Ibu Rumah Tangga
4 minggu lalu · 372 view · 10 min baca menit baca · Gaya Hidup 59690_35523.jpg
Dok. Pribadi

Eskapisme Negeri Jambi

/1/ Segenap Impian di Dalam Dada

Tiga tahun lalu, saya pernah menulis tentang aksara incung Kabupaten Kerinci, Jambi, untuk dijadikan proposal penelitian beasiswa ke Eropa. Proposal penelitian itu lolos sampai ke Jakarta, namun saya harus gagal di tahap wawancara. 

Bagi saya, kegagalan bukanlah hal yang buruk. Selalu ada sisi baik yang bisa dipelajari. Saya harus memperbaiki bahasa Inggris saya yang masih berantakan. Skor TOEFL 550 yang saya raih bukanlah jaminan. Itu hanya persyaratan terendah untuk menuju pintu dunia.

Saya sempat menghubungi budayawan Kerinci, maestro seni tradisi Kerinci yang juga ahli aksara incung Kerinci – Iskandar Zakaria – dengan maksud hendak mempelajarinya jika beasiswa saya lolos. Ia pun meng-OK-kan, namun nasib baik memang belum berpihak pada niat baik. 

Sampai saya mendengar berita kematiannya tahun lalu, saya masih merasa berutang atas itu. Tiba-tiba saya merasakan kehilangan atas sesuatu yang belum sempat saya miliki. Rasanya asing sekali. Saya mendengar suara denging dari telinga yang begitu sunyi. Sunyi sekali. Entahlah.

Dengan segenap keberanian, saya coba lagi mendaftar beasiswa dan belum lolos juga. Saya cuma bisa ketawa dan membatin. Sebanyak apa pun kegagalan menghampiri, saya akan lebih banyak bangkit dari keterpurukan. Saya harus kuat karena saya perempuan.

Baiklah, saya tetap tidak boleh takut mencoba hal-hal baru. Saya senang mencoba banyak hal. 

Dari sekian banyak yang saya coba itu, lebih banyak gagalnya dan sedikit yang berhasil. Meski yang sering saya tampilkan adalah sedikit yang berhasil itu, dibanding yang gagal. Kali ini saya coba menyorot dari sisi terbalik. Ya, begitulah hidup yang patut disyukuri.

Doa saya untuk lolos beasiswa memang belum dikabulkan. Akan tetapi, di tahun yang sama, naskah saya yang berjudul Hikayat Depati Parbo, Panglima Perang dari Sakti Alam Kerinci menang sayembara di tingkat nasional. Saya tertawa heran. 

Suami yang menonton televisi menatap saya dengan tatapan asing. Lalu orang lain di dalam tubuh saya membisikkan sesuatu di telinga, “Tuhan memberi apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan.”

Pada tahun 2018, saya tidak mendaftar beasiswa karena tahu bahwa saya sedang berbadan dua. Berkah lainnya, di tahun ini, saya mendapat lima kali undangan dari Kemendikbud karena beberapa kali menjadi pemenang sayembara buku. 

Undangan terakhir di Bogor tidak bisa saya datangi karena sedang hamil besar. Tentu saja dokter melarang saya terbang. Keberuntungan lainnya di tahun itu, saya lolos CPNS Kementerian Agama.


Sedari awal saya melihat penempatan CPNS di Kerinci, yang saya pikirkan pertama adalah anak saya yang masih bayi.  Tidak ada keluarga yang bisa diajak pindah untuk mengasuh bayi saya. 

Meski saya melihat beberapa teman-teman yang punya bayi pindah ke Kerinci dengan keluarganya, saya tidak boleh iri hati sebab setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Saya hanya percaya, saya dan Amurwabhumi (anak saya) akan mampu melewati hari-hari baik berdua dengan tabah.

Saya dan suami sudah terbiasa LDR. Kami bukan lagi pasangan muda-mudi yang baru saja dimabuk cinta. Kami juga tidak terlalu suka mengekspos kehidupan rumah tangga kami. Berbahagialah yang bisa membaca segelintir kisah hidup saya.

/2/ Pesona Diftong di Desa Hiang Sakti

Saya mendapat tugas mengajar di MTS N 5 Kerinci, yang terletak di Pendung Tengah Penawar, Kec. Sitinjau Laut, Kab. Kerinci, Jambi. Alhamdulillah, saya sekarang tinggal di Desa Hiang Sakti, letaknya di sebelah Desa Penawar. Hanya tujuh menit saja ke sekolah jika ditempuh dengan kendaraan roda dua.

Plang Desa Hiang Sakti (Dok. Pribadi)

Saya memang lebih senang tinggal di desa dibanding di kota – yang kebanyakan sudah urban. Alasannya sederhana, selain jauh dari hiruk pikuk dan lalu-lalang kendaraan, saya ingin mempelajari bahasa Kerinci. 

Ya, tentu saya harus belajar bahasa Kerinci. Saya tidak ingin kelak anak saya yang masih bayi akan lebih fasih bahasanya dibanding saya. Sebab pemerolehan bahasa bagi anak-anak biasanya lebih cepat dibanding orang dewasa.

Bagi saya, Kabupaten Kerinci ini sangat unik dan kaya akan bahasa daerah. Setiap desa memiliki bahasa yang berbeda-beda. Bayangkan saja, jika ada seratus desa di Kerinci, maka ada seratus pula bahasa daerah. 

Misalnya saja kata “sapi”, dalam bahasa Kerinci Desa Hiang Sakti Kerinci disebut dengan “jewui”. Namun ketika saya survei ke Desa Ambai (desa sebelah), mereka menyebutnya dengan “jawai”. 

Saya dalam hati hanya membatin, apakah bahasa Kerinci memiliki kekerabatan dengan bahasa Jawa? Sebab dalam bahasa Jawa, “sapi” disebut dengan “jawi”.

Saya sering ditertawakan masyarakat setempat – yang begitu ramah – bila mencoba mengucapkan beberapa kosakata dalam bahasa Kerinci. Kosakata baru yang saya dapat, langsung saya coba ucapkan berkali-kali sampai dialeknya pas. 

Elva, siswa SMA, yang tertawa mendengarkan saya berbicara, langsung berkata, “Hati-hati, Kak, nanti keseleo lidahnya.” Bagi saya, mengucapkan bahasa Kerinci dengan diftong yang unik lebih sulit daripada berbicara dalam bahasa Inggris. Saya masih berjuang untuk itu.

Beberapa kata dalam bahasa Kerinci yang diakhiri huruf “i” berubah menjadi diftong “oi”. Misalnya pagi menjadi “pagoi”, “Pergi” menjadi “pigoi”. Namun yang membuat saya bingung, mengapa kata “mati” dan “mandi” menjadi “matai” dan “mandai”? Mengapa “i” berubah menjadi diftong “ai’ bukan diftong “oi”? Hingga saat ini, saya belum tahu asal-muasalnya.

Kata “tidur” menjadi “tideuw”. “Kambing” menjadi “kambaek”, dst. Diftong-diftong ini membuat saya penasaran. Barangkali jika ada waktu luang, saya akan mencoba menelusurinya lebih dalam.

/3/ Sapi dan Surga

Mayoritas pekerjaan masyarakat Hiang Sakti adalah bersawah dan beternak sapi ‘jewui’, juga kambing ‘kambaek’. Beberapa rumah tua peninggalan nenek moyang, yang usianya ratusan tahun masih ada di desa ini, namun tidak banyak. Sebagian sudah direhab menjadi rumah batu. Sebagian lagi membiarkannya utuh dari kayu-kayu yang kuat.

Rumah-rumah tua ini memiliki jendela yang tidak biasa. Setiap jendela memiliki dua daun pintu: ada pintu dalam dan pintu luar. Pintu dalam berupa pintu kaca, sedangkan pintu luar berupa jendela kayu biasa yang separuhnya berbentuk garis-garis untuk rongga udara.

Daun pintu jendela dalam dan luar (Dok. Pribadi)

Jika hendak membuka jendela, terlebih dahulu yang dibuka adalah pintu dalam. Daun pintu dalam – berupa kaca – hanya bisa ditarik ke arah dalam. Pintu ini tidak bisa didorong ke luar karena telah didesain sedemikian rupa. 

Setelah pintu dalam terbuka, selanjutnya pintu luar bisa dengan mudah didorong perlahan hingga daun pintu ke arah luar ruangan.

Saat saya jenuh berada di rumah, saya mencoba berkeliling desa dengan roda dua. Aroma kotoran sapi tampaknya sudah akrab dengan hidung warga Hiang Sakti. 

Di jalan raya maupun jalan tikus, ada banyak kotoran sapi, yang masih menggumpal maupun tercecer ke mana-mana. Terkadang, ada juga kotoran kambing, namun tidak seberapa. Jika tidak hati-hati di jalan, akan mendapat hadiah ranjau. Dijamin aromanya akan awet.

Aroma kotoran sapi ini menjadi hilang seketika angin dari pucuk-pucuk bukit yang mengelilingi desa menerpa tubuhku. Udaranya segar sekali. Jauh dari polusi udara. Awan-gemawan masih setia di pucuk gunung-gunung. Samar-samar, aroma pantat sapi kembali hadir. Ah, nikmat sekali. Sungguh eksotis dan menawan tiada tara.


Sapi-sapi yang melintasi zaman (Dok. Pribadi)

Tiba-tiba saja sekawanan sapi beserta gembalanya mengepung jalan raya. Bagi saya, ini adalah pengalaman baru yang mendebarkan sekaligus menakutkan. 

Saat itu, saya tiba-tiba berteriak saking takutnya. Dalam bayangan saya, sapi-sapi itu hendak menyeruduk dan menginjak-injak tubuh saya. Bu Kos tiba-tiba tertawa dan mencoba menenangkan saya bahwa sapi-sapi itu tak sejahat yang saya pikirkan.

Atas saran Bu Kos, saya berhenti di tepi jalan. Sapi-sapi itu pun lewat di samping saya dengan jarak yang tidak sampai setengah meter. Saya merasa lega dan bahagia. 

Bu Kos menepuk-nepuk punggung sapi berwarna cokelat kayu. Saat motor saya melaju, ada aroma yang dahsyat. Begitu menyengat. Ternyata ada ranjau hadiah. Ia kiriman dari sang maha dengan segala nasibnya.

Perjalanan kami menjadi luar biasa. Hamparan sawah yang hijau dan luas, kicau burung-burung di langit, Gunung Kerinci dan bukit-bukit yang di pucuknya berdiri awan-gemawan, dan semilir angin yang sejuk, membuat saya betah tinggal di sini. Meski jika malam dan pagi tiba terasa begitu dingin, suhunya terkadang mencapai enam belas derajat (seperti memakai AC).

Jika siang, saya pernah mendapati suhu paling panas hanya tiga puluh derajat saja. Entah esok bila ada suhu yang lebih panas lagi. Sebab tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman selama empat hari tinggal di sini.

Suhu tiga puluh derajat di Kerinci tidak membuat saya berkeringat, hanya sedikit gerah saja. Uniknya, hawanya tetap dingin. Apalagi saat diterpa angin tepi sawah. Sungguh jauh berbeda dengan Kota Jambi. Biasanya dengan suhu segitu, saya sudah bermandikan keringat. Panas di Kota Jambi begitu menyengat hingga menembus kulit.

 /4/ Mandi Mudik di Sungai Batang Sangkir

Sore itu Bu Kos dan Elva (anaknya) megajak saya mandi ke sungai yang terletak di Desa Hiang Tinggi, desa sebelah Hiang Sakti. Saya belum mengiyakan, saya bilang ingin melihat kondisi dulu. Kami bertiga pun berjalan menuju desa sebelah. 

Ternyata banyak masyarakat desa yang mandi dan mencuci pakaian di parit yang sudah di semen. Sungai Batang Sangkir mengalir dengan arusnya yang deras di parit tersebut. Saya dan elva meninggalkan Bu Kos mandi bersama ibu-ibu lainnya.

Mandi di parit semen aliran Sungai Batang Sangkir (Dok. Pribadi)

Saya dan Elva berjalan kaki mengelilingi Desa Hiang Tinggi. Tak banyak perbedaan dengan Hiang Sakti, banyak sapi beserta gembalanya melintasi jalan saat sore hari. 

Dahulunya, Hiang sakti masih tergabung dengan Desa Hiang Tinggi. Karena penduduknya begitu banyak, maka Desa Hiang Tinggi dibagi menjadi tiga bagian pada tahun 2011, yakni Hiang Tinggi, Hiang Sakti, dan Hiang Karya.

Tiba-tiba terdengar suara-suara dari toa dengan bahasa Indonesia. Rupanya pemberitahuan bahwa salah seorang warga Desa Hiang Tinggi mengundang warga desa Hiang Sakti dan Hiang Karya untuk mengikuti acara pembacaan doa untuk keluarga yang meninggal dunia. 

Saya iseng bertanya, mengapa pengumumannya tidak menggunakan bahasa Kerinci, mengapa menggunakan bahasa Indonesia? Elva mengatakan bahwa bahasa daerah yang berbeda tiap desa menjadi alasan utamanya. Bahasa Indonesia tetaplah menjadi bahasa pemersatu warga desa.

Saya dan Elva lalu berjalan ke arah utara untuk melihat aliran Sungai Batang Sangkir. Dari atas jembatan, terdengar arus sungai yang begitu deras. Di langit, awan-gemawan masih setia berdiri di pucuk bukit-bukit. Saluran irigasi sawah masih setia dengan deras arus Sungai Batang Sangkir.

Sungai Batang Sangkir yang arusnya bergemuruh di dalam dada (Dok. Pribadi)

Namun saya menyayangkan, banyak terdapat sampah di tepi sungai. Pemandangan ini gagal saya abadikan degan kamera sebab saat hendak saya foto, ternyata di tepi sugai sedang ada lelaki tua yang sedang buang hajat. 

Saya sungguh terkejut, malu, sekaligus menyesal bertatapan maat dengan beliau. Saya dan Elva menjemput Ayuk Ida (panggilan Bu Kos), lalu kami pulang ke rumah berjalan kaki.

Di perjalanan, ayuk ida bercerita bahwa ada sungai yang lebih menarik untuk dijadikan tempat mandi. Sungai ini ternyata masih aliran Sugai Batang Sangkir, yang berada di Desa Betung Kuning, tepatnya di bawah jembatan. Dengan arusnya yang deras dan airnya yang jernih, sungai ini sekaligus menjadi irigasi alami persawahan di beberapa desa.

Untuk menuju ke sana, kami harus menggunakan sepeda motor. Ditempuh sekitar sepuluh hingga lima belas menit perjalanan. Ayuk Ida lalu mengajak sepupunya yang masih gadis untuk mandi mudik esok hari. Nita namanya. Ia adalah gadis desa yang berprofesi sebagai bidan (ASN) di puskesmas Kota Sungai Penuh.

Karena penasaran dan tak sabar menunggu esok hari, saya ajak Elva untuk survei lokasi. Meski di jalan bertemu dengan banyak ranjau dengan kiri kanan sawah dan beberapa pepohonan dan ilalang liar, perjalanan kami begitu menyeangkan. Suasana seperti ini sulit ditemukan di kampung saya. Usai survei lokasi, saya dan Elva pulang sembari menunggu esok hari dengan sabar.

Sore yang ditunggu-tunggu tiba juga. Saya membonceng ayuk ida dan Ansana (bocah tiga belas tahun) – anak bungsu Yuk Ida. Sementara Nita membonceng Elva dan Sesi (saudara sepupu Elva yang seumuran Ansana). 

Sesampai di Sungai Batang Sangkir Desa Betung Kuning, ternyata ada beberapa pendatang. Di mobilnya tampak banyak peralatan arung jeram. Namun mereka belum berani turun ke sungai. 


Elva tidak mau turun mandi karena banyak orang. Saat yang lain turun ke sungai, para pendatang dengan segenap rombongannya ikut turun. Karena ramai, saya nekat turun dengan hijab masih terpasang.

Elva lupa mengambil foto saat pendatang tiba (Dok. Pribadi)

Biasanya, yang mandi tidak banyak laki-laki. Makanya saya dan Elva berencana mandi dengan kain basahan saja, namun rencana kami berubah. Walhasil, mandi saya jadi tidak total dan agak sedikit kaku. 

Mandi ke Sungai Batang Sangkir adalah cara lain menuntaskan rindu pada Sungai Tabir di Merangin. Sungai yang pada masanya menjadi tempat MCK bagi warga Desa Lubuk Bumbun, tempat saya dan teman-teman posko 18 melaksanakan program KKN sepuluh tahun silam.

Lain kali kami akan mandi lagi ke sana lagi untuk melepaskan rindu mandi di sungai. Sebenarnya, setiap rumah sudah memiliki kamar mandi, yang airnya dialiri dari PAM desa. Air PAM ini berasal dari pegunungan. Oleh sebab itu, rasanya seperti air dari dalam kulkas. Meski sudah bisa mandi di rumah, mandi di sungai tetap menjadi kesenangan sendiri bagi masyarakat desa.

Sekian dulu kisah tentang pengalaman baruku. Mungkin akan ada banyak perjalanan lagi yang tak terduga. Ini baru secuil perjalananku. Masih banyak hal menarik dari Desa Hiang Sakti yang belum bisa kuceritakan. 

Ada yang bilang Kerinci adalah sekepal tanah surga. Bagi saya Kerinci bukan lagi sekepal, Kerinci adalah tanah surga yang utuh, yang memukau segala penjuru.

Artikel Terkait