Suatu sore saya mendapat kontak dari bos di Jakarta. Saya diminta meliput peresmian pabrik mobil ESEMKA di Boyolali. Peresmian dilakukan oleh Presiden Jokowi.

Beruntunglah saya, karena saya bisa menolak. Mengapa menolak? Saya membayangkan protokol yang ribet. Mulai mengurus id card liputan hingga cara berpakaian saya harus memenuhi ketentuan.

“Kayaknya saya nggak bisa, Gus,” saya menjawab.

Bos saya ini anak seorang kiai ternama di daerah Gunungkidul, Yogyakarta. Sebagai orang dusun, ia tentu sungkan memaksa saya yang usianya lebih tua. Sukses. Saya tak perlu repot ngurus protokoler yang jauh lebih rumit daripada menulis itu sendiri.

Kini, ketika pandemi covid-19 memorakporandakan tatanan dunia, saya diminta menulis tentang pabrik itu lagi. Mau tak mau saya kemudian riset tentang pabrik tersebut.

Saya mulai riset gaya sem(b)arangan. Tentu karena saya tinggal di Semarang. Riset saya mulai dari berita-berita peresmian.

Dalam peresmian tersebut, Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri kabinet kerja kerja. Ada Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Presiden juga sempat berjalan berkeliling melihat beberapa unit mobil pikap berwarna putih yang berjejer rapi. Tak hanya itu, ada juga aktivitas para pekerja pabrik.

Dalam sambutannya Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Esemka merupakan mobil merek Indonesia. "Ini (Esemka) adalah merek kita sendiri, yang sudah dirintis kurang lebih 10 tahun yang lalu oleh para teknisi, oleh anak-anak SMK, inisiator-inisiator yang dulu saya kenal ada di sini semua," kata Jokowi.

Kemudian saya juga berburu informasi dampak pandemi covid-19 terhadap industri otomotif. Nah ini yang mencengangkan dan akhirnya saya mendapat fakta bahwa memang pabrik mobil ESEMKA sudah tahan uji.

Baiklah, kita lihat penjelasan resmi dari Kementerian Perindustrian. Kementerian Perindustrian menyatakan tantangan industri otomotif Indonesia akibat pandemi wabah virus corona (Covid-19) bukan hanya sebatas penurunan permintaan kendaraan. Kemenperin menjelaskan produsen mulai kekurangan bahan baku dan komponen dari luar negeri untuk kebutuhan produksi kendaraan.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Pertahanan (IMATAP) Kemenperin Putu Juli Ardika menyampaikan produsen Tanah Air mengalami gangguan pasokan bahan baku sebab banyak negara-negara memberlakukan lockdown guna menanggulangi penularan Covid-19.

"Terganggunya industri otomotif ini berdampak pada perekonomian nasional. Industri otomotif memiliki kontribusi signifikan terhadap PDB khususnya terhadap PDB nonmigas sebesar 3,98 persen pada tahun 2019," kata Putu melalui keterangan tertulis.

Para produsen otomotif seperti Toyota, Daihatsu, Honda sudah memutuskan menghentikan sementara aktivitas pabrik sebagai salah satu cara menangani dampak. Keputusan sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) di Indonesia yang menangguhkan produksi sementara waktu.

Bagi Putu, keputusan pabrikan otomotif di Indonesia itu lebih dikarenakan untuk melindungi kesehatan karyawan dan seluruh elemen perusahaan sebagai bentuk respons terhadap penyebaran wabah Covid-19 yang semakin meluas.

Seperti diketahui, beberapa merek otomotif sudah menangguhkan aktivitas produksi, yakni Wuling Indonesia pada 6-19 April, Honda mobil 13-27 April, Yamaha 3-19 April, hingga Suzuki motor dan mobil 10-26 April, Daihatsu 10-17 April, dan Toyota 13-17 April.

Nah, ternyata Esemka tak ada dalam daftar itu. Luar biasa. Tak ada PHK, tak ada penghentian produksi.

Padahal pabrik Esemka yang dikelola oleh PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) yang juga berperan sebagai pemegang merek, fasilitas ini luasnya 12.500 ribu meter persegi dan dibangun di atas lahan 115 ribu meter persegi. Saat diresmikan, di pabrik ini terdapat proses produksi seperti perakitan kendaraan, pengecatan, sampai pengetesan.

Nilai investasi yang digelontorkan untuk pabrik ini disebut sebesar Rp600 miliar. Kapasitas produksi pabrik dikatakan mencapai 18 ribu unit per tahun, itu berarti 1.500 unit per bulan atau sekitar 50 unit per hari.

Eddy Wirajaya, Presiden Direktur SMK, menyampaikan, pabrik Esemka termasuk upaya peningkatan Sumber Daya Manusia di Indonesia sebab pihak Esemka disebut menyeleksi rutin siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang akan membantu proses produksi mobil Esemka.

"Saya bersama seluruh karyawan Solo Manufaktur Kreasi merasa sangat berbahagia dan berterima kasih atas semua dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak sehingga pada akhirnya kami berhasil membangun pabrik dan seluruh fasilitas Esemka," kata Eddy.

Keren ya?

Teknologi Canggih

Menyimak penjelasan Kemenperin saat peresmian itu, saya meyakini bahwa ada yang disembunyikan dari proyek ini. Tentu dalam konotasi yang baik dan menyangkut kepentingan nasional.

Jika produksi mampu 1.500 unit per bulan dan harga di bawah Rp100 juta, tentu jalanan sudah penuh dengan mobil ini. Tapi jika tidak menemukan atau menjumpai, jangan berburuk sangka. Ini disebabkan karena mobil Esemka dilengkapi fitur canggih.

Saya ingat sebuah film James Bond di mana sebuah pesawat siluman yang tak terlihat sukses dicuri. Mungkin ada di judul film Tomorrow Never Dies, jujur saya lupa dan malas riset tentang film ini.

Yang jelas tidak terlihatnya mobil Esemka di jalanan karena menggunakan fitur hide mode. Dengan memencet sebuah tombol saja, mobil itu tak terlihat. Ini tujuannya sangat baik, agar tak terjadi kepadatan lalu lintas.

Lalu apa sih inti tulisan ini?

Ya nggak perlu berpikir aneh-aneh. Saya hanya ingin ikut bangga karena sejak pabrik mobil Esemka diresmikan dan hingga sekarang, tak ada iklan apa pun tetapi mampu berproduksi hingga 1.500 unit per bulan.

Kedua, kebanggaan saya, ternyata Esemka mampu bertahan dan tak ada kabar PHK atau penghentian produksi karena Covid-19. Bandingkan dengan merek-merek top macam Toyota, Daihatsu, Honda, dll.

Ketiga, dengan tidak terlihatnya di jalanan berarti membuktikan canggihnya teknologi di mana ada fitur hide mode atau ghost mode.

Lepas dari semuanya, ini juga analisis dan hasil riset sembarangan lho. Saya tak hendak menyoal ketidakhadiran Sukiyat selaku penggagas awal mobil Esemka dan menyebut bahwa mobilnya hanya merakit dan tidak memproduksi sendiri.

Sukiyat tak hadir dalam peresmian karena memang tak diundang. Itu bukan wilayah imajinasi saya.