Cinta selalu menarik untuk dibahas dan dipelajari, karena kata ini memberi dampak yang sangat besar untuk kehidupan. Cinta tidak hanya memberi kebahagiaan, pemahaman yang dangkal terhadap cinta dapat mengantarkan seseorang kepada derita yang tak bertepi.

Cinta juga dapat memberikan kehidupan bahkan menghancurkan kehidupan seseorang. Kata “cinta” satu kata yang didambakan sekaligus ditakuti oleh orang yang pernah terbahagiakan karenanya atau orang yang mengalami trauma karena lukanya. Cinta menjadi kata yang paling ampuh untuk memperdaya seseorang, tidak sedikit orang yang bersedia mempersembahkan barang miliknya atau bahkan kehidupannya hanya untuk cinta.

“kalau kamu mencintai aku kamu pasti bersedia untuk …. “ kalimat seperti itu yang membuat pada akhirnya seseorang kehilangan kepercayaan terhadap cinta. Penyalahgunaan kata cinta, dimana cinta dipergunakan hanya untuk memenuhi hasrat dan keinginan seseorang membuat cinta menjadi rendah dan hina. 

Agnes Monika melalui lagunya yang berjudul “Cinta tanpa logika” memberi pandangan yang mengerikan tentang cinta, seolah-olah cinta bisa mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Cinta itu buta, bila memang demikian bukankah sangat mengerikan perasaan cinta itu.

Benarkah cinta itu buta dan dapat melumpuhkan logika manusia?. Dikutip dari Merdeka.com disebutkan bahwa penelitian yang dilakukan di University College London menemukan bukti bahwa rasa cinta bisa menumpulkan aktivitas saraf yang terkait dengan penilaian sosial kritis terhadap orang lain. 

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan di dalam NeuroImage itu cinta juga menghalangi munculnya emosi negatif, sehingga hanya rasa suka yang ada. Area hipotalamus otak menghasilkan senyawa euforia yang menurunkan penilaian negatif terhadap orang yang dicintai, sehingga objektivitas dalam melakukan penilaian pun menurun drastis.

Bisa disimpulkan, cinta memang buta, karena mampu mengaburkan penilaian rasional dan objektif terhadap orang yang dicintai (Febi Anindya Kirana, https:// www.merdeka.com/ gaya/penelitian-cinta-itu-memang-buta.html).

Semengerikan itukah cinta dan apakah cinta harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Cinta sendiri menjadi pembahasan yang menarik di kalangan para filsuf, tidak sedikit filsful yang membahas cinta dalam pemikirannya.

Plato dan Soren Kierkegaard juga membahas Cinta dalam filsafatnya, bukan hanya filsafat Barat dalam sejarah filsafat Cina Mo Tzu juga memperkenalkan Cinta Universal yang digunakan untuk mengganti sikap deskriminasi. 

Berdasarkan uraian di atas penulis ingin memaparkan cinta dari sudut pandang filsafat, sehingga memberi pemahaman yang lebih jelas tentang cinta dan membangunkan manusia dari mimpi-mimpi akan sesuatu yang selama ini diyakini sebagai cinta.

Pemahaman akan cinta akan menyadarkam manusia akan tindakan yang selama ini dilakukan dan agar manusia mampu untuk mengoreksi dirinya, apakah selama ini yang diyakini sebagai cinta benar-benar cinta atau hanya ilusi dari cinta. Melalui tulisan ini juga penulis ingin menggali tentang cinta yang sebenarnya sehingga nantinya bisa diputuskan apakah cinta itu diperlukan atau hanya akan merugikan manusia.

Cinta satu kata yang susah untuk didefinisikan, karena sebagain besar orang lebih memilih untuk merasakan. Cinta sering dikaitkan dengan sesuatu yang indah, ketertarikan terhadap manusia atau objek dimana ketertarikan ini lebih dari sekedar suka. 

Dikutip dari https://www.maxmanroe.com dijelaskan bahwa Cinta adalah suatu emosi atau perasaan positif (kebaikan, belas kasih, kasih sayang) yang terdapat di dalam diri manusia yang ditujukan kepada manusia lain atau objek lain yang ada di sekitarnya. 

Pendapat lain mengatakan, definisi cinta adalah suatu aktivitas manusia terhadap objek lain di sekitarnya, yang dilakukan dalam bentuk empati, kasih sayang, perhatian, membantu, pengorbanan diri, dan memenuhi permintaan objek tersebut. Banyak ahli mengatakan bahwa arti cinta sulit untuk dijelaskan secara tuntas karena lebih berhubungan dengan emosi manusia, bukan dengan logika.

Oleh karena itu, setiap orang dapat memberikan konsep tentang cinta sesuai dengan keadaan emosi di dalam dirinya. Cinta memiliki definisi yang positif, dimana dikatakan bahwa cinta sendiri sulit untuk dijelaskan karena berhubungan dengan emosi manusia bukan dengan logika.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa perasaan cinta dapat mempengaruhi pemikiran manusia terhadap orang yang dicintai karena ketika seseorang mencintai maka area hipotalamus otaknya menghasilkan senyawa euphoria yang menurunkan penilaian negarif terhadap orang atau objek yang dicintainya.

Kardi Laksono dalam jurnal filsafat menjelaskan definisi filsafat menurut Scheler dimana disebutkan bahwa menurut Scheler, cinta merupakan sesuatu yang suci dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Cinta tidak dapat dikategorikan ke dalam sesuatu yang bersifat sinnlich – keinderaan.

Cinta merupakan dasar segala sesuatu. Melalui cinta, manusia dapat menjerumuskan ataupun meninggikan dirinya, dan hal ini tergantung kepada wert atau nilai yang dicintainya. Loren Bagus dalam Kamus Filsafat menjelaskan bahwa cinta istilah latinnya adalah amor dan caritas, dan istilah Yunaninya philia, eros dan agape.

Ketiga istilah ini memiliki makna yang berbeda, Philia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatan (dalam Cina sinonimnya jen). Amor dan Eros adalah cinta berdasarkan keinginan sementara Caritas dan Agape merupakan tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri (Loren Bagus, 2000; 140).

Apabila kita melihat definisi ini ada perbedaan dimana di Yunani penggunaan kata cinta berbeda-beda berdasarkan penggunaan dan tingkatannya, sementara di Indonesia semua hal tentang sangat suka atau ketertarikan terhadap objek langsung dikatakan cinta.

Cinta yang berdasarkan keinginan juga disebut cinta dan cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri juga cinta, pemahaman yang sama rata seperti inilah yang menyebabkan seseorang terluka dan menderita karena cinta.

Sederhana seseorang yang cintanya ada pada tingkat Eros, mengatakan “aku cinta kamu” pada seseorang yang cintanya ada pada tingkat Agape, maka bila itu diterima dan diteruskan kemungkinan akan menyakiti salah satu pihak. Cinta yang masih ada pada tahap Eros akan memaksakan keinginannya bahkan kadang bersikap posesif dan mengatur, itulah yang akhirnya menyebabkan ada orang yang merasa tersiksa karena cinta.