Lecturer
9 bulan lalu · 1402 view · 5 min baca menit baca · Agama 51826_43740.jpg

Esoterisme Islam

Ada perasaan tak rela ketika Islam, agama yang saya yakini, akhir-akhir ini dipersempit hanya menjadi satu aspek, yakni politik. Ia nampak berimajinasi sempit, sektarian, miskin estetika, menghamburkan ayat-ayat yang dicuplik dari kitab suci untuk mendukung kepentingan meraih kekuasan.

Ujung-ujungnya adalah memecah belah umat, baik internal umat Islam itu sendiri, maupun umat antaragama dan antarwarga bangsa. Selain itu, potret Islam menjadi buram, bahkan tak sedikit orang malu menjadi muslim.‎

Padahal, ajaran Islam lebih luas dari itu. Ia amat luas, seluas samudera. Keluasan itu bisa dijelajahi dalam tradisi esoterisme Islam, yang diartikan oleh Annemarie Schimmel sebagai kesadaran terhadap Kenyataan Tunggal. Bisa juga disebut kearifan, Cahaya dan Cinta. Pengertian lainnya adalah energi dengan kedekatan pada sumber spritual tertinggi.

Kata lain untuk menyebut esoterisme Islam adalah tasawuf atau sufistik. Ajaran ini telah membimbing dan membentuk peradaban umat Islam, baik ilmu pengetahuan, politik, seni dan agama, yang juga berdampak pada kemajuan umat manusia.

Dalam tradisi Islam, esoterisme bisa dijumpai dari laku lampah hidup Nabi yang sering menyebut nama Tuhannya dengan nama al-Rahman, suatu penyebutan yang juga merupakan salah satu ayat dalam Alquran yang dimulai dengan ayat-ayat: "Yang Maha Pemurah (al-Rahman) yang telah mengajarkan Alquran (Q.55: 1-2).


Selain itu, setiap apa pun yang kita perbuat untuk kebajikan, kita harus memulainya dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, 'Bismillahi rahmannirrahim. Ia tidak hanya penyebutan belaka, melainkan harus diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari: Kehidupan yang menebar kasih sayang.

Nabi Muhammad merupakan rujukan utama dalam tradisi esoterisme Islam. Ia bertolak belakang dengan yang digambarkan oleh orang-orang yang phobia terhadapnya, suka perang dan penuh nafsu. Ia sesungguhnya orang yang halus budi dan amat sangat terpercaya (al-Amin).

Ia menyukai kesunyian untuk memperoleh suasana tak ada jarak antara dia dengan PenciptaNya. Dari kesunyian ini ia memperoleh pencerahan dan kebangkitan umat manusia dalam mengisi alam raya yang tergambar dalam surat Al-'Alaq (perintah membaca) dan al-Muddassir (perintah bangkit dan bergerak).

Menurut sebuah hadis, kearifan esoteris Nabi Muhammad tersebut dipancarkan ke saudara sepupu dan sahabat yang bersamanya sejak kecil, yakni Ali Bin Abi Thalib.

Kumpulan nasihat, khotbah dan surat-surat Ali ini dikumpulkan seribu tahun lalu oleh Sharif Radhi dalam suatu kitab bernama Nahjul Balaghah. Kitab ini berisikan beragam topik, seperti metafisika, teologi, etika, filsafat, sejarah, retorika, puisi, literatur dan lain-lain.

Pada sekitar abad pertengahan, tradisi esoterisme Islam melahirkan manusia-manusia suci yang lembut hati, hidup sederhana, beretika mulia, juga melahirkan banyak karya. 

Ia bisa berwujud bahasa, puisi, kaligrafi, karya-karya sastra, gerak tari, lagu-lagu yang kesemuanya itu merupakan ekspresi dari pengungkapan rindu dan cinta pada Zat Yang Tak Terbatas dengan media yang terbatas. Tak hanya karya, tetapi juga persambungan dan pertukaran ilmu dan dialog dengan agama-agama lain seperti Hindu dan Bhuda, juga Kristen.

Karena itu, tradisi esoterisme Islam tak mengenal keangkuhan dan fanatisme buta dalam beragama, karena mereka menyadari, apa yang mereka ketahui merupakan ceruk kecil dari samudera tak terbatas ilmu pengetahuan Tuhan. Masing-masing hanya mengambil seceruk kecil dari samudera tak terbatas tersebut.

Dengan mengambil sedikit contoh dari pengungkapan ekspresi cinta kepada Zat Tak Terbatas tersebut dapat dijumpai pada karya-karya agung seperti yang diwariskan Ibnu Arabi yang menulis tak kurang dari 300 buku.

‎Demikian pula dengan yang diwarisi al-Ghazali. Ia telah menulis tidak kurang dari 70 karya dalam pelbagai disiplin ilmu: Agama, bahasa, filsafat, logika, yurisprudensi, kosmologi, psikologi, tasawuf dan teologi.

Karena keluasan ilmunya tersebut, al-Ghazali mendapatkan gelar 'hujjatul Islam', karena kemampuannya berargumentasi dan berdebat soal-soal teologi dengan pendekatan filsafat.

Melalui pendekatan esoterisme pula, Islam menyebar dan tersebar di Nusantara. Di pulau Jawa, misalnya, penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Songo bukan dalam bentuk peperangan atau penaklukkan, melainkan melalui pendekatan kesenian lokal seperti seni wayang dan lagu-lagu. 

Dengan cara demikian, ajaran Islam tidak terasa mengancam dan asing, tetapi indah dirasa oleh mereka yang merindukan kearifan dan kebenaran.

Dalam masyarakat modern, pendekatan esoterisme bisa dijumpai dari karya Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary.

Terjemahan Alquran berbahasa Inggris yang sangat populer di dunia Barat ini memokuskan pada makna batin yang terdapat pada sebuah ayat, bukan makna lahirnya, sebab makna lahir akan terbatas oleh ruang dan waktu, sementara makna batin memiliki dimensi universalitasnya yang tak lekang oleh waktu dan ruang.

Bersama makna batin yang ditulis Abdullah Yusuf Ali, Alquran menemukan keluasan, ketakjuban dan keindahannya. Diterjemahkan dengan bahasa puitis yang ia kuasai dari para penyair Barat.

Ia mengumpamakan makna batin tersebut seperti musafir yang berada di atas gunung. Makin tinggi ia naik, akan makin jauh yang dapat dilihatnya. Dengan mengutip penyair Keats saat ia berjumpa dengan epik Homerus:

Lalu aku merasa seperti penghuni langit
Tatkala planet baru berenang-renang sejauh mata memandang
Atau seperti Cortez yang perkasa ketika dengan sepasang mata garuda
Ia menatap ke Pasifik, dan semua anak buahnya
Saling berpandangan satu sama lain dengan dihinggapi dugaan gila
Hening, di atas sebuah puncak di Darien.

Selain karya Abdullah Yusuf Ali, pemikiran esoterisme Islam bisa dijumpai pada karya Seyyed Hossein Nasr, ilmuwan asal Iran yang menghabiskan waktu belajarnya untuk ilmu-ilmu eksakta di Amerika dari semasa sekolah menengah hingga guru besarnya.

Nasr senantiasa menyuarakan tentang dimensi sufistik dalam Islam sebagai jantung beragama, terutama rekontruksinya terhadap kekayaan tradisi sufistik Persia yang memperkaya jiwa.

Kekayaan tradisi sufistik ini melahirkan bentuk-bentuk kesenian dengan cita rasa yang indah dan sangat tinggi, seperti seni arsitektur, seni kaligrafi dan seni baca Alquran.


Nasr juga mengritik masyarakat modern yang cenderung mengalami disorientasi hidup dan kenestapaannya, baik di Timur maupun di Barat.

Menurutnya, masyarakat Timur cenderung menjadikan Barat sebagai model dan meninggalkan kekayaan tradisi spritualitas yang dimilikinya. Sementara Barat terlalu mengutamakan akal dan segala sesuatu yang bersifat bendawi dengan semangat penaklukkan yang tinggi terhadap alam, dan tidak melihat alam sebagai penampakan wajah Tuhan (tajally).

Memang, dalam perjalanannya, tradisi esoterisme Islam tidak senantiasa sejalan dengan semangat dan tujuan awalnya. Ia tak selalu indah, putih, suci dan bercahaya.

Ia punya sisi kelamnya tersendiri. Ia, misalnya, dikritik sebagai biang dari kemunduran umat Islam, karena para praktisinya cenderung melarikan diri dari kehidupan nyata dengan segala kompleksitasnya dan hidup menyendiri di suatu tempat (uzlah).

Ia juga dikritik mematikan akal, karena banyak praktik hidup yang dijalani para praktisinya tak masuk akal.

Yang hendak disampaikan melalui tulisan ini adalah bahwa ada aspek Islam yang indah, cantik, damai, mengutamakan kasih sayang, mengutamakan ilmu pengetahuan dan estetika dengan keagungan manusia yang menjalankannya.

Manusia yang menjalankannya sering disebut banyak pihak sebagai 'paku-paku' dunia, karena keberadaan mereka membawa cahaya dan jiwa kehidupan yang diperoleh dari pancaran Maha Pemilik kehidupan dan Pemilik Cahaya.

Dengan etika hidup yang dijalankannya, mereka merangkul seluruh manusia dalam pelbagai latar belakang, bahkan mengasihi apa pun yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini dengan penuh kerendahan hati.


Artikel Terkait