Etika dan moral adalah dua kata yang memiliki arti hampir sama, hanya saja bahasa asalnya berbeda. Etika berasal dari bahasa Yunani, sedangkan moral berasal dari bahasa Latin. Sebuah perbuatan bisa kita sebut dengan etis atau bermoral, jika perbuatan tersebut kita anggap baik. Karena memang sejatinya etika dan moral berbicara tentang baik atau tidaknya suatu perbuatan.

Mungkin hanya sedikit dari kita yang mengetahui bahwa ada satu istilah lagi yang mirip dan sering kali kita campur adukkan menjadi satu, yaitu etiket. Selain penyebutannya yang mirip, istilah ini sama-sama menyangkut perilaku manusia.

Jika kita membandingkan bentuk kata tersebut dalam bahasa Inggris, maka terdapat perbedaan yang cukup jauh, ethics dan etiquette. Etiket berbicara tentang cara perbuatan atau singkatnya sopan santun. Etiket membahas tentang pantas atau tidaknya suatu perbuatan tanpa memberi nilai etis di dalamnya atau hanya menilai secara lahiriah.

Sebagai contoh, jika kita memberikan sesuatu pada si A, maka kita harus menyerahkannya dengan tangan kanan. Jika kita sedang makan bersama di meja, maka kita tidak boleh meletakkan kaki kita di atas meja.  Hal ini sempurna secara etiket, tetapi tidak memiliki kandungan etika sama sekali.

Seandainya, kita memberikan amplop berisi uang pada si A dengan tangan kanan, tetapi si A adalah seorang hakim yang akan memperkarakan kita, maka hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak etis meskipun sempurna secara etiket.

Etika bersifat universal, seperti 10 perintah Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Musa. Jangan mencuri, jangan menipu, jangan membunuh, jangan berzina, dan lain sebagainya. Sedangkan, etiket bersifat relatif tergantung waktu dan tempat. Etiket orang Jawa tentu berbeda dengan orang Bugis, akan dianggap tidak sopan bagi orang Jawa jika bersendawa di meja makan, sedangkan bagi orang Bugis hal itu lumrah saja.

Tidak merupakan kontradiksi, jika seseorang yang selalu berpegang teguh pada etiket sekaligus menjadi orang munafik. Oleh sebab itu, istilah serigala berbulu domba cukup terkenal. Orang bisa saja menjadi sopan, rapi, dan halus, tetapi bermaksud untuk menipu.

Tidak heran banyak penipu yang secara etiket sangat sempurna, koruptor contoh mudahnya. Sedangkan, jika seseorang berpegang teguh pada etika, mustahil menjadi orang munafik, sebab hal itu merupakan perbuatan yang tidak etis.

Dewasa ini, kebanyakan kita hanya memprioritaskan aspek etiketnya saja. Contoh lagi, di kampus betapa ketatnya aturan-aturan yang mengatur etiket. Kita tidak diperbolehkan memakai sandal, kaus oblong, celana robek, dan sebagainya (di kampus saya).

Jika larangan ini diabaikan, maka dosen tidak segan-segan mengusir kita dari kelas. Sedangkan plagiarisme atau ketidakjujuran dengan segala variasinya seperti menyontek kala ujian, meng-copas tugas dari internet, bahkan menjiplak skripsi yang berhubungan dengan etika tidak seketat penerapan sanksi bagi aturan yang menerapkan etiket. Hal ini terjadi dengan nyata.

Di sekolah, etiket juga jauh lebih diprioritaskan dibanding etika. Cara berpakaian dianggap lebih penting dibanding kejujuran mengerjakan ujian sendiri kala ujian. Hal semacam ini sudah mendarah daging dan turun temurun sehingga dianggap lumrah oleh semua kalangan.

Tak heran ketika dewasa dan sudah menjadi orang penting, kita lebih memprioritaskan etiket dibanding etika. Sehingga kita menjadi orang brengsek yang egois dan tak mempedulikan orang lain. Gubernur yang sering berkata kasar dianggap tidak beretika, padahal sejauh ini belum terbukti melakukan praktik kecurangan. Seharusnya dikatakan bahwa ia tidak beretiket tapi beretika.

Kita lebih simpati pada orang-orang yang sopan, ramah, dan berpenampilan rapi meskipun berengsek dibanding orang-orang yang beretika meskipun tampilannya buruk. Etika dan etiket tercebur dalam lumpur yang sama sehingga banyak dari kita yang tak lagi mampu membedakan keduanya.

Orang-orang beragama juga mulai terjangkit virus ini. Di mana-mana kita melihat orang yang religius adalah orang yang berpenampilan serba Arab. Berjanggut, bersorban, bergamis, berjidat hitam, berjilbab panjang yang katanya syar’i dan lain sebagainya.

Padahal jika kita telurusi, tak sedikit orang yang berpenampilan semacam itu terjerat kasus hukum. Contoh yang paling dekat, ustadz-ustadz layar kaca tidak cuma satu-dua yang terjerat kasus hukum. Belum lagi koruptor, dari yang berjilbab hingga bergamis semua ada di dalam penjara.

Saya kira, ini adalah salah satu akibat kita lebih mementingkan aspek etiket dibanding etika. Kita lupa bahwa etika mengajarkan kita untuk tidak hanya adil pada orang lain, melainkan adil pada diri sendiri juga. Saya kira, etiket memang penting, tapi prioritasnya tetap di bawah etika.

Agama, khususnya Islam juga banyak berbicara tentang etiket. Bagaimana cara berpakakaian, mendahulukan bagian sebelah kanan, bagaimana cara makan yang baik, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Tetapi, jika kita telusuri, agama justru lebih banyak berbicara tentang etika. Harus berbuat baik, tidak boleh sombong, tidak boleh berbohong, harus memaafkan, berlapang dada, dan lain sebagainya.

Ajaran tentang etiket (dalam Islam) kebanyakan tertulis dalam hadis, sedangkan ajaran tentang etika tertulis di Al-Qur’an. Dalam Islam, posisi Al-Qur’an lebih tinggi dibanding hadis. Bagi saya, hal ini mengindikasikan bahwa Islam lebih menekankan etika dibanding etiket. Sebab, bagaimanapun etika berbicara tentang akhlak. Menyempurnakan akhlak adalah salah satu tujuan Rasulullah SAW diutus ke dunia.

Etiket tidak berlaku ketika kita sedang sendiri. Jika sedang makan sendiri, maka kita bebas menaruh kaki di atas kursi atau di atas meja. Tetapi etika berlaku di mana saja dan kapan saja. Jika kita makan di restoran yang sedang ramai dan kabur begitu, maka secara otomatis nurani akan menghukum kita dengan perasaan bersalah karena kita sudah melanggar etika.

Jika kita tenang-tenang saja setelah melakukan pelanggaran etika, maka patut dipertanyakan apakah nurani kita masih hidup atau tidak. Satu-satunya sanksi di bidang etika adalah keadaan hati yang tidak tenang atau dalam bahasa agama hal ini merupakan dosa.

Sepertinya kita sudah tercerbur di lumpur yang sama dengan etika dan etiket, sehingga kesulitan untuk membedakan yang mana etika yang mana etiket. Semoga dengan tulisan ini, kita bisa berpikir sejenak dan menjernihkan perumpamaan yang sering tercampur aduk.

Semoga juga semua pembaca tulisan ini bukan termasuk orang munafik yang hanya mementingkan aspek etiket dibanding etika. Jadilah orang yang beretika, sebab dengan beretika kita tidak mungkin menjadi munafik. Karena, katanya neraka terdalam diciptakan untuk orang-orang yang munafik.