Para pengagum Thomas Aquinas pernah dibuat pusing oleh Dante Alighieri karena puisi-puisinya dalam seri Divina Commedia dianggap menistakan ajaran agama kristen karena dituliskan seolah agama adalah sebuah lelucon.

Betapa tidak, Aquinas begitu dihormati dan diagungkan atas karya-karyanya dalam Summa Theologica yang menjelaskan ontologis, bagaimana akal manusia bisa bekerja dalam pengenalan terhadap Allah merujuk pada ajaran Kristen di Alkitab.

Tidak hanya itu, Aquinas dalam pengajarannya selalu berkisah tentang apa yang menjadi tujuan manusia di dunia dan setelah kematian, tentang sakramen dan keberadaan Allah. Pun di masa abad pertengahan, karya Aquinas kerap menjadi rujukan banyak gereja-gereja dalam sakramen liturgi di gereja.

Thomas Aquinas (1225-1274) adalah seorang imam Katolik dari Italia, sama dengan Dante Alighieri (1265) yang juga berasal dari Italia, bedanya Dante berprofesi sebagai panyair yang banyak menulis karya-karya sastra.

Awalnya mahakarya Dante Aligheri, Divina Commedia atau Komedi Ketuhanan hanya dianggap sebagai karya tidak berguna (sampah) oleh banyak orang di Italia. Karena mengacaukan logika di masa skolatisisme (abad pertengahan) yang sedang dipenuhi dogma agama.

Divina Commedia adalah kumpulan puisi panjang dalam mendeskripsikan 3 dunia setelah kematian yaitu Inferno (neraka), Purgatorio (api penyucian) dan Paradiso (surga).

Abstraksi dari Divina Commedia merupakan perjalanan eskatologi seorang Dante Alighieri  setelah kematian dalam mengarungi masa depan menuju Tuhan (thelos).

Dante dalam karyanya Divina Commedia melakukan klaim imajinatif bahwa ia dibimbing oleh rasa cinta sekaligus frustasi atas meninggalnya perempuan yang sangat dicintainya bernama Beatric Portinari.

Dante dan Beatrice dikisahkan bertemu pada sebuah pagelaran pesta di Italia saat usianya masih 9 tahun. Pada pertemuan pertama mereka, Dante langsung jatuh hati pada Beatric serta berujar bahwa perempuan kecil itu adalah cinta sejati dunia dan setelah kematian.

Sejak pertemuan itu, Dante tidak lagi pernah bertemu Beatrice. Hingga umur Dante  berusia 19 tahun sementara Beatrice yang saat itu satu lebih muda berusia 18 tahun. Pada pertemuan keduanya dengan Beatrice, ternyata perempuan itu sudah didapatinya bertunangan dan akan menikah dengan seorang laki-laki bernama Simone Dei Bardi.

Dante patah hati sekaligus merelakan Beatrice menikahi laki-laki yang berprofesi sebagai pegawai bank itu. Meski begitu, Dante selalu melihat Beatrice dari kejauhan walau ia telah memiliki suami. Dante tidak peduli soal status sosial Beatrice yang merupakan istri dari orang lain.

Malangnya, setelah 3 tahun menikah. Beatrice sakit keras dan meninggal dunia. Dante semakin terpukul karena kali ini ia ditinggal selama-lamanya karena Beatrice tidak ada lagi di dunia.

Hingga suatu malam, dalam tidurnya, Dante bermimpi bahwa Beatrice mendatanginya dan berucap : "Cinta sejati itu abadi, tak akan pernah dipisahkan oleh apapun, sekalipun itu kematian".

Berangkat dari mimpinya itu, Dante berkeyakinan bahwa dengan berakhirnya nafas tidak akan membuat cinta berakhir.

Dante memutuskan mencari Beatrice yang mulai dikisahkan dalam Inferno (neraka). Menuju neraka, Dante dipandu oleh penyair Kuno Romawi bernama Virgil, di neraka ia menemui sesuatu yang sangat buruk, kotor dan panas sebagaimana yang sering dikisahkan dalam teologi Kekristenan. Pun Dante tidak menemukan Beatrice di neraka.

Dari neraka, Dante dikisahkan mengaruhi hutan belantara yang luas menuju Purgatorio (api penyucian). Alasannya dipercaya bahwa setelah orang masuk neraka pasti akan disucikan, lagi-lagi Dante tidak menemukan  Beatrice di Purgatorio.

Namun, dari kejauhan ada suara yang pernah ia dengar, mirip suara Beatrice yang mulai diangkat masuk ke Paradiso. Menuju Paradiso (surga), Dante dibimbing oleh Beatrice hingga keduanya bertemu dalam kisah yang abadi.

Divina Commedia yang terdiri dari 3 buku itu (Inferno, Purgatorio dan Paradiso) yang ditulis Dante adalah bercerita tentang eskatologi surga tapi dipimpin oleh kasih yang philia. Pada ruang lingkup imaajinasi, Dante bermain-main dengan kata, yang menggabungkan antara tradisi Kristen dan tradisi Yunani sehingga karakter yang ada di Divina Commedia dibuat seolah masuk akal.

Secara historis, Divina Commedia juga merupakan tumpuan sejarah teologi filsafat barat. ia menyatukan ekspresi sastra dan teologi dalam menerjemahkan kehidupan masa depan manusia setelah meninggal dunia.

Berbentuk hampir 15.000 baris, Dante menyusun Divina Commedia dengan cara yang menarik karena berhasil menciptakan ruang imajinasi yang luas. Secara keseluruhan Divina Commedia terdiri dari 100 puisi : 34 puisi Inferno, 33 puisi Purgatorio dan 33 puisi Paradiso.

Pun Divina Commedia hingga saat ini, masih dianggap sebagai karya sastra terbaik abad pertengahan. Terlepas dari kontroversi dan pelbagai penolakan yang pernah hadir dari pemuka agama Kristen di dunia. Karena dianggap mengotori iman Kristen.

Divina Commedia selama ini banyak mendapatkan kritik. Meski begitu banyak pembaca  sastra di dunia menyematkan label bahwa Divina Commedia adalah salah satu karya sastra terbaik sepanjang masa.