8 bulan lalu · 512 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 35192_84422.jpg
radarbogor.id

Eskapisme Wabah Nikah Muda

Tidak adakah celah barang sekecil lubang gigitan rayap, untuk sekadar mengoreksi atau minimal menengok situasi yang marak muncul belakangan? Misalnya, soal pusparagam fenomena dan fakta-fakta di media sosial khususnya di Indonesia, dengan kecepatan viral secara express dan tak disangka mendadak kempes, surut secara tiba-tiba.

Di era gadget atau gawai ini, hampir semua orang sebegitu instan mudah mengagumi—dan tanpa berselang lama—sekaligus mudah membenci. “Entah mengapa, menebak isi hati manusia belakangan ini begitu sulit. Padahal, orang-orang begitu gegap gempita membagikan cerita kesehariannya pada ruang-ruang publik.” Ini pandangan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam buku terbaru beliau, Kiai Hologram.

Memang, sudah menjadi kecenderungan sifat generasi sekarang untuk saling share—dengan dalih to care—mengenai banyak hal, informasi, video tik-tok yang telah diblokir Kominfo, tips-tips apa saja, kajian-kajian agama, hingga urusan selebritas yang ditinggal mati kucingnya.

Kalau dalam akun-akun linimasa, Anda hanya perlu untuk klik ujung kanan atas, atau fitur simbol di bawah yang menunjukkan kata “bagikan”, maka dengan secepat kilat, itu akan tersebar ke dunia antah berantah yang kini semakin banyak penduduknya.

Begitulah kecepatan informasi tersebar di teritorial bernama net, dengan penghuninya yang tak lagi betah di kehidupan nyata—dipanggil netizen, warga dunia internet/maya, bukan lagi citizen (warga kota).

Jika saja segala kegencaran banjir informasi di masa kini itu tidak mendera secara brutal, apalagi sampai memutarbalikkan substansi dari fakta di dalam informasi tersebut, tentu akan tidak jadi soal. Tidak akan menggelisahkan.

Tetapi nahasnya, pangkal dari kebanyakan tragedi pembiasan nilai, blur pandangan, malpraktik pendidikan, peyorasi istilah-istilah, pendangkalan cara berpikir, hingga konspirasi dan propaganda, justru dipicu oleh media yang sekarang nasibnya berada di jempol netizen (dahulunya: pers).

Sample dari kemirisan ini, saya suguhkan cuma satu saja: yaitu tentang senarai gejolak dan keviralan nikah muda.

Menyoal “nikah muda” yang dua tahun terakhir ini sedang menjadi trend, terutama di kalangan milenial. Mau diakui atau tidak, hal demikian dipicu oleh, salah satunya, kegemparan media menyorot para selebritas yang menikah muda sekaligus beberapa tokoh—atau anak tokoh—yang memutuskan membangun keluarga pada usia remaja.

Kira-kira, bermula pada akhir tahun 2015 atau awal 2016 hingga sekarang. Walaupun semenjak dahulu, tidak nihil pula yang melakukan nikah muda. Hanya saja, sekarang ini lebih menjadi trend, bahkan sampai nyaris menjadi suatu kampanye.

Umpamanya, bisa diamati pada putra dari ustaz Arifin Ilham, yaitu M. Alvin Faiz yang menikahi seorang muallaf Larissa Chou pada usia 17 tahun sementara istrinya berusia 20 tahun. Pernikahan ini, akadnya saja pun, menjadi viral di kalangan muda-mudi, mulai dari milenial lulusan sekolah biasa hingga ke para santri di pesantren.

Mendadak banyak sekali yang memposting ulasan tentang nikah muda. Mengampanyekannya dalam beberapa sesi kajian agama, dengan dalih menghindari zina, atau free-sex. Otomatis makin tergiurlah para generasi puber masa ini, untuk segera mengikutinya—secara kasarnya: membebek padanya—dengan tanpa pertimbangan matang.

Padahal, urusan pernikahan—yang sakral dan sama sekali tidak boleh disepelekan—menjadi seakan barang murah. Mohon maaf, bahwa teramat sering beberapa pihak mendapatkan kiriman foto kertas bertulisan-tangan yang isinya tentang budget pengeluaran biaya untuk nikah, dengan akhir kalimat, “yang penting sah”. Tidak sampai 1 juta.

Miris sekali saya melihatnya. Di sisi lain, sekaligus menertawakannya bersama teman. Alangkah mudahnya kita diperdaya oleh trend, dan kemudian merebak wabah simplifikasi akan sesuatu hal—yang tidak selayaknya disederhanakan, meskipun tidak perlu pula dipersulit atau dirumitkan.

Oke, saya juga setuju pada adagium yang mengatakan, “mencegah lebih baik daripada mengobati” (hamil di luar nikah). Tapi bukankah ini sudah merambah menuju indikasi yang menunjukkan bahwa perangai generasi muda jaman ini begitu haus akan seks? Atau secara gamblangnya bisa dibilang suatu eskapisme legal belaka?

Seakan-akan nikah hanyalah suatu alat atau stempel legitimated, untuk melampiaskan, menumpahkan, pemuasan untuk membubrahkan seluruh kejalangan manusia—yang justru malah menyerupai binatang? Yang mana seharusnya nikah tetap menjadi sesuatu yang sakral dan harmonis karena merupakan penyatuan antar-keluarga, bukan hanya antara dua insan.

Kemudian trend nikah muda ini semakin menjadi-jadi ketika salah seorang hafidz Alquran sekaligus selebgram, Taqy Malik, menikah dengan Salmafina Sunan, yang sama-sama masih berusia muda—yang berujung perceraian. Tentu saya tetap turut menaruh simpati kepada perceraian mereka berdua.

Namun, perceraian Taqy Malik dengan Salmafina Sunan, bagi pandangan personal saya, hal tersebut berdampak sebagai stabilizer pada isu “nikah muda” pasca-kejadian tersebut. Orang, utamanya para muda-mudi, akan jadi berpikir ulang jika masih nekat untuk “nikah muda”.

Toh, jika menilik pada tahun 2017, angka perceraian di Indonesia menjadi nominasi tertinggi di negara-negara Asia Pasifik. Bahkan dalam rentang 2009 – 2016, kenaikan angka perceraian sangat signifikan, meningkat dari 16 - 20%.

Sedangkan pada 2015 silam, setiap satu jam terjadi 40 sidang perceraian atau ada sekitar 340.000 lebih gugatan cerai. Dan ini didominasi oleh pasangan muda. Sangat disayangkan, betapa banyaknya anak yang nasibnya ke depan menjadi sosok yang tumbuh dari keluarga broken-home. Angka-angka tersebut semestinya dapat ditekan.

Apalagi kalau kita mengingat sindiran keras dari Bung Karno, “Mesum mbahnya mesum!” yang dituliskannya demi menyikapi kondisi umat Islam sekaligus perangai bangsa yang disebutnya sontoloyo kala itu.

Barangkali, andai saja Bung Karno masih hidup di masa sekarang, beliau akan sangat potensial untuk mengkritik pedas, “mesum mbahnya mesum, mesum semesum-mesumnya,”. Hal ini memang boleh dibilang sebagai sikap sarkasme brutal. Namun bukankah termasuk suatu hal yang bijak jika mempertimbangkan sesuatu terlebih dahulu secara matang, sebelum tertelan oleh trend?

Jika meminjam kalimat WS Rendra, maka saya akan berkata: kepadamu, aku bertanya. Anda sendiri, yang musti menjawabnya.