Kisah itu dimulai saat masa orientasi kampus waktu itu. Di siang hari yang begitu terik, aku melihat seorang laki-laki yang berjarak 10 meter di depanku. Kamu dengan topi lucumu sambil mengenyitkan dahi karena terpapar teriknya matahari yang bahkan bisa melelehkan es dari freezer dalam hitungan detik, mencoba menghapus peluh yang meluncur sangat deras dari dahimu, seakan-akan dahimu memang sengaja seperti itu agar kamu menyentuhnya.

Ah, aku bahkan cemburu pada anggota tubuhmu.

Wajahmu memang tak begitu tampan. Tapi ketika kamu tersenyum, itu terlihat menyenangkan, menenangkan dan tak bisa dilupakan, rambutmu yang lurus dan hitam, tubuhmu yang tinggi, kulitmu yang bersih dan bahumu yang lebar, terlihat sangat menawan bagiku. 

Aku dengan jelas mengingat bagaimana ketika tanpa disengaja matamu bertemu dengan mataku. 3 detik. Dalam 3 detik kamu mampu menarik seluruh perhatianku. Dalam 3 detik, kamu mampu membuat semua inderaku peka terhadapmu.

Sejak saat itu, dirimu menjadi orang yang paling ingin aku ketahui keberadaannya, kesukaannya, hobinya, kebiasaannya bahkan aku juga ingin tahu hal-hal kecil tentangmu, seperti apakah kamu suka kentang goreng, apa lagu kesukaannmu dan apa panggilan yang kamu buat untuk ibumu.

Aku yang berjarak cukup jauh darimu hanya bisa tersenyum kecil melihat berbagai tingkah konyolmu yang kau tunjukkan didepan teman-temanmu, mereka tertawa begitu keras melihat kekonyolan yang kau buat. Ah, aku pun juga cemburu kepada teman-temanmu yang bebas berinteraksi kapanpun denganmu.

Setelah masa orientasi itu berakhir aku tak pernah lagi melihatmu, bahkan mendengar tentangmu. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menemukanmu. Karena aku bahkan tak tahu namamu.

Hingga akhirnya beberapa bulan kemudian, di malam tanpa bintang itu, tanpa disengaja kita bertemu di sebuah minimarket dekat rumahku. Aku sangat terkejut, namun aku berusaha untuk terlihat sebiasa mungkin. Agar kau tak curiga padaku. Agar kita memang terlihat seperti orang asing pada umumnya. Ah iya, aku memang orang asing bagimu.

Aku lihat kamu membeli beberapa makanan ringan dan obat anti nyamuk, aku tersenyum kecil sambil memperhatikan kamu dari belakang, karena kita sedang mengantri di meja kasir. Berjarak kurang dari satu meter denganmu, membuatku merasakan perasaan aneh namun membuatku bahagia. Ya, hanya dengan melihat punggungmu. Aku sudah sangat bahagia. Ternyata rasa sukaku memang sebesar ini kepadamu.

Ketika kamu akan keluar sambil membawa barang belanjaannmu, kamu melihatku sekilas sambil tersenyum kecil padaku. Aku sedikit kaget dan hanya diam tanpa membalas senyumanmu. Apa aku sedang bermimpi? Apa dia mengenalku? 

Atau apakah dia tahu aku suka padanya? Atau apakah dia memang selalu tersenyum kepada orang yang tak dikenalnya? banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, hingga malam itu berakhir dengan kepalaku yang pusing karena tak bisa tidur memikirkan apa arti senyuman itu.

Siang hari, saat sedang mencoba untuk tidur siang. Suara notifikasi dari hpku terdengar. Aku coba melihatnya, dan ternyata itu adalah sebuah DM (Direct Message) via Instagram. Seseorang yang memiliki foto profil dengan wajah mirip seperti dirimu mengirimiku pesan. Ah, itu bukan mirip, itu memang kamu.

“Hai?” Aku baca kata ini berulang kali. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan menyapaku duluan. Padahal aku berencana akan menyapamu saat kelulusan nanti. Ya aku tahu itu memang terlalu lama, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak akan bisa menahan rasa malu jika sapaanku nanti tidak berbalas. 

Jadi kupikir lebih baik menyapamu saat kita sudah hampir lulus. Agar aku tak perlu menahan malu dalam waktu yang lama. Rencanaku memang sudah sematang itu. HAHAHA

Aku mencoba mengontrol perasaannku, aku membalas pesanmu dengan kalimat yang bisa dibilang sedikit dingin, aku takut kamu tahu bahwa aku menyukaimu jika aku bereaksi berlebihan dan aku juga takut kamu akan merasa tidak nyaman karena respon agresifku. Oleh sebab itu aku sedikit dingin padamu. Maafkan aku.

Semenjak hari itu, kamu mulai rutin mengirimiku pesan via WhatsApp, karena sebelumnya kamu sudah meminta nomorku dengan alasan ingin lebih mengenalku.

Aku penasaran, kenapa kamu mengirimku pesan waktu itu dan kamu jawab “Sebenarnya udah lama pengen menyapamu lagi, kamu tidak mengingatku? Aku orang yang pernah meminjam hpmu waktu daftar ulang dulu.” Apa? Daftar ulang? Memang benar aku pernah meminjamkan hpku kepada seseorang, tapi aku tidak ingat bahwa itu kamu.

Hingga akhirnya kamu mengajakku bertemu hingga beberapa kali. Dan saat ini kita sedang duduk berhadapan di suatu café dekat kampus, sambil menatap mataku kamu berkata “Sudah sejak pertama lihat kamu, aku sudah mulai suka padamu. 

Tapi aku gaberani buat nyapa atau memulai obrolan sama kamu waktu itu.” Aku sudah mulai gugup, pipiku bersemu kemerahan dan jantungku berdegup sangat kencang, aku bahkan takut kamu bisa mendengar degup jantungku.

Ternyata perasaan yang aku pendam hampir setahun ini bersambut dengan baik. Kamu. Laki-laki yang menjadi penyebab segala euforiaku ternyata juga menjadikan aku sebagai penyebab rasa bahagiamu. Kamu yang selama ini hanya bisa dilihat dari kejauhan, kini selalu berada di sampingku karena semesta selalu punya cara untuk mendekatkan aku denganmu.