…Oksirana, berwujud gas tak kasatmata dan beraroma harum.

Mengandung Etilen Oksida

Cukup menggemparkan bagi penggemar es krim. Jelang akhir Juli 2022 ini ada kabar bahwa es krim dengan merk yang tercantum dalam situs www.icecream.com, sebanyak 11 varian produknya telah ditarik dari peredaran.

Sebuah keputusan yang disambil oleh Badan Pusat Obat dan Makanan (BPOM), sebuah lembaga pemerintah Republik Indonesia yang memiliki ranah tugas mengawasi peredaran obat dan makanan di wilayah Indonesia.

Keputusan BPOM ditetapkan, setelah pusat pemilik pabrikan es krim tersebut setelah otoritas Perancis menyatakan bahwa produk es krim yang reputasi internasional tersebut mengandung Etilen Oksida (Ethylene Oxide) melebihi nilai ambang batas (NAB), sesuai aturan terkait produk makanan dan minuman di kawasan Uni Eropa.

Etilen Oksida, yang memiliki nama International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) Oxirane  atau Oksirana, berwujud gas tak kasatmata dan beraroma harum.

Namun, senyawa kimia organik ini sangatlah berbahaya, apabila ditinjau dari Piktogram yang tercantum dalam Sistem Harmonisasi Global atau yang dikenal sebagai GHS (Globally Harmonized System). Sebuah sistem klasifikasi dan label pada bahan kimia, atas pengaruh sifat-sifat baik kimia, maupun fisika, biologi, hingga radioaktif terhadap makhluk hidup dan lingkungan

Piktogram Etilen Oksida atau Oksirana yang menunjukkan bahwa senyawa kimia ini bersifat mudah terbakar, korosif, menimbulkan keracunan akut, menimbulkan iritasi dan berbahaya bagi kesehatan. Foto sumber; ethylene oxide - pubchem.ncbi.nlm.nih.gov.

Struktur Kimia Oksirana yang memiliki rumus kimia C2H4O termasuk gugus Epoksida mengandung satu atom Oksigen yang membuat senyawa ini digunakan dalam reaksi polimerisasi, antara lain menjadi Asetaldehida.

Berita daring tentang penarikan ke-11 varian produk es krim dengan salah satu merek dalam situs www.icecream.com



…telah kecolongan masuk menjadi bahan olahan.

Memastikan Sistem Mata Rantai Penjagaan Berjalan

Menjadi pertanyaan yang menarik, bahwasanya sekelas produsen es krim mewah dengan bahan baku impor tersebut bisa alpa dalam memastikan pasokan bahan sebagai ramuan produk yang seharusnya berkategori bahan pangan alami, menjadi bahan kimia beracun dan berbahaya, itu adalah hal yang krusial.

Masih menjadi penyelidikan bagi otoritas yang berwenang di Eropa bagaimana masalah tersebut bisa terjadi.

Banyak kemungkinan sebagai penyebab kandungan Oksirana dalam es krim berharga relatif mahal tersebut, hingga melebihi NAB, yang berarti bisa membahayakan kesehatan orang yang mengkonsumsinya, khususnya ke-11 varian es krim dimaksud.

Bisa jadi bermasalah dalam sistem pemastian mata rantai penjagaan atau Chain of Custody (CoC), dalam hal ini adalah CoC untuk produksi makanan ataupun minuman. atas kualitas bahan yang digunakan untuk mengolah produk.

Sistem CoC benar-benar kudu diterapkan dengan ketat agar tak ada satu pun bahan utama ataupun bahan aditif, yang tak sesuai dengan standar kualitas produk yang ditetapkan, telah kecolongan masuk menjadi bahan olahan.

Mirip kasus biskuit beracun belasan tahun lalu, di Indonesia, yang pada proses produksi telah keliru memasukkan garam Sianida ke dalam resep olahan, karena disangka gula atau garam biasa. Karena, bentuk garam beracun tersebut mirip dengan kedua bahan aditif alami dimaksud.

Oleh karenanya, pemahaman atas Lembar Keselamatan Bahan atau yang dikenal dengan Material Safety Datasheet (MSDS) atas suatu bahan kimia yang masuk dalam sistem mata rantai penjagaan, harus dimiliki oleh petugas yang memastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan pada setiap lini dalam mata rantai proses produksi, adalah berkualitas memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Tak boleh ada satu pun bahan kimia tak standar, yang nyelonong masuk dari lini penjagaan, baik sengaja pun tak sengaja.  



Bukan dari Asetaldehida yang diekstrak maupun isolasi secara alami…

Aditif Bukan Bahan Alami (?)

Kemungkinan berikutnya adalah, bahwa Oksirana memang diperlukan sebagai bahan polimerisasi menjadi Asetaldehida (Acetaldehyde), yang ditambahkan dalam produksi es krim merk tersebut. Karena, Asetaldehida adalah senyawa kimia yang memiliki aroma buah-buahan.

Dengan demikian, kemungkinan tersebut adalah Oksirana yang berbahaya dan beracun itu digunakan sebagai bahan baku proses polimerisasi menjadi Asetaldehida, sebagai bahan aditif penghasil aroma buah-buahan dalam es krim merk dimaksud.

Struktur Asetaldehida atau bernama IUPAC; Ethanal, CH3CHO, suatu senyawa golongan Aldehida yang memiliki satu Oksigen terikat rangkap, yang membuat senyawa ini reaktif, bisa menghasilkan senyawaan beraroma harum yakni senyawa golongan Ester. Asetaldehida, sebenarnya juga terkandung secara alami dalam buah-buahan matang dan kopi.

Apabila ternyata kemungkinan kedua yang terjadi, maka menjadi hal yang lebih krusial, dalam pengertian gawat, karena ternyata es krim yang bisa menunjukkan tingkat gaya hidup dan status sosial penikmatnya ini, mengandung Asetaldehida sebagai bahan aditif, yang terbuat dari metode polimerisasi dari bahan kimia yang berbahaya dan beracun. Bukan Asetaldehida yang diekstrak maupun isolasi secara alami dari buah-buahan asli.

Sebagai konsekuensi, hingga akhir Juli 2022, apabila ada pelanggan es krim merek tersebut yang sudah terlanjur membeli sebagai stok, yang termasuk dalam ke-11 jenis yang ditarik, maka produk tersebut bisa segera dikembalikan ke gerai penjualannya yang terdekat. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.



…maka kepalan es pun terkadang terombang-ambing…

Habis Ancaman Terbit Peluang

Sekelas es krim yang memiliki brand mendunia bisa alpa, lalu beberapa produknya mengandung senyawaan kimia yang membahayakan kesehatan, lantas bagaimana dengan es krim buatan lokal?

Apakah dengan kasus mendunia dilingkup produk es krim ini, lantas muncul peluang produksi es krim lokal dengan meminjam istilah ‘tarik’ yang sedang mengemuka, menjadi ‘Es Krim Tarik’?

Bisa saja, karena dulu juga ada namanya Es Gandul. Berupa serutan es batu yang dikepal dalam mangkok kecil, yang di dalam kepalan serutan es tersebut disemat seuntai merang, batang padi. Terus kepalan es serutnya dilelehin  sirup rasa mawar, Rosen.

Lalu, anak-anak usia sekolah dasar pun menikmati es gandul dengan cara memegang ujung tali merang, kemudian kepalan es berlumuran sirup Rosennya, diemut-emut dengan kepala sambil mendongak. 

Karena tertambat pada seuntai merang, maka kepalan es pun terkadang terombang-ambing, gondal-gandul.

Bagaimana nanti dengan Es Krim Tarik? Bisa saja dengan cara mencelup wadah es krim, cup, ke dalam adonan es krim, diputar sejenak, lalu segera ditarik. Perlu skill tersendiri memang. 

Apapun lah, selama bahan-bahan es krim tersebut adalah alami dan tak membahayakan. Juga, paling penting harganya ramah bagi penghuni dompet.



…reaksi panas dengan produk plastik yang menghasilkan senyawa berbahaya, Dioksin.

Sosialisasi Wadah Food Grade

Kasus es krim yang mengandung Etilen Oksida ini, juga bisa memperluas penyadaran kita tentang bahan aditif beracun dan berbahaya, yang tak sengaja terpapar dalam makanan.

Hal ini masih menjadi perilaku konsumsi yang terabaikan. karena notabene 'perut' orang Indonesia itu relatif kuat menerima paparan bahan kimia beracun dan berbahaya yang terdapat dalam wadah makanan yang sangat jauh dari kriteria Food Grade.

Seperti, kertas bekas buat bungkus gorengan. Atau, mie goreng, nasi goreng dalam wadah Styrofoam. Juga masakan berkuah dalam kantong plastik dan lain sebagainya banyak contoh tentang bagaimana masyarakat digugah kesadarannya akan bahaya senyawaan kimia hasil reaksi panas dengan produk plastik yang menghasilkan senyawa berbahaya, Dioksin.

Struktur Dioksin sebagai senyawa kimia berbahaya bagi kesehatan manusia, hasil pembakaran plastik. Wadah makanan yang tak berkriteria Food Grade, berpeluang mengandung Dioksin karena reaksi panas yang menyentuh permukaan plastik.

Tak hanya tergugah kesadaran masyarakat, namun juga perlu ditunjang oleh berlakunya suatu ketetapan standar nasional, tentang produksi dan penggunaan wadah makanan berkualitas Food Grade.