Hingga saat ini Indonesia telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang bahkan terkenal hingga manca negara. Tokoh-tokoh tersebut tentu tidak dapat lepas dari perjalan hidupnya yang membuat mereka menjadi sosok yang berpengaruh pada zamannya bahkan hingga saat ini.

Nama-nama mereka bukan hanya terkemuka pada zamannya tetapi tetap menjadi sosok yang menginspirasi hingga saat ini. Salah satu tokoh tersbeut adalah Buya Hamka. Selanjutnya, kita akan berkenalan lebih dekat dengan sosok Buya Hamka melalui keutamaan-kutamaan yang ia terapkan selama hidupnya.

Buya Hamka bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir pada 27 Februari 1908 di Sungai Batang dekat Danau Maninjau, Sumatera Barat. Buya Hamka meninggal di Rumah Sakit Pertamina, Jakarta, 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun.

Buya Hamka dikenal sebagai ulama terkemuka, imam besar di Masjid Al Azhar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, wartawan, dan sebagai sastrawan. Namanya sendiri berasal dari kata “Buya” yang merupakan panggilan khas untuk orang Minangkabau sedangkan Hamka adalah akronim dari nama lengkapnya.

Diantara karya-karya yang pernah dibuatnya, terdapat novelnya yang telah diangkat ke layar kaca, yaitu Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Pada tahun 1958, Universitas Al Azhar di Kairo memberikan gelar ustadziah fakhriyah atau doctor honoris causa kepada Buya Hamka.

Buya Hamka sebagai wartawan memiliki gaya bahasa yang khas dari seorang Buya Hamka yang berbeda dengan yang lain. Dikatakan bahwa ia bukan hanya sebagai wartawan-tulis tetapi juga seorang wartawan-bicara, yang berarti pandai dalam berpidato. Hal ini yang banayak tidak dimiliki oleh wartawan lainnya.

Sebelum melangkah lebih jauh mengenal keutamaan yang dimiliki oleh Buya Hamka, maka kita akan terlebih dahulu membahas mengenai keutamaan itu sendiri. Keutamaan (virtue, virtus, arete) adalah disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral.

Keutamaan adalah suatu hasil dari latihan. Sifat watak ditentukan oleh kehendak manusia yang menjalankan pilihan tersebut. Etika keutamaan sendiri adalah etika yang menekankan keluhuran watak atau kepribadian manusia.

Etika keutamaan menekankan bahwa belum cukup orang yang setia menjalankan suatu kewajiban. Hal ini menuntut seseorang berkeutamaan lebih daripada hanya pemenuhan kewajiban belaka.

MacIntyre mendasarkan pemikirannya mengenai etika keutamaan ke dalam tiga ranah, yaitu kegiatan bermakna, kesatuan narasi, dan tradisi moral. Pemikirannya ini memperdalam pemaknaan mengenai keutamaan dari Aristoteles.

Kegiatan bermakna merupakan usaha kooperatif untuk mencapai kebaikan bersama. Dalam hal ini juga terkandung nilai-nilai internal yang terdapat dalam diri seseorang. Kegiatan bermakna juga tidak dapat lepas dari keutamaan moral yang harus dimiliki.

Kesatuan narasi marupakan hubungan kausalitas antara nilai internal dan keutamaan moral. Keutamaan adalah suatu kualitas manusia yang dicapai oleh manusia tersebut. Memiliki dan melaksanakannnya berarti membuat kita mampu untuk mencapai nilai-nilai internal kegiatann yang bermakna. Tanpanya kita tidak dapat mampu mencapai nilai-nilai tersebut.

Selanjutnya, tradisi moral atau dapat disebut sebagai sebuah argumen yang dikembangkan melalui waktu. Di dalamnya terdapat persetujuan-persetujuan fundamental tertentu yang didefinisikan dan diredefinisikan.

Lantas, bagaimanakah dengan etika keutamaan dari seorang Buya Hamka? Pertama-tama mari melihat etika keutamaannya dari kegiatan bermakna selama hidupnya. Kegiatan bermakna dari seorang Buya Hamka terdapat pada nilai-nilai internal dalam dirinya yang tercermin pada masa pejajahan.

 Keberaniannya juga dapat dilihat dari dirinya yang ikut serta dalam perang gerilya melawan Belanda di Medan. Dalam hal ini juga terpancar bagaimana ia berani untuk menegakkan nilai perdamaian. Ia tidak menerima adanya kolonialisme, oleh sebab itu ia bangkit untuk melawan.

Di dalam ranah kesatuan naratif, kita dapat melihat nilai kegigihan dan nilai kerja keras yang ada pada dirinya. Nilai-niali tersebutlah yang membawa Buya Hamka menjadi seorang wartawan besar di mana dia sebagai pendidik masyarakat, penjaga nilai-nilai budaya dan agama ataupun sebagai juru ulas atau komentator pada zamannya.

Dalam ranah terakhir, yaitu tradisi moral, kita dapat melihat Buya Hamka adalah sosok yang selalu haus akan ilmu. Ia adalah sosok yang selalu ingin berkembang dan belajar. Sejak sekolah ia mulai mendalami agama Islam dan Arab di sekolah yang didirikan ayahnya yaitu Sumatera Thawalib.

Hal ini berdasarkan dari ayahnya yang fokus dalam dunia pendidikan. Dalam pendidikan bidang keagamaan, Buya Hamka banyak dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungannya sehingga ia dapat menjadi seseorang yang diperhitungkan sumbangannya dalam dunia keagamaan.

Segala hal yang yang telah dipaparkan di atas merupakan beberapa hal yang merupakn etika keutamaan dari Buya Hamka. Keutamaan-keutamaan tersebut dapat menjadi contoh bagi kita dalam mengembangkan kehidupan kita di dunia ini.

Perlu diperhatikan bahwa keutamaan bukanlah suatu hal yang tidak dilakukan secara tetap. Keutamaan haruslah senantiasa dilakukan dalam kehidupan dan tidak berpikir untuk menjalankan suatu kewajiban saja. Jika kita masih berpikir untuk melakukannya, maka hal tersebut bukanlah suatu keutamaan dalam hidup kita.