2 tahun lalu · 2431 view · 7 menit baca · Budaya maxresdefault_1_2.jpg
Foto: youtube.com

Etika Sosial Martin Luther dan Kapitalisme Awal

Sering kita mendengar ungkapan, “Basmi Kapitalisme! Lawan Kapitalisme! Kapitalisme adalah Musuh Bersama!” dan serangkaian ungkapan lain dengan nada yang sama, yaitu menentang segala bentuk praktik kapitalisme.

Dalam artikel singkat ini, penulis tidak ingin mengajak pembaca untuk mengulas gerakan dan bentuk perlawanan terhadap kapitalisme ini. Tapi, penulis ingin mengajak ke dalam tataran yang lebih “nikmat” untuk dibicarakan bersama, yaitu penyebab munculnya kapitalisme.

Berbincang mengenai lahirnya kapitalisme, kita tidak bisa memalingkan wajah dari sosok Martin Luther, seorang teolog (seorang yang mengajar ilmu tentang Tuhan), seorang pendeta, sedikit dikenal sebagai sosiolog, politisi dan bahkan seorang ekonom yang terkenal pada abad pertengahan. Tidak adil apabila kita tidak mengenal sosok Luther hanya dari label-label yang diberikan oleh orang lain, mari kita berkenalan lebih dekat dengan sosok Martin Luther.

Martin Luther lahir di Eisleben, Kekaisaran Romawi Suci, 10 November 1483 dan meninggal pada 1546 di tempat yang sama. Luther muda mengenyam pendidikan di bidang hukum di Universitas Erfurt, Jerman. Setelah mengalami pengalaman mistis (selamat dari sambaran petir), ia memutuskan menjadi seorang imam (pastur) Ordo Agustinus.

Melihat praktik penyelewengan yang terjadi di Gereja Katolik Abad Pertengahan, secara khusus dalam hal pembelian ablat, sebuah sarana untuk menebus dosa dengan cara membelinya yang dilakukan oleh umat Katolik pada abad pertengahan, Martin Luther menjadi geram dan memutuskan untuk membangun gerakan reformasi.

Gerakan reformasi ini yang akhirnya melahirkan perpecahan di Gereja Katolik, juga menjadi permulaan lahirnya Kristen Protestan. Di antara sekian ajarannya, yang ingin penulis bahas dalam artikel ini adalah ajaran Martin Luther terkait dengan etika sosialnya.

Lahirnya Etika Sosial Martin Luther

Uraian menarik mengenai etika sosial Martin Luther diulas oleh Carter Lindberg, dalam artikelnya berjudul “Luther’s Struggle with Social-Ethical Issues” dalam Donald K. McKim (ed.), The Cambridge Companion To Martin Luther, (United Kingdom: Cambridge University Press, 2003).

Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa orang-orang miskin atau kemiskinan pada zaman Luther, jatuh pada proses obyektifikasi. Proses ini berarti kemiskinan dan orang-orang miskin digunakan sebagai sarana bagi mereka yang kaya, untuk menjadikan nyata apa itu belas kasih dan sebagai jembatan menuju keselamatan. Luther menolak ideologi ini.

Baginya, kemiskinan dan orang-orang miskin bukan selayaknya dijadikan sebagai obyek belas kasih, melainkan diperlakukan sebagai sesama. Layaknya manusia memperlakukan manusia yang lain, Luther menginginkan mereka yang mampu membuat orang-orang yang tidak mampu menjadi mampu. Singkatnya, seorang Kristen tidak dipanggil untuk memberikan “ikan” terus-menerus, melainkan memberikan “pancing” agar mereka mampu teremansipasi.

Luther menegaskan, “The poor are no longer the objects of meritious charity, but neighbors to be served through justice and equity.” (Lindberg, hlm. 171). Keadilan dan kesetaraan Luther ajukan tidak hanya di atas mimbar, ia juga mengusulkan perubahan peraturan (undang-undang) yang nantinya akan memperkecil jarak antara yang kaya dan yang miskin.

Dalil-dalil yang Luther sampaikan di Wittenberg telah mentransformasikan teologi menjadi praksis sosial. Di depan gereja Katolik di Wittenberg, Luther menempelkan 95 dalil berisi protesnya terhadap penyelewengan Gereja Katolik saat itu. Yang dimaksud dengan praksis sosial di sini berarti mencakup monopoli harga gandum, pelayanan publik, kesehatan dan modernisasi sistem bank (Lindberg, hlm. 172).

Terkait dengan sistem bank, Luther mengkritik Gereja Katolik yang menganggap uang sebagai jenis setan baru. Luther menyatakan, “After the devil there is no greater human enemy on earth than a miser and usurer, for he desires to be above everyone…” (Lindberg, 173).

Penulis memberikan penekanan pemikiran Luther ini, dengan tujuan, memperlihatkan bahwa seorang Kristiani tidak dipanggil untuk menghindari atau membenci uang, melainkan untuk menggunakannya demi kesejahteraan sesama. Ketika seorang Kristen jatuh pada pencarian uang terus menerus, tanpa memperhatikan aspek kesejahteraan sosial, di sana ia jatuh ke dalam dosa. Di sinilah tercipta kapitalisme awal.

Pada dasarnya, Luther melihat bahwa kapitalisme (pengumpulan uang) buruk ketika jatuh kepada eksploitasi manusia dan monopoli pasar. Akan tetapi, layaknya dua sisi mata uang, Luther juga melihat apabila kapitalisme digunakan secara tepat (kesejahteraan sesama dan kesetaraan), maka hal ini patut digunakan.

Etika sosial Luther ini berkontribusi secara langsung pada legislasi kesejahteraan sosial di daerah-daerah yang menerima reformasi. Lalu pertanyaan yang bisa kita lontarkan adalah “apa yang dimaksud dengan etika sosial Luther?” Luther tidak memberikan teori-teori yang sulit dipahami, melainkan memberikan praktik-praktik nyata, antara lain:

is to help the poor, the orphans, and the widows to justice, and to further their cause… [T]his virtue includes all the works of righteousness: as when a prince or lord or city has good laws and customs; when everythings is regulated in an orderly way; and when order is kept by people in all ranks, occupations, trades, businesses…” (Linberg, 174).

Pergerakan sosial etis Luther telah memberikan transformasi terhadap komunitas-komunitas kristiani saat itu. Sebagai teolog dan pengkhotbah, ia memberikan kritik yang jelas terhadap struktur sosial yang ada saat itu.

Khotbah-khotbahnya telah membebaskan orang-orang Kristen terhadap ideologi yang ia anggap salah mengenai kemiskinan dan pelayanan. Serangkaian kritik Luther terhadap Gereja Katolik, bermuara pada satu tujuan, “bahwa keselamatan adalah fondasi hidup bukan sebuah tujuan hidup.”

Etika Sosial Martin Luther dan Kapitalisme

Sudah disinggung dalam bagian sebelumnya, bahwa etika sosial Luther telah melahirkan semangat kapitalisme, di mana seorang Kristiani didorong untuk bekerja lebih keras dan menyimpan lebih banyak dari sebelumnya.

Pertanyaan kritis perlu kita lontarkan di sini, “Apakah benar bahwa teologi dan etika Luther telah melahirkan dan melanggengkan kapitalisme?” Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk sedikit berbincang mengenai buku The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism karangan Max Weber.

Dalam bukunya, Weber menyatakan bahwa teologi mengenai “panggilan” Luther, telah menjadi pintu masuk bagi kapitalisme (Weber, hlm. XII). Konsep panggilan ini tidak ditemukan dalam teologi Katolik. Konsep panggilan yang dimaksud terkait dengan paham mengenai keselamatan.

Bagi Katolik, seorang manusia dapat selamat ketika ia mampu menunjukkan kepada Tuhan, bahwa ia mampu melawan segala cobaan dan dosa yang ada di dunia. Hal ini berarti semua yang bersifat duniawi, termasuk uang dan kesenangan-kesenangan sesaat. Penderitaan, bagi Katolik, adalah jalan untuk penebusan menuju keselamatan. Luther menolak paham ini.

Bagi Luther, keselamatan melulu merupakan rahmat dari Allah, kita tidak bisa berjuang (membeli) untuk mendapatkan keselamatan tersebut. Mereka yang selamat adalah mereka yang layak. Tolok ukur kelayakan adalah teremansipasi dari kemiskinan. Dengan kata lain, Katolik memeluk teologi salib (penderitaan Yesus), sedangkan Protestan memeluk teologi sukses (kebangkitan Yesus).

Weber menegaskan bahwa semangat kapitalisme memang muncul pada teologi Luther, namun semangat tersebut mendapatkan tanah yang subur dalam teologi-teologi Kristen Protestan yang lebih puritan, seperti Kalvinis, Methodis, Pietis dan Baptis.

Secara khusus dalam teologi Kalvinis, kapitalisme mendapatkan energi moral yang luar biasa. Setelah memahami bahwa kelahiran kapitalisme disebabkan oleh teologi Protestan, kemudian pertanyaan lebih lanjut yang hendak kita bahas adalah, “Apakah kelahiran kapitalisme ini koheren dengan perkembangan ekonomi di negara-negara Protestan?”

Untuk membahas tema ini, ada artikel yang patut kita perhitungkan yang berjudul “Was Weber Wrong? A Human Capital Theory of Protestant Economic History”, dari Jurnal Oxford, oleh Sascha O. Becker dan Ludger Woessmann.

Artikel karangan Sascha O. Becker dan Ludger Woessmann tersebut hendak mencari jawaban apakah teori Weber itu salah, apabila kelahiran kapitalisme koheren dengan perkembangan ekonomi di negara-negara Kristen?

Setelah menyajikan analisis data dari lahirnya reformasi Protestan, hingga tahun 1900-an, penulis mengambil kesimpulan bahwa perkembangan ekonomi di negara-negara Kristen Protestan, secara khusus daerah-daerah Prusia, lebih baik dibanding dengan negara-negara Katolik.

Ia menyatakan, “Weber was right in his observation that Protestant regions were economically more affluent than Catholic regoins, across countries in 1900 and within Prussia in the second half of the nineteenth century.” (Sascha, hlm. 581).

Berikut penulis sajikan beberapa data yang menunjukkan bahwa negara Protestan lebih makmur dibanding negara-negara Katolik. “Another indicator of economic progressiveness is the sectoral structure of the 452 counties in 1882, where we observe the shares of the labor force working in the manufacturing sector and in the service sector.

The service-sector share, which includes such businesses as trade, insurance, and transport (but not servants, housemaids, or the public administration), is significantly pos- itively correlated with Protestantism (correlation coefficient .10, significant at 4%)…

Finally, using individual-level data from Germany today (see Section VLE for details), we still observe that Protestants earn 6.9% higher incomes than Catholics… Disregarding the two provinces that contain the Ruhr area (Rheinprovinz and Westphalen), the manufacturing share is also significantly positively correlated with Protestantism...” (Sascha, 536-537).

Setelah melihat realita kelahiran kapitalisme yang tidak bisa dilepaskan oleh kritik sosial Martin Luther, penulis ingin mengajak pembaca berpikir lebih kritis. Martin Luther bahkan menyatakan bahwa kapitalisme akan menjadi baik apabila motivasi yang melandasinya adalah kesejahteraan bersama, bukan yang sering terjadi saat ini yang lebih condong ke bentuk eksploitasi manusia dan semakin lebar jarak antara kelas atas dan kelas bawah.

Sebaiknya kita tidak melawan kapitalismenya, melainkan motivasi di belakang segala bentuk gerakan kapitalisme. Pilihan di tangan Anda, apakah masih ingin menjadi bagian kelompok “naïf” yang menggembor-gemborkan perlawanan terhadap kapitalisme, atau menjadi lebih kritis dan mengerti apa yang sebaiknya sekarang Anda lakukan.

Artikel Terkait