Etika dalam bahasa Arab diartikan sebagai akhlaq, hal tersebut memiliki kemiripan konsep etika pada Bangsa Yunani dan konsep moralitas Bangsa Romawi. Adapun etika islam yang di maksud adalah berpedoman pada Al-Quran dan Hadis, serta literatur tentang etika itu sendiri mengadopsi dari peradabaan sebelum islam yang dapat diteladani.

Menurut Carl W. Ernst (2016) dalam buku Pergulatan Islam di Dunia Kontemporer Doktrin dan Peradaban, mengatakan bahwa titik balik sejarah negara-negara islam di dunia, termasuk yang terjadi di Nusantara terdapat kerajaan bercorak islam, sebelum kedatangan Bangsa Eropa.

Ekspansi Bangsa Eropa ke kepulauan Nusantara diawali Portugis dan Spanyol pada awal abad ke-16, disusul Belanda pada akhir abad ke-16 yang masih berupa kongsi dagang Verenigde Oost-indhische Compagnie (VOC), dan Inggris melalui East Indian Company (EIC) pada awal abad ke-19, serta kembali dikuasai oleh Belanda hingga pertengahan abad ke-20.

Terlepas dari kedatangan Bangsa Eropa, banyak penduduk Bumiputera yang sudah menganut agama islam, terutama pada masa pemerintah kolonial Belanda. Hal tersebut menstimulasi aktivitas religius dalam balutan etika islam. Alhasil, etika islam telah menjalar hampir di setiap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat Bumiputera.

Sebab itu, terjadi perbedaan simbolisasi etika di antara masyarakat muslim Bumiputra dan kolonial Belanda. Sebagai contoh, pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda didapati sebuah fenomena sosial, yaitu nyai dan pergundikan yang diberlakukan di negeri jajahan guna kepentingan penguasa kolonial, tetapi hal tersebut kemudian dipandang oleh pemuka agama dan umat islam di Bumiputra sebagai patalogi sosial yang harus dinafikkan karena bertentangan dengan hukum islam. Adapun salah satu hukum islam, seperti firman Allah yang tertuang  dalam QS. Al-Isra: 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Adapun kasus lain yang menyangkut etika pada masa pemerintah Kolonial Belanda adalah kebijakan ethische politiek (politik etis). Diskursus tentang politik etis atau politik balas budi salah satunya disuarakan Van Deventer melalui tulisan berjudul “Een Eareschuld” atau hutang kehormatan terhadap negeri jajahan, yang kemudian terdengar oleh Kerajaan Belanda.

Sebagai respon akan hal tersebut, pada tahun 1901 Ratu Belanda Wilhelmina mengumumkan kebijakan diberlakukannya politik balas budi di Bumiputra. Kebijakan ethische politiek dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moril dari pihak Belanda (Negeri Induk) untuk menyejahterakan penduduk Bumiputra yang dinilai telah berjasa memberikan kemakmuran bagi Kerajaan Belanda. Adapun isi dari politik etis, yakni meliputi; irigasi, edukasi, dan transmigrasi, yang kemudian ketiga hal tersebut disambut baik oleh masyarakat Bumiputra.

Lebih lanjut, melalui politk etis yakni penerapan “edukasi” pada masyarakat Bumiputra yang diarahkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada saat itu, tidaklah menyeluruh hanya berlaku bagi kalangan elite feodal atau kaum priyayi. Meskipun demikian, hal tersebut telah menjadi modal utama (main capital) yang melahirkan intelektual-intelektual, terutama di kalangan umat islam di Bumiputra.

Setengah dasawarsa pasca politik etis, lahir Sarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1905. Organisasi bersimbol islam tersebut di Surakarta dipimpin oleh Haji Sumanhudi pada tahun 1911. Keberadaan organisasi SDI bertujuan menghimpun para pedagang muslim dikalangan pribumi (inlander) untuk bersaing dengan para pedagang Tionghoa. Mengingat kebijakan yang diterapkan pemerintah Kolonial Belanda saat itu, di mana pedagang Tionghoa memiliki hak dan kelas sosial jauh lebih baik di atas masyarakat pribumi.

Oleh karenanya, melalui semangat religius (islam) SDI dan masyarakat pribumi membanagun sistem perdagangan yang lebih baik sesuai ajaran islam yang tidak mengenal kelas sosial. Seperti dalam firman-Nya yang mangatakan berikut: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa dia antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat ayat: 13).

Pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI). H.O.S Tjoktroaminoto resmi sebagi sebagai pemimpin organisasi tersebut setekah kongres kedua pada tanggal 19-20 April 1914. Kantor pusat Sarekat Islam akhirnya dipindahkan dari Surakarta ke Surabaya. Perkembangan Sarekat Islam sebagai organisasi yang menaruh perhatian pada aktivitas perdagangan masyarakat pribumi, sejalan dengan arah gerak Tjokroaminoto selaku pemimpin organisasi.

Dalam buku Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat? ed. M. Dahlan (2002), dijelaskan bahwa sosialisme dan islam merupakan konsep yang selalu dikedepankan H.O.S Tjoktroaminoto. Lebih lanjut, bahwa Tjoktroaminoto melihat hal terebut sebagai upaya membangkitkan kesadaran umat islam di tanah air (tauhid individu), agar mereka memahami bahwa agama islam juga menghendaki keselamatan segenap kemanusiaan (tauhid sosial).

Dewasa ini, pembahasan tentang etika islam di Indonesia tentu tidak terlepas dari sejarah perkembangan etika islam itu sendiri, termasuk pada masa Kolonial Belanda. Secara etimologi, kata islam dalam bahasa Arab salima yang berarti “selamat”. Kata selamat tersebut mengandung makna yang sangat luas. Meski demikian, menurut pendapat saya bahwa “selamat” perlu dimaknai sebagai aktivitas umat islam dalam berupaya mewujudkan keselamatan bagi semua makluk hidup, tentunya hal tersebut harus didasari etika islam yang humanis. Bagi umat islam, sudah seharusnya etika tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, bentuk etika islam dalam konteks bernegara yakni kita menjaga keselamatan umat beragama lain dengan menanamkan nilai toleransi, serta menjaga keselamatan alam dengan melindungi dan tidak berperilaku eksploitatif secara berlebih terhadap sumber daya alam.

Oleh sebab itu, kita sebagai umat islam sudah harusnya memperlihatkan wajah islam yang demikian, tidak hanya sesama umat islam tetapi lebih luas lagi. Sehingga, steriotip tentang agama islam ataupun islamophobia tidak lagi menyelimuti islam, justru sebaliknya bahwa islam adalah agama yang ramah dalam segala lini kehidupan manusia di dunia.