Manusia pada dasarnya selalu memiliki harapan-harapan yang diekspresikan dalam berbagai hal. Demikian halnya dengan kedua tokoh ini—Bacon dan Nietzsche. Mereka merupakan tokoh-tokoh penting yang mengubah arah kehidupan manusia dalam sejarah dan kebudayaan. Masing-masing di antaranya memiliki visi berbeda di masa depan yang mana sekaligus merupakan representasi eksistensial umat manusia secara universal.

Tokoh-tokoh tersebut mewakili dua pemikiran eskatologis terpenting mengenai dua perspektif, sekaligus menjadi acuan bagi harapan-harapan terbesar manusia yang di dalamnya harapan-harapan itu dibangun, diperjuangkan, dan dijadikan worldview.

Selain kedua tokoh tersebut, tentu masih ada beberapa tokoh lain yang mewakili keyakinan eskatologis dari keragaman kepercayaan agama dan filsafat manusia. Namun karena konteks tulisan ini terbatas pada dialektik eskatologis modernisme dan postmodernisme, maka penulis membatasi tulisan singkat ini.

Meski demikian, tidaklah berlebihan untuk menyajikan harapan-harapan besar kedua tokoh tersebut mengingat keduanya merupakan representasi yang paling menonjol dari dua masa tersebut.

Eskatologi Modernisme Bacon.

Francis Bacon (1561-1626), filsuf dan ilmuwan asal Inggris, menjadi tokoh penting yang mendasari pemikiran pencerahan dengan menekankan empirisme sebagai metodologi sains. Ilmu pengetahuan adalah kunci untuk mencapai cita-cita terbesar manusia. 

Knowledge is power adalah slogan Bacon. Dengan ini, ilmu pengetahuan yang sebelumnya memuliakan Allah, kini berganti memuliakan manusia. Hasrat pada ekspresi keagungan Allah melalui sisi kosmologis berubah menjadi hasrat terbesar manusia untuk menerapkan will to conquer. Alam dieksploitasi semaksimal mungkin untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusia.

Bacon secara perlahan namun pasti melepaskan manusia modern yang sebelumnya bergantung pada Allah menjadi manusia-manusia otonom yang menggunakan kekuatan rasio serta ilmunya sebagai harapan terbesar mereka. “Allah-allah” manusia modern adalah seperangkat mesin-mesin yang dikembangkan oleh kekuatan nalar manusia. 

Manusia dan mesin seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dan saling membutuhkan. Manusia menciptakan mesin dan mesin menjadi pengharapan manusia modern, bahkan dalam tahap tertentu memperbudak manusia.

Sevisi namun berbeda, Auguste Comte merumuskan cita-cita Bacon dan mengembangkannya menjadi kajian positivisme. Comte membagi epistemologi manusia dalam tiga zaman, yaitu zaman teologis (theosentris—agama), zaman metafisik (suatu prinsip absolut yang non adikodrati—filsafat), dan zaman positivistik (ilmu pengetahuan—sains modern).

Ilmu pengetahuan adalah puncak dari kejayaan manusia yang dengannya manusia dapat menata kehidupannya secara otonom. Harapan-harapan modernisme ini tak pelak lagi menimbulkan bibit-bibit humanisme dan ateisme radikal seperti Hume, Russell, dan generasi selanjutnya seiring dengan perkembangan epistemologi sains modern ke arah radikal.

Meskipun jurang yang berseberangan mengenai spiritualitas modernisme dan keyakinan spiritual mulai tampak, namun semangat pencerahan yang dilandasi prinsip-prinsip etika dan kebenaran universal kekristenan di dunia Barat masih dipertahankan oleh sebagian besar pemikir modernis (Kant misalnya). Hal ini menyebabkan konsep universalitas seperti kebenaran dan moral menjadi hal penting yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat modern.

Kebenaran yang ultimat (metanarasi dalam istilah Lyotard) bagi kaum modernis masih ada meskipun dalam pandangan yang beragam dan mulai bergeser ke arah non-teistik. Kebenaran itu dapat ditemukan melalui serangkaian uji eksperimental, baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial humanis.

Di sisi lain, harus diakui bahwa cita-cita modernism telah berdampak pada kehidupan manusia modern hidup dalam “berkat” yang telah dirintis oleh modernisme.

Harapan-harapan akan keberlangsungan eskatologis di dalam dunia makin tinggi, sebagaimana kata Krauss yang menaruh pengharapannya pada sains, “Ketika sains dan data menjadi penting sebagai masukan informasi bagi kebijakan-kebijakan publik kita, peradaban kita akan terkendala dalam menghadapi ancaman-ancaman paling gawat terhadap ketahanannya.”

Kraus mewakili harapan Bacon dalam konsepsi eskatologis modernisme. Meski demikian, lajunya perkembangan sains secara tak terhindarkan menimbulkan konsekuensi lain yang mendatangkan kesenjangan sosial, kejahatan (individu maupun global kenegaraan—industri nuklir, mis.), penyakit dan permasalahan ekonomi-politik, serta ekologi global yang tak kunjung terselesaikan.

Makin canggih penemuan sains dan teknologi sepertinya harus dibayar juga dengan harga yang mahal dengan kerusakan lingkungan, dan dehumanisasi yang makin masif di negara-negara maju.

Teknologi robotik, harapan-harapan ekstrem seperti kekekalan sibernatik (manusia setengah robot), usaha-usaha kloning pun secara underground hingga impian penjelajahan planet-planet baru sebagai kehidupan alternatif di dalam alam semesta, semuanya diperjuangkan demi tercapainya masa depan yang kekal di bumi.

Visi yang ekstrem tersebut menghadapkan manusia modern pada pada peradilan semu oleh apa yang ia kreasikan sendiri. Kemanusiaan manusia tertelan oleh keberadaan mesin-mesin penemuannya. Pergumulan moralitas, spiritual, esensi manusia, dan pertentangan etis pun menghantui usaha-usaha tersebut.

Papperell mengomentari hal ini dengan mengatakan, “Ironisnya, keunggulan dan superioritas dan keunikan ini sedang ditantang oleh berbagai teknologi yang sedang kita ciptakan, dan hal itu memperlihatkan keunggulan yang seimbang antara manusia dan mesin.”

Meski demikian, harapan-harapan radikal tersebut masih terus dipertahankan oleh kalangan saintisme seperti yang disuarakan Ioanes Rakhmat, “Tanpa sains modern dirujuk, dan tanpa berpijak pada fakta dan bukti, kepercayaan-kepercayaan keagamaan atau kepercayaan-kepercayaan ideologis apa pun akan sangat menyesatkan orang beragama dan merugikan kehidupan mereka.”

Kontur masyarakat modern pada akhirnya merepresentasikan ulang masyarakat Babel yang ingin membangun peradaban otonom manusia secara seragam, satu komando, dan kuat secara komunal dengan satu langkah lebih besar; mimpi indah kekekalan masa depan yang sekaligus menjadi mimpi buruk bagi eksistensi manusia itu sendiri.

Di bawah nubuatan dan cita-cita eskatologis Bacon, sains modern kini berkembang dengan cepat, pesat, dan liar tak terkendali. Hal ini yang justru dikhawatirkan para pegiat sains dan filsuf sebelumnya bahwa sains yang menjadi tumpuan harapan manusia itu justru berbalik memperbudak dan menghancurkan manusia serta lingkungan hidup di sekitarnya.

Sisi eskatologis yang dicita-citakan Bacon itu pun kini seperti menghadapi suatu dilema. Masa gemilang sains modern justru merupakan suatu masa antitesis bagi manusia dan sains itu sendiri. Kegagalan ini yang kemudian diteriakkan secara brutal oleh Nietzsche dan kaum posmodernis selanjutnya.

Eskatologi Postmodernisme Nietzsche

Ledakan postmodernisme terjadi pada dekade 60-an dalam bidang seni dan arsitektur. Gerakan ini terus berkembang dan berubah menjadi sebuah pola filsafat kritis yang menyoroti kegagalan-kegagalan modernisme dalam segala bidang.

Berbicara mengenai postmodernisme, filsafat, serta etos budayanya, maka tidak dapat dimungkiri bahwa nama besar filsuf Jerman Friedrich Nietzsche (1844-1900) hadir membayangi wacana ini. Pemikiran Nietzschelah yang menjadi fondasi kaum postmodernis yang kemudian dilanjutkan oleh beberapa filsuf Prancis. 

Meskipun ada beberapa perbedaan dan arah dalam berfilsafat, namun kritik Nietzsche yang menggaungkan “tuhan sudah mati” memberikan gambaran umum mengenai gagalnya harapan-harapan modernisme dan kekristenan dalam membangun sistem dunia Barat. Nietzsche adalah antitesis dari modernisme sekaligus juga bagi kekristenan (yang juga mewakili semua keyakinan religius).

Bukan hanya itu, Nietzsche juga melawan semua bentuk ideologi manusia yang mengekangnya. Sistem ideologi yang di dalamnya manusia menaruh pengharapan eskatologis mereka, bagi Nietzsche, adalah semacam penjara dan mitos yang terus-menerus digaungkan serta diyakini karena manusia tidak dapat hidup tanpa mitos (sebuah sistem ideologi/keyakinan mutlak).

Nietzsche menggoncang semua sistem pemikiran manusia. Ia tidak percaya dan tidak ingin memercayakan diri pada ideologi, filsafat atau agama mana pun. Menurutnya, sistem-sistem tersebut menjadikan manusia impoten, tidak berkembang, dan bermental budak.

Dari perspektif epistemologi, Nietzsche menolak semua sistem filsafat (dan agama) yang menurut pandangan modernisme mampu merepresentasikan kebenaran sehingga seolah-olah manusia dapat hidup dalam kebenaran universal itu.

Kebenaran dan moralitas universal tidak pernah ada, yang ada hanyalah penafsiran mengenai moralitas. Bagi Nietzsche, tidak ada kebenaran absolut, melainkan hanya penafsiran mengenai kebenaran-kebenaran yang dikungkung oleh keterbatasan bahasa manusia. Bahasa tidak dapat mengakomodasi realitas, sementara pemaksaan yang dilakukan oleh filsafat, sains, dan agama itu justru hanya akan menghancurkan realitas.

Realitas tidak dapat dipresentasikan secara mutlak oleh bahasa. Maka semua kebenaran yang dibangun oleh filsafat, sains, dan agama hanyalah sebuah mitos bagi Nietzsche. Kebenaran hanyalah sejenis kepalsuan yang mana manusia tidak dapat hidup tanpa kepalsuan tersebut. 

Nietzsche benar-benar menghancurkan harapan-harapan modernisme dan segala asumsi filsafat di belakangnya. Di kemudian hari, gagasan ini dikembangkan dengan lebih ekstrem oleh Derrida dengan dekonstruksinya.

Dalam hal pengharapan eskatologis, jika Bacon bertolak dari knowledge is power, Nietzsche berbeda; ia bertolak dari will to power (kehendak berkuasa). Apa yang membuat Bacon dan kaum modernis ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, menurut Nietzsche, sesungguhnya bukan bertolak dari keinginan kemajuan peradaban manusia, namun bertolak dari kehendak untuk berkuasa.

Hal ini terbukti ketika ilmu pengetahuan itu berkembang, yang terjadi justru sebaliknya, penjajahan demi penjajahan kebudayaan serta pengeksploitasi lingkungan hidup terus terjadi. Yang menguasai ilmu pengetahuan menjadi penguasa dunia dan menindas umat manusia. 

Bagi Nietzsche, semua sistem kebenaran yang dibangun oleh filsafat, sains, dan agama tidak lain hanyalah merupakan mitos-mitos yang menjadi ekspresi dari kehendak untuk berkuasa dalam bentuk lain.

Agama adalah ciptaan manusia-manusia yang kalah dan tidak berani melawan eksistensinya di dalam dunia. Manusia-manusia demikian terkekang dan tidak berani untuk berkuasa. Nietzsche membuang semuanya itu dan membangun sistemnya sendiri dengan slogan “god is death”.

Mengapa harus membunuh tuhan? Bagi Nietzcshe, “tuhan” adalah oknum (konsepsi) yang paling bertanggung jawab dari semuamitos tersebut. Maka, hanya dengan jalan membunuh tuhan, dunia kemudian akan melahirkan manusia-manusia unggul ubermensch. Manusia-manusia super yang tidak bermental budak (bebas dari perbudakan filsafat, agama, ideologi) dan bebas mengembangkan diri tanpa aturan, tanpa moral, tanpa kekangan, brutal dan garang.

Manusia Barat yang dikekang oleh cita-cita modernisme dan etika Kristen menjadikan manusia-manusia Barat bermental lembek. Etika Kristen yang mengajarkan kasih telah membentuk etika masyarakat Barat menjadi penyabar, berbelas kasih, dan bermental budak karena mudah menyerah/memaafkan dan menerima keadaan. 

Keseluruhan hal ini bermuara pada satu oknum, yaitu “tuhan”. Ketika “tuhan” mati, maka manusia bebas berekspresi. Manusia-manusia ubermensch dapat berkembang dan mengembangkan dirinya tanpa intimidasi, kekangan, dan nilai-nilai moral apa pun.

Namun ketika hal itu terjadi, maka secara tak terhindarkan pula suatu keadaan nihilis mengada. Suatu keadaan yang tanpa nilai, tanpa norma, tanpa aturan, dan tanpa pegangan bagi manusia-manusia ala Nietzsche.

Inilah bentuk nubuatan eskatologis ala Nietzsche yang dikenal dengan keadaan nihilis. Di dalam keadaan nihilis ini, Nietzsche sebut sebagai “siklus kekal” yang akan terjadi berulang tanpa makna dan nilai. Manusia-manusia ubermensch akan menghidupi kehidupan dalam siklus kekal ini dengan menjadi “tuhan” bagi dirinya sendiri, menerima, dan menikmati hidup begitu seterusnya.

Sebuah Evaluasi dan Refleksi

Memahami kedua pandangan eskatologis dari kaum modernis dan postmodernis, maka akan dijumpai satu kesamaan utama. yaitu bahwa konsepsi antropologi yang diusung sangat tensendius bercirikan materialistis. Unsur kemanusiaan direduksi menjadi hanya materi saja, seolah-olah kehidupan manusia itu hanya ada dalam dunia materi di dalam dunia ini. Kondisi spiritual sama sekali diabaikan.

Bagi konsep pemikiran manusia modernisme dan postmodernisme memang tidak ada kehidupan kekal yang bercirikan spiritual, manusia hanyalah makhluk materi yang terkonsepsi secara alami dan kimiawi oleh materi di alam semesta ini. Dasar pemikiran demikian dapat dirunut hingga para pemikir dan filsuf empirisme awal seperti David Hume hingga para ilmuwan ateis modern seperti Hawking dan Dawkins.

Dengan presuposisi filsafat yang ateistik tersebut, maka tidaklah mengherankan konstruksi hingga konklusi modernisme dan postmodernisme mendegradasi sisi antropologi dan eskatologi manusia hingga pada titik materialistis semata.

Fenomena pemikiran dan eskatologis modernisme dan postmodernisme memberikan ciri dualisme yang begitu kentara. Modernisme begitu menekankan sisi optimisme dan pergulatan eksistensi manusia yang otonom dan tanpa akhir, sementara postmonernisme justru lebih menunjukkan sikap pesimistik yang tanpa harapan dan tanpa pegangan.

Gejala-gejala demikian kini makin eksplisit diperlihatkan di dunia barat. Sementara dunia timur yang kental dengan mistisisisme dan filsafat timur juga memperlihatkan segi eskatologis transendental dan mistik.

Meski demikian, teknologi digital yang mendunia saat ini sudah makin memperlihatkan pengaruhnya bagi keyakinan masyarakat Timur. Pergeseran dari mistisisme kepada rasionalisasi Barat di era postmo makin masif.

Namun hal menarik dari semua fenomena ini adalah pertanyaan bahwa “bagaimana mungkin manusia memiliki semacam kerinduan eskatologis dalam eksistensi kehidupannya?” Hal ini yang tidak pernah terjawab secara tuntas, baik oleh filsafat maupun sains. Bagaimana dengan agama?