalahku juga berakhir dengan kembang api malam itu. Seharusnya!

Kelucuan-kelucuan yang lain, aku juga masih bekerja di tempatku bekerja tahun lalu. Tidak serta-merta aku berada di kantor baru karena efek tahun baru ini. Aku masih mengenakan baju-baju lama, lemari pakaianku tidak berubah isinya menjadi baru semua. Kecuali aku membelinya sendiri, bukan karena efek "baru"-nya si tahun baru.

Ternyata tidak ada keajaiban yang kuharapkan di sela-sela euforia tahun baru. Tak ada keajaiban-keajaiban yang datang karena mengagung-agungkan tahun baru. Kehidupan masih dipenuhi entitas lama. Masalah yang masih menumpuk dan menanti diselesaikan tidak ujug-ujug lenyap karena efek tahun baru.

Terkadang aku tertawa geli dengan situasi ini. Ada-ada saja fenomena hidup yang butuh perayaan-perayaan. Semua menjadi lazim dan lumrah. Barangkali aku menjadi spesies tak lazim dan tak lumrah, karena aku gagal paham dengan semua itu.

Jika tahun baru adalah sesuatu yang "benar-benar baru", maka aku mengharuskan serbabaru. Itu berarti yang lama dihapus total. Bisa tidak, ya? Barang baru; profesi baru; kebahagiaan baru; wajah baru; pacar baru; dan baru-baru yang lain. Nyatanya semua masih mengalir seperti tahun lalu, termasuk cinta lama yang tak kelar-kelar. Hayo, iya, kan?

Menurutku, pergantian tanggal menuju 1 Januari membuat orang-orang berpikiran WAH. Seolah 1 Januari ini akan mengubah total hidupnya menjadi serbabaru seperti yang kuimpikan tadi. Nyatanya juga biasa-biasa saja. Seperti 1 Februari, 1 Maret, dan seterusnya.

Woles aja! Tidak harus terbawa arus dan takut tak diakui orang lain. Buat apa? Hidup dinikmati saja, terkadang sibuk memikirkan pendapat orang lain membuat menderita. Takut dibilang ini, takut dibilang itu. Akhirnya terombang-ambing dalam arus yang tidak jelas.

Jika memang merayakan tahun baru karena tuntutan kebahagiaan diri, ya monggo. Tapi, kalau sampai tersiksa karena tak diakui orang lain, pikir-pikir, deh! Tahun baru tidak harus menimbulkan perpecahan baru juga.

Btw, para pembaca di tahun baru 2020 nanti pada mau ke mana, nih? Sudah pada move on, belum?