Senja beranjak dengan begitu anggun menuju kepada sang empunya malam hari itu. Bersama dengan bunga mawar yang menyebarkan semerbak harumnya, sebuah pendopo dari kayu jati yang telah ditata apik dengan janur kuning dan penataan lampu yang memberikan kesan klasik pun juga dengan anggun menyambut setiap hati yang datang menyaksikan sebuah pementasan tari Jawa dengan konsep menari untuk Tuhan Yang Maha Esa.

Malam itu pendopo dari kayu jati yang berada di kaki gunung Sakya tersebut memang tampak penuh dengan undangan yang hadir saat sang senja meninggalkan ruangnya menuju malam yang dingin. 

Gending Ladrang Ketawang Ibu Pertiwi yang syairnya menggambarkan tentang rasa syukur kita sebagai manusia kepada Alam (ibu pertiwi) yang telah menyediakan keperluan hidup bagi seluruh makhluk dengan ikhlas tanpa pamrih pun mengiringi Tari Rantaya Putri yang malam itu seolah sanggup menghipnotis seluruh hati yang hadir, saat seorang gadis dari Perancis yang bernama Estelle menarikannya, dengan didampingi oleh dua penari yang selama lima hari sebelumnya intens berlatih menari bersamanya.

Estelle adalah seorang sukarelawan bidang lingkungan hidup dari negara Perancis yang kedatangannya bagai kabut tertiup angin. Dari tempat kampnya di Gedong Songo, seseorang bernama Pak Roji telah mengantarkannya datang ke sebuah pendopo yang berada di tempat terpencil, yang dikelilingi oleh hutan untuk belajar menari dan mendalami kebudayaan Jawa. 

Di pendopo dari kayu jati itulah sebuah sanggar tari yang melestarikan akar budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih itu berada. Dan di sanalah ia akhirnya merasa menemukan jati dirinya yang sejati, setelah ia meninggalkan negara asalnya Perancis, berkunjung ke berbagai negara untuk melihat dunia dan kebudayaan-kebudayaannya, karena ia tidak bisa memahami, merasakan dan mengenali dirinya sendiri di tempat asalnya.

Menurutnya, ternyata dunia penuh dengan kebudayaan yang mengagumkan, dan di situlah kemudian ia merasa menemukan jati dirinya, karena meskipun kita memiliki perbedaan, kita tetaplah sama sebagai manusia di dalam kesatuan yang damai. 

Setelah ia berkunjung ke berbagai negara di benua Eropa dan Amerika, ia pun kemudian datang ke benua Asia yang menjadi destinasi terakhirnya. Dan selama tiga bulan menjadi sukarelawan di beberapa negara di Asia, ia pun akhirnya memahami arti bersyukur yang sesungguhnya.

Ia dapat melihat dengan nyata kehidupan masyarakat Asia yang masih bisa tersenyum dan bahagia meskipun dalam keadaan ekonomi yang terbatas, dibandingkan dengan negara maju yang memiliki kecukupan ekonomi yang memadai.

Di sanggar tari ini, menurutnya ia tak sekedar belajar menari. Karena saat ia belajar menari dengan konsep menari untuk Tuhan dengan ikhlas tanpa pamrih, ia dapat belajar pula tentang filosofi Jawa dan dapat mengalami langsung aktivitas budaya melalui tarian berikut dengan filosofinya yang mengagumkan baginya itu.

Falsafah Sawiji (Nyawiji), Greged, Sengguh, Ora Mingkuh dipegang sebagai falsafah hidup, pandangan hidup dan falsafah Joged Mataram. Dan dalam proses belajar menarikan Tari Jawa, Estelle pun juga belajar mendalami falsafah Joged Mataram yang merupakan standar nilai moral seorang penari Jawa.

Sebagai Falsafah Joged Mataram, sawiji memiliki arti fokus dan konsentrasi total, penuh kesadaran menyatukan pikiran, hati, jiwa dan raga ke dalam tarian yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Greged bermakna dinamis atau semangat yang membara namun tetap terkendali di dalam jiwa setiap penari yang sesuai dengan sawiji. 

Sedangkan sengguh adalah sikap percaya diri namun tetap rendah hati. Dan ora mingkuh sendiri adalah sikap teguh hati, tidak mudah berkecil hati dan berani menghadapi kesukaran-kesukaran dengan penuh tanggung jawab sebagai bentuk pengabdian total kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Bagi Estelle, konsep menari untuk Tuhan di sanggar ini bukanlah sebuah teori tapi lebih pada sebuah cara dalam hidup dan di tempat inilah  akhirnya puncak penemuan jati dirinya yang sejati ia temukan. 

Maka, setelah akhirnya ia menemukan jati dirinya, ternyata ia memang merasa dapat lebih mudah memahami, merasakan dan mengenali dirinya sendiri dimana pun kini ia berada.

Pementasan Tari Rantaya Putri oleh Estelle

Seluruh undangan malam itu pun memasuki suasana hening dan juga khidmat tatkala Estelle menapakkan kakinya menuju area pementasan di titik pusat pendopo untuk menarikan Tari Rantaya Putri yang telah ia pelajari berikut filosofinya selama lima hari. Didampingi dengan dua penari dari sanggar tersebut, Estelle pun menyibak taburan bunga mawar yang telah menyebarkan semerbak wanginya malam itu.

Tari Jawa memang tak bisa lepas dari istilah beksan yakni ambeg (napas) dan Esa (tunggal) yang berarti bahwa setiap gerak wiraga (raga) dalam sebuah tarian, hendaknya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Maka untuk kembali menempatkan tari Jawa sebagai sebuah tuntunan dan bukan hanya sekedar tontonan dalam pementasan tari Jawa malam itu, seluruh hadirin pun diminta untuk mengikuti gerakan sembahan (menyembah) di awal dan di akhir tarian untuk dapat membangun sebuah interaksi antara penari dan penonton agar menjadi satu kesatuan dan secara bersama-sama mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gerakan demi gerakan yang halus, lembut dan gemulai malam itu pun mengalir bagai air. Terkadang kibasan tegas dari sampur (seblak sampur) di ujung jari lentik penari pun sesekali membangkitkan kesadaran seluruh hadirin yang larut dalam suasana sakral (suci) yang terbangun secara alamiah.

Tak dapat disangkal lagi, penampilan Estelle yang memukau malam itu pun akhirnya menginspirasi dua remaja putri yang hadir untuk berlatih menari kembali setelah sebelumnya lama tidak aktif karena berbagai kesibukan. 

Tak hanya itu, kekaguman Estelle akan kebudayaan Jawa yang adiluhung khususnya akar budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih, malam itu seolah menyadarkan kita semua bahwa kita masih memiliki warisan budaya yang sangat bernilai yang layak dan patut untuk terus kita jaga dan kita lestarikan.

Ikhlas tanpa pamrih adalah akar budaya Jawa yang kini mungkin mulai terkikis. Namun dari pendopo kecil yang malam itu sesak oleh undangan yang hadir, dengan perkenan Tuhan Yang Maha Esa, vibrasi keikhlasan itu seolah dirambatkan oleh Alam ke segala arah sesuai dengan motto dari sanggar tari ini yakni ikhlas tanpa pamrih.

Malam itu tak hanya Tari Rantaya Putri yang menyempurnakan indahnya malam. Tari Nawung Sekar yang mengisahkan tentang anak-anak yang mengumpulkan dan merangkai bunga, juga turut menunjukkan pesona indahnya. 

Tari Nawung Sekar tampil setelah Tari Rantaya Putri, dibawakan dengan anggun dan gemulai oleh Maria Lavina Nadine, Agatha Dani Setyaningsih dan Moza Gresia Gandi, ketiga anak didik sanggar ini yang berusia dari 8 hingga 9 tahun, yang telah lebih dari tiga setengah tahun berada di sanggar ini dan turut serta melestarikan akar budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih melalui tarian Jawa yang didalami dan dipelajarinya.

Sebagai penghargaan kepada Estelle, seorang gadis dari Perancis yang telah mempelajari dan mendalami budaya Jawa melalui tarian, malam itu Estelle pun menerima sertifikat penghargaan atas keberhasilannya belajar gerak dasar tari Jawa klasik serta menarikan Tari Rantaya Putri. 

Dan lagu kebangsaan Perancis pun akhirnya dikumandangkan setelahnya. Hampir seluruh penonton kemudian menangkupkan telapak tangan mereka di depan dada sebagai penghormatan saat “La Marseillaise” berkumandang.

Dengan penuh keharuan Estelle pun kemudian menyampaikan pidatonya dalam dua bahasa yakni bahasa Perancis dan bahasa Indonesia. Dalam pidatonya, ia sungguh merasa bersyukur mendapatkan kesempatan mempelajari budaya Jawa melalui tarian berikut filosofinya di tempat ini.

Ibu Nurtatik, yang merupakan Kepala Desa dimana tempat sanggar tari ini berada pun juga memberikan sambutan yang positif dengan program khusus sanggar ini yang menerima murid tamu dari negara asing dengan tangan terbuka.  

Estelle adalah murid tamu dari negara asing yang ke empat setelah sebelumnya dari negara Swiss, Jepang dan Ceko yang datang dan belajar menari di sanggar ini. Beliau, Ibu Nurtatik yang juga mantan seorang penari pun malam itu juga mengajak seluruh undangan yang hadir untuk turut serta pula mendukung dan melestarikan seni dan budaya bangsa ini.

Sebagai penutup, lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza pun dinyanyikan oleh seluruh undangan yang hadir dengan khidmat. Bertepatan dengan dengan hari lahirnya Wage Rudolf Supratman sang pencipta lagu, yakni 9 Maret yang sekaligus merupakan Hari Musik Nasional, semoga keseluruhan lirik lagu Indonesia Raya tiga stanza yang indah dan penuh doa serta harapan yang luhur bagi negeri ini tersebut dapat terwujud.

Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya. Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya. Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya. Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya. Bangsanya, rakyatnya, semuanya. Sadarlah hatinya, sadarlah budinya untuk Indonesia Raya. 

Dua bait lirik lagu Indonesia Raya stanza kedua di atas pun akhirnya menggetarkan dan menyentuh setiap hati, setelah lagu Indonesia Raya stanza pertama dinyanyikan, yang juga menimbulkan keharuan tersendiri bagi seluruh insan yang hadir dan menyanyikannya malam itu.

Lirik demi lirik lagu Indonesia Raya yang indah itu pun kemudian terus dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh seluruh insan yang hadir malam itu sampai stanza ketiga berakhir. Derai air mata haru pun akhirnya menetes dari sudut mata sang pimpinan sanggar, setelah ia tak lagi sanggup membendungnya. 

Keharuan yang memuncak terkadang memang tak lagi bisa dibendung oleh siapa pun, maka biarkanlah ia mengalir bagai aliran air seperti sifat dari tarian Jawa yang “mbanyu mili”, karena bisa jadi, itu merupakan sebuah tanda kehadiran Tuhan pada malam itu.

Senja memang telah beranjak dengan begitu anggun menuju kepada sang empunya malam. Bersama dengan bunga mawar yang menyebarkan semerbak harumnya, sebuah pendopo dari kayu jati yang telah ditata apik dengan janur kuning dan penataan lampu yang memberikan kesan klasik pun juga dengan anggun pula menyambut setiap hati yang datang menyaksikan sebuah pementasan tari Jawa dengan konsep menari untuk Tuhan Yang Maha Esa. 

Semoga kita semua dapat saling menghormati dan menghargai satu sama lain sehingga dunia dapat menjadi kesatuan yang damai seperti harapan Estelle yang juga ia sampaikan dalam pidatonya malam itu. Karena ia, Estelle juga ingin dapat menjadi bagian dari kesatuan yang damai tersebut dengan ikhlas tanpa pamrih.

*stanza: kumpulan larik atau sajak