Era pos-modern bukanlah masa yang mudah untuk ditangkap arah nya, tetapi tidak sulit juga melihat pola nya. Sulit ditangkap arah nya karena pemikiran di era ini begitu luas, berbelit, tidak berpusat pada satu topik, dan tentu saja: baru. Akan tetapi, pola nya tidak sulit ditebak. Pola nya yang pertama tentu saja pemikiran yang fresh karena muncul pasca abad XX sampai sekarang, dan yang kedua adalah membahas hal-hal serupa tapi tak sama seperti kebebasan kehendak manusia dan modul-modul baru terhadap interpretasi. 

Sebut saja isu mengenai eutanasia dan aborsi. Jika mengintip kembali pada era abad pertengahan, kedua hal tersebut begitu terlarang dan tabu. Pada era modern, kedua hal tersebut dicoba untuk diselipkan pada berbagai pendasaran universal tertentu sehingga justru mengaburkan makna sebenarnya. Akan tetapi, era pos-modern membawa kedua isu tersebut di panggung terpanas yang mungkin bisa terjadi sepanjang masa. 

Isu yang menyangkut erat tentang nyawa manusia tersebut bukan lagi dibahas dalam kerangka pemikiran hukum universal ataupun moralitas alim-non alim semata melainkan dibahas dalam kerangka "pilihan" dan "kebenaran". Inilah yang menciptakan popularitas isu tersebut semakin menanjak, karena dibahas tanpa embel-embel "kata siapa", "menurut ini...", "seharusnya...", "logikanya...". Isu tentang nyawa manusia ini dibahas murni dalam kerangka "cara pandangnya bagaimana, maka pandangannya begitu, maka yang benar begini". 

Kebebasan kehendak manusia menjadi makelar, tetapi juga metode, bahkan juga tumbal ketika membahas isu pilihan dan kebenaran. Manusia bebas memilih tetapi juga tidak bebas menentukan. 

Argumentasi yang sering berlawanan adalah antara yang setuju dengan eutanasia dan yang tidak setuju dengan pembunuhan tipe medis ini. begitu juga hal nya dengan aborsi, antara yang pro dan yang kontra. 

Argumen pihak pro menekankan pada pilihan, bahwa manusia memiliki kehendak bebas (dan hal tersebut tidak bisa dipungkiri) sehingga mereka juga bebas menentukan apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Argumen lain yang mendukung juga adalah yang menekankan pada aspek hak kepemilikan, yang beranggapan bahwa hidup seseorang yang hak miliknya sendiri, maka, dia bebas menentukan apa yang ingin dia lakukan pada hidupnya.

Argumen pihak kontra cukup menarik. Orang-orang ini bisa terima pada argumen tentang kebebasan dan hak milik, akan tetapi tidak bisa terima pada hal yang mengaitkan kebebasan dan hak milik pada nyawa manusia. Ada juga yang menyayangkan eutanasia karena dianggap melanggar sumpah medis. Mereka tidak setuju bahwa manusia berhak mengambil nyawa manusia.

Etika tentu mengupas habis-habisan isu macam ini. Akan tetapi, etika tidak mampu bersikap netral terhadap keduanya, lebih tepatnya, tidak mampu apa-apa. Mengapa demikian?

Argumen pro benar, sejauh argumen nya logis, nyata-faktual, dan sahih. Argumen kontra pun benar, sejauh argumen nya menuntut keselamatan hidup manusia diutamakan. Lalu, kembali pada pertanyaan di bagian judul, etika buat apa?

Etika disini bekerja membongkar habis-habisan moral dan nilai dari setiap pihak untuk ditemukan kebenaran nilai-nilai nya masing-masing. Walau demikian etika tidak mampu memvalidasi karena memang bukan tugasnya selain tidak mampu. Agar lebih jelas, yang akan penulis terangkan di bawah ini adalah etika.

Kehendak bebas manusia ada di mana di antara kedua argumen tersebut? Sayangnya, ada di keduanya. Keduanya menekankan kehendak bebas manusia pada pilihan, lagi-lagi, pada pilihan, pilihan untuk "boleh" membunuh dan tidak. Keduanya menjunjung tinggi kebebasan kehendak. Tidak ada satupun yang menolak kehendak dan kebebasannya.

Kesalahan dari argumen pro adalah bahwa kehendak bebas manusia diarahkan pada ujung "diriku sendiri bebas untuk ku apa-apakan" yang mana menunjukkan kebebasan tanpa tanggung jawab, tidak jauh berbeda dengan anarkisme individual. Perlu diingat bahwa kebebasan kehendak berkelindan dengan tanggung jawab, karena tanpa tanggung jawab tidak dimungkinkan adanya kebebasan, yang ada hanyalah kekacauan.

Argumen pro membuat kebebasan kehendak menjadi tumbal, korban bagi kesemena-menaan radikal. Tidak dimungkinkan manusia hanya bertanggung jawab terhadap orang lain, karena tidak mungkin ada orang lain jika tidak ada dirinya sendiri, hal itu hanya tidak mungkin saja (just can't). 

Kesalahan nya juga tidak luput dalam hal aborsi. Pelaku aborsi membunuh bukan hanya nyawa, tetapi juga kebebasan dan hak bayi tersebut untuk berkehendak dan untuk hidup. Ini adalah tindakan kejahatan yang tidak berbeda sangat jauh dengan genosida dan atau perampokan.

Argumen pro lupa bahwa kehendak bebas manusia itu bukan hak miliknya saja, tetapi juga semua yang manusia. Ketika tidak dalam bentuk manusia, atau dengan kata lain 'sudah tidak manusia', apakah dia memiliki kehendak bebas itu? Jelas tidak. Oleh karena itu, eutanasia dan aborsi secara otomatis tidak dimungkinkan, yang ironis nya, secara sahih dan logis. 

Etika buat apa? Ya buat ini.