Saat ini, semua orang dalam situasi merasa terancam oleh virus yang tidak terlihat secara kasat mata. Ironisnya, kondisi ini semakin diperparah oleh perilaku jari-jemari yang tidak bertanggung jawab karena terus menyebar berita bohong dan informasi yang tidak bermanfaat di media sosial.

Perilaku netizen yang acap kali merasa “sok tahu” terus bertebaran dan semakin viral di berbagai linimasa media sosial, terutama Facebook dan sejumlah group Whatsaap. Seakan tidak ada perubahan yang berarti dari perilaku orang yang suka menebar kebencian dan kebohongan (hoaks) di media sosial, pra maupun pada saat merebaknya wabah pandemi Covid-19 sekarang ini.

Mengguritanya sifat “sok tahu” di media sosial semakin menjadi-jadi tatkala menemukan sebuah informasi yang seolah sensasional dan dramatis. Tanpa upaya melakukan crosscek terlebih dulu terhadap informasi yang didapatkan, justru malah semakin menggelembungkan informasi itu di linimasa media sosial. 

Anehnya lagi, perilaku konyol itu terkadang dibumbui dengan tambahan teks agar terkesan semakin dramatis, baik dalam bentuk gambar maupun video yang kemudian diperkuat dengan pembenaran argumen yang tidak berdasar.

Pesan Al-Qur’an

Jauh sebelum memasuki abad modern, empat belas abad yang lalu, Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan rambu-rambu untuk senantiasa memverifikasi setiap informasi yang didapatkan. Bukan hanya yang tidak jelas sumbernya, bahkan yang jelas sumbernya pun tetapi jika masih meragukan asal-usulnya harus diklarifikasi ulang. Tradisi ini dikenal dengan tradisi tabayyun sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Hujurat/49: 6. Ayat yang sangat populer namun minim pengamalan.

Tabayyun dalam Islam diyakini sebagai jalan selamat untuk menghilangkan keraguan atas sebuah informasi yang belum dipastikan kebenarannya. Tabayyun juga merupakan etika dalam berkirim informasi kepada publik atas sesuatu yang diindikasikan akan menimbulkan fitnah dan merugikan banyak pihak.

Pada kasus yang lebih umum, tradisi tabayyun juga dapat digunakan untuk meminimalisir kepanikan atas informasi yang seolah-olah bombastis, tetapi pada kenyataannya tidaklah benar. Saat ini, dengan teknologi yang sedemikian maju, ketika gambar dan video mudah didapatkan, maka seseorang akan mudah pula terjerembab ke dalam kubangan hoaks jika tidak mampu memastikan kebenaran dari sebuah informasi.

Celakanya, tidak sedikit orang yang selalu ingin memantulkan setiap pesan yang diterimanya. Dari sekian banyak informasi yang diterima seseorang tidaklah sepenuhnya benar, atau bahkan tidak setiap informasi itu layak untuk disebarkan kembali. Dengan tidak menyaring atau bahkan menahan informasi itu, maka setiap informasi yang diterimanya bisa jadi hanya akan menimbulkan dampak negatif atau bahkan merugikan pihak lain.

Maka dalam konteks inilah tradisi tabayyun sebagai pesan Al-Qur’an telah menghendaki kepada seluruh umat manusia untuk senantiasa memeriksa sebuah kebenaran informasi. 

Tradisi ini pulalah yang diterapkan oleh para ulama dahulu ketika hendak memastikan sebuah hadis itu asli (shahih) atau palsu (maudhu’). Apa pun akan dilakukannya untuk memastikan kebenaran dari informasi (hadis) itu, sebelum menuliskan apa yang diterimanya. Jika dia menerima sebuah hadis, maka akan dilihat setidak-tidaknya dari dua hal, yaitu sisi matannya dan sanadnya. Matannya  dipastikan benar dan sanadnya dipastikan bersambung dan disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya (adil dan dhabit).

Etika Bermedsos

Sementara itu, di abad modern saat ini, setiap orang berlomba-lomba dalam kecepatan. Manusia dewasa ini tengah mendewakan apa yang disebut kecepatan. Bahwa siapa cepat dia dapat, mengingat setiap orang cenderung ingin menjadi yang pertama dalam berbagi pesan informasi, padahal keinginan itu bisa saja menjadi petaka ketika kita berbicara soal akurasi.

Ketika semua orang saling berisik, media sosialpun semakin gaduh. Dampaknya, dalam situasi yang semakin panik, maka manusia semakin kesulitan mengendalikan pikiran dan perilakunya. Walhasil, lahirlah sikap paranoid yang tidak perlu. Untuk itu, menjaga etika dalam pergaulan di media sosial hanya perlu menjaga jari-jemari agar tidak mudah untuk menghardik, menyimpan nyinyir, serta menampung pesan agar tidak mudah untuk dimuntahkan kembali. 

Selain itu, aktif dalam memberikan komentar yang baik (positif), jika tidak bisa lebih baik diam. Bukankah Nabi saw pernah berpesan: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Terakhir, biarkanlah para jurnalis yang bertugas menjadi benteng terakhir untuk mengawal kebenaran informasi. Namun, bukan berarti publik tidak bisa melakukannya, hanya dengan etika bermedia sosial kita juga bisa turut serta dalam menjaga peradaban manusia di tengah hiruk pikuk dan kepanikan yang melanda akibat wabah pandemi saat ini.