Es teh & sepiring nasi menemani sore sendu agak kelabu, biru
Suara kereta melaju, seperti hendak pergi untuk sekian lama
Di dalam ruang dan waktu pasti ada ribuan kata-kata
di dalam dadanya, orang-orang itu, orang rantau kelana
Lagu Stasiun Balapan pun tak mampu, melegakan perasaannya
Hari-hari di dalam kereta, tak ada yang mengantarnya
Tak ada yang menjemputnya
Aku pun justru seperti hendak mengantar
Kepergian seorang Legenda


BERNYANYI DI BAWAH HUJAN

Aku suka suara katak menyanyi
Empang dan kubangan juga rawa-rawa
Di tepi-tepi rerumputan menggenang
Menjelmalah hujan itu menjadi riak
Katak-katak kecil beranjak dewasa
Dinyanyikannya nada-nada
Akukah daun talas melihat di kejauhan
Kita menunggu hujan itu reda


BIRU

Daun di kubangan, bernyanyi di hari Rabu
Kelabu juga beriring kabut tipis
Ada yang menari di dalam jam dinding
Seperti putaran jarum yang baterainya ingin diganti
Tapi juga seperti ramalan cuaca
Tapi juga seperti puisi dan cicit burung
Tapi juga seperti hembusan angin
Tapi juga seperti masa depan di bawah tumpukan lipatan kain
Jam dinding yang begitu biru, menjelma putih, seputih tulang dan gading gajah
Akan tetapi kita tak menunggangi siapa-siapa pun juga kenangan yang berlalu pergi begitu saja


BERKABUT

Jalanan berkabut, langit pun jua gunung
Ia tak hendak turun tapi pun tak ingin pergi
Beranjak dari ketinggian rasanya seperti mustahil
Pucuk-pucuk menara di kejauhan seperti memanggil
Lara luka dari larantuka
Segunung pertanyaan dan nganga
Kegetiran pernah disumpalkan
Ke dalam daging, ke dalam dada
Suatu kali penuh sesak ingin ia hilang begitu saja
Apakah ia meledak? Ataukah hanya rasanya pernah seperti itu


SENDOK GARPU

Aku tak menulis
sendok dan garpu
Menari-nari di atas piring,
berwarna seperti kelambu
Mencapaikah aku pada hakikat
Ataukah kerumitan-kerumitan,
penuh omong kosong
Lagi-lagi omong kosong


KENANGAN

Hari-hari itu sungguh indah
Seperti matahari tepat waktu
Berangkat pagi pulang sore
Memerah saga menjadi senja
Burung-burung layang-layang
Hembusan angin dari arah gunung
Kulit kayu yang mengelupas dari pohon
Jalanan basah dan segelas es kopi
Di perapian dengan kawan-kawan
Seperti mendaki, seperti tiba
Cintanya suatu ketika


NYIUR

Ada nyiur di dalam dadanya, kadang-kadang
Seperti atmosfir yang merona menjadi merah muda
Seperti senja dan jalanan kota juga lampu-lampu
Didahului sederet pementasan arak-arakan awan putih dan ombak bergulung
Jari-jemariku menapak liris dan bumi begitu sederhana, tak begitu tiba-tiba
Perlahan tapi pasti menuju dadanya
Seperti liris daun-daun nyiur yang kupandangi tulang-tulang daunnya
Ada setapak dengan batu-batu tak terjal dan percakapan-percakapan sepasang muda
Air suci itu mengalir dari tempat yang agak tinggi
Ada turunan dimana keduanya memasang mata dan jalinan seperti tali temali dengan waktu dan perasaan
Kami begitu sederhana, seperti batu di dalam gua yang menua
Seperti sepoi bergerak perlahan nan abadi di jagad raya
Seperti hari-hari baru yang menjemput di setiap pagi
Seperti bertaut bergeming


SUATU HARI

Suatu hari suatu ketika
Mendung turun berjelaga
Cerukan air dan genangan
Lautan dan perahu laju
Seseorang memancing
Melempar kail, menjala ikan
Lalu digoreng tangkapannya
ke dalam panci wajan
Suatu hari pernah begitu tenang
Kepala kakap dan sayur lodeh
Mengisi tepian piring
Hidup sesederhana itu
Penafsir ulung merumitkannya


RAPAL

Di kaki gunung penuh dedemit itu
Di puncaknya terus membiru
Seperti menara suar terlampau tinggi
Aku tentu tak mengingat siapa-siapa
Bahkan terkadang tak mengingat diri sendiri
Aku terkadang memahami,
terkadang tak memahami
Tapi kubiarkan begitu saja
Begitu saja


PETANG

Jika petang tiba membawa mantra-mantra
Do'a-do'a hilang dimakan Betara Kala
Masa depan semakin tak dapat dipastikan
Kegamangan berbalik menjadi bumerang
Suatu ketika di mata anak-anaknya yang bayi, jerit tangis tak kunjung reda
Adalah segala yang ia cari, yang ia tunggu, dan yang ia yakini
Ia adalah jelaga luka, terpental, memejal
1001 cara tak akan ada jalan lain
Bagaimana menjalani? Merasakan menjalani
Engkau pasti mengerti,
Ngerti
Ngerti

....


RIWAYAT

Berapa kali kursi-kursi
Diduduki mulut besar
Bual dan caci maki
Berapa kali undangan
Berapa kali temaram
Berapa kali petang
Berapa kali ...
Nyawa


SAJAK BULAN DESEMBER

Kayu bogor dibakar di tepi sawah
Diatas rumput liar, di atas daun berserak
Hujan membasahinya dan membasuhnya
Nanti jika suatu hari sekolah kita tak berguna lagi
Lalu kita bertanya pergi kemana?
Kita pergi ke luar angkasa
Di sana banyak nama-nama
Banyak bintang berpijar
Seperti Mars yang lebih merah


PIRING HITAM

Piring hitam berputar sendiri
Lagu keren sangat kece
Mengisi ruang dan kamar-kamar
Melodi seperti hendak beradu
Dengan suara gaduh menyanyi
Berdansa kita kadang-kadang
Sembari menatap malam berganti