Pernahkah kalian merasa kecewa pada suatu produk karena tertipu oleh kemasannya? Misalnya, kalian membeli suatu makanan karena tergiur tampilan dari kemasannya namun kemudian kecewa karena isinya tidak sebaik kemasannya.

Don’t judge a book by its cover. Kalimat bijak ini juga berlaku agar kita tidak segera tergiur dengan kemasan yang menarik.

Menariknya, kalimat bijak di atas kini tidak hanya relevan pada suatu barang namun juga berlaku pada suatu ide atau tulisan di berbagai media. Tentu kita tidak asing dengan istilah click bait yaitu tulisan yang menggunakan judul-judul menarik atau bahkan kontroversial untuk menarik perhatian orang agar mengklik artikel tersebut. Dan, sangat sering ternyata isi dari artikel tersebut tidak semenarik judulnya atau bahkan menyesatkan.

Bagaimana kita dapat dengan bijak menyikapinya? Mari kita belajar dari St. Agustinus.

Kata-Kata Indah Tidak Selalu Berarti Benar

St. Agustinus bagi orang Katolik adalah orang suci. Namun, bagi lebih banyak orang, beliau adalah seorang pemikir hebat pada zamannya. Salah satu tulisan yang sangat pribadi namun secara mengejutkan ternyata sangat mendalam adalah tulisan Confessiones atau Pengakuan-Pengakuan yang berisi autobiografinya.

Dalam buku 5 Confessiones, Agustinus tengah berada dalam kebimbangan iman antara pengajaran Manikeanisme dengan kekristenan. Agustinus memiliki pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia perdalam terkait pandangan ajaran Manikeanisme yang mengganjal di hatinya. Saat itu, para anggota Manikeanisme yang tak dapat menjawab pertanyaan Agustinus selalu mengarahkan Agustinus untuk bertemu dengan Faustus ketika ia datang.

Faustus adalah orang yang terkenal di Manikeanisme. Lewat kata-katanya yang indah, ia berhasil memikat banyak pengikut baru. Mereka merasa mendapat pencerahan dari ajaran-ajaran Faustus. Oleh karena itulah, para pengikut Manikeanisme menganggap Faustus sebagai sosok yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Agustinus.

Awalnya, ketika Agustinus berjumpa dengan Faustus, Agustinus sempat terpukau dan mengikuti kelas-kelas pengajaran Faustus. Akan tetapi, ia tidak diberi kesempatan untuk memberikan pertanyaan mengenai kegelisahan hatinya. Sampai suatu ketika ia mendapat kesempatan untuk berdiskusi secara pribadi dengan Faustus. Saat itulah ia paham bahwa apa yang Faustus ketahui sebenarnya sama saja dengan anggota Manikeanisme yang lain. Faustus hanya lebih mampu untuk mengatakannya secara indah.

Setelah perjumpaan dengan Faustus itulah Agustinus menyadari bahwa “kemasan yang bagus” atau kata-kata yang indah bukan berarti apa yang dikatakan adalah benar atau baik. Kita perlu tahu terlebih dahulu esensi atau pokok persoalan dari apa yang dikatakan. Apabila esensi yang dikatakan sebenarnya adalah buruk, tidak peduli seindah apapun bahasa yang digunakan, apa yang ia katakan tetaplah buruk.

Belajar Melihat esensi

Pengalaman Agustinus ini bisa kita tiru dalam hidup bermedia sosial sehari-hari agar kita tidak terlena begitu saja dengan kata-kata indah atau click bait. Rambu-rambu pertama adalah mewaspadai tulisan dengan kata-kata bombastis yang melebih-lebihkan. Bukan berarti kemudian artikel-artikel yang bagus tidak boleh memakai bahasa yang baik dan menarik hanya saja biasanya artikel yang berisi hoax atau berita palsu biasanya menggunakan bahasa yang dilebih-lebihkan.

Yang kedua adalah belajar melihat apa yang sebenarnya ditulis dalam sebuah tulisan. Cara paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah melihat 5W1H dari sebuah tulisan. Misalnya, apa yang sebenarnya terjadi, siapa saja yang terlibat, kapan dan di mana kejadian tersebut terjadi, bagaimana terjadinya peristiwa, mengapa sebuah peristiwa dapat terjadi, dan sebagainya. Apabila kita merasa ada kejanggalan atau ada unsur-unsur tadi yang tidak konsisten maka kita bisa curiga pada suatu tulisan.

Apabila kita ingin melakukan pemeriksaan secara lebih, kita bisa menelusuri lebih lanjut unsur-unsur tadi dan membandingkannya dengan media berita lain yang terpercaya. Misalnya apakah memang benar peristiwa tersebut terjadi di waktu dan tempat seperti yang dituliskan. 

Apabila suatu tulisan yang seharusnya merupakan berita besar namun hanya ditulis di satu media yang asing ditelinga atau hanya sekadar di akun-akun media sosial, maka kita bisa curiga bahwa tulisan tersebut adalah palsu.

Hal ini tidak hanya dapat digunakan untuk menyaring berita palsu di media sosial namun juga untuk merefleksikan trend yang sedang terjadi. 

Kita tidak boleh terjebak dalam jumlah likes, share, atau follower namun kita perlu lihat secara lebih mendalam esensi dari sebuah trend apakah itu baik atau buruk. Misalnya, dalam trend “Salam dari Binjai”. 

Banyak orang meniru tindakan dari video tersebut dengan tujuan agar ikut menjadi terkenal. Akan tetapi, bila kita mau melihat esensi dari video-video tersebut, kita bisa melihat bahwa apa yang dilakukan itu merugikan orang lain dan dengan demikian trend tersebut bukanlah trend yang baik.

Bekal ini juga penting kita miliki dalam menyambut Pemilu khususnya ketika melihat berbagai poster yang sepertinya akan banyak bermunculan juga di media sosial. Kita tidak boleh hanya terjebak pada keindahan poster atau kata-kata yang ditampilkan namun kita perlu melihat secara lebih mendalam esensi dari apa yang dikatakan atau dijanjikan. 

Kita perlu melihat secara lebih mendalam apa kira-kira dampak yang dihasilkan dari program yang mereka tawarkan agar kita paham apakah seorang calon sungguh-sungguh memihak kepada rakyat atau tidak.