"Tujuan menghalalkan segala cara"

Pernahkah kalian mendengar kalimat tersebut?

Ya, tentu saja kalimat terkenal tersebut berasal dari seorang tokoh italia Niccolo Machiavelli namanya.

Machiavelli hidup pada zaman renainsance (15 M), dimana kehidupannya pada saat itu banyak sekali terjadi peperangan, kejahatan dan segala tipu muslihat yang dipakai guna mencapai kekuasaan.

Dalam konteks politik hal yang demikian dinamakan Politik Devide Et Impera (pecah belah dan kuasai) yang sering kali dipakai baik untuk mempertahankan kekuasaan maupun merebut kekuasaan.

Jika ditinjau secara historis, sebenarnya politik Devide Et Impera yang berimplikasi terhadap penghalalan segala cara dalam mencapai tujuan, pertama kali di sampaikan oleh seneca ketika berbicara tentang kejatuhan Imperium Romawi.

Digambarkan oleh Seneca bahwa  Kejatuhan Imperium Romawi dikarenakan penggunaan politik Devide Et Impera, dimana segala tipu muslihat dipakai untuk bagaimana mencapai tujuan negara, sehingga ketika kerajaan-kerajaan kecil mengetahuinya, maka dilakukanlah pemberontakan yang berakibat pada kejatuhan Imperium Romawi.

Il Principe

Machiavelli ketika melihat keadaan yang sama terjadi di Italia pada saat itu, dimana kejahatan dan peperangan terjadi dimana-mana, dan segala tipu muslihat yang dipakai, maka ia pun menulis sebuah buku yang kemudian menjadi maha karyanya dengan judul Il Principe (sang penguasa).

Il Principe ditulis oleh machiavelli ketika ia tersingkir dari arena politik florence, italia (1512), lalu memilih untuk menyendiri dan menulis buku tersebut. Setahun kemudian (1513) barulah maha karyanya selesai ditulis dan beredar dengan  judul De Principatibus, namun baru diterbitkan pada 1532 (lima tahun setelah kematiannya).

Tujuan Machiavelli dalam menulis Il Principe adalah untuk dapat mempertahankan kekuasaan dari pada Keluarga Medici yang pada saat itu berkuasa, bahkan dalam bukunya tersebut ia menyarankan agar seorang penguasa tidak boleh berlaku baik, karena hidup mereka dikelilingi oleh orang-orang jahat maka sang penguasa juga harus berlaku jahat.

Machiavelli sangat menganjurkan agar penguasa tidak boleh dibenci, sehingga ia menawarkan dua hal kepada penguasa yaitu : ditakuti dan dicintai, tetapi jika ke-duanya tidak bisa terpenuhi maka lebih baik ditakuti dari pada dicintai.

"Manusia akan membela orang yang mereka takuti dibanding yang mereka cintai, rasa takut tak akan pernah gagal" demikianlah katanya.

Selain itu terdapat satu kisah yang dijelaskan dalam buku tersebut yang dinilai sangat kontroversial, dimana terjadi penggulingan kekuasaan oleh seorang yang bernama Agathocles.

Diceritakan bahwa Agathocles berasal dari keluarga rendah, hina, dan menjalani kehidupannya dengan cara licik guna mencapai tujuannya, tidak hanya sampai pada penggulingan, disampaikan juga bahwa ketika dia telah menduduki posisi pangeran dia pun membunuh sahabat seperjuangannya, teman-temannya dikhianati, dan tidak memiliki iman.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan kontroversial dan banyak kritikan dari berbagai kalangan, karena dianggap sebagai buku yang menyediakan metode-metode cerdik yang dapat digunakan untuk merebut kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan seorang penguasa.

Bahkan disamapaikan oleh Michael H. Hart sebagai "Buku Pedoman Para Diktator". 

Walaupun begitu penulis sendiri melihat bahwa sebenarnya buku tersebut ditulis guna menggambarkan realitas yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga sang penguasa dapat belajar darinya dan dapat mengantisipasi agar kekuasaanya tidak direbut.

Selain dari pada itu tujuan lain Machiavelli menulis Il Principe adalah untuk dapat membentuk suatu central state (negara sentral), karena Italia pada saat itu sudah terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil dan saling berebut kekuasaan, sehingga dibutuhkan suatu negara sentral yang dapat menaungi semua kerajaan-kerajaan kecil tersebut.

Terlepas dari pada pandangan penulis Politik Machiavellian telah mengakar dalam pemikiran politikus modern, dengan menganggap bahwa segala cara dapat dihalalkan untuk mencapai tujuan, sehingga ketika seseorang yang dalam tujuannya mengahalalkan segala cara maka istilah Machiavelis pantas dilekatkan kepadanya.

Ertugrul

Ertugrul (12-13 M) merupakan anak dari Sulaiman Shah dan Hayme Hatun, serta merupakan ayah dari pendiri kekhalifaan Utsmaniyah (Osman). Ia merupakan peletak fandasi pertama dalam proses pendirian kekhalifaan Utsmaniyah.

Dalam kehidupan Ertugrul ada tiga hal yang sangat ia pegang teguh, yaitu  : Agama, Tradisi, dan Negara. Ketiga hal inilah yang sangat dijunjung tinggi olehnya dalam setiap tindakannya, dan dikatakan olehnya bahwa "tidak boleh ada penyimpangan terhadap ke-tiga hal tersebut".

Terhadap agama ia tunduk terhadap ajaran Islam, terhadap tradisi ia tunduk kepada tradisi suku kayi, dan terhadap negara ia tunduk kepada perintah negara (kerajaan seljuk).

Ketaatannya kepada ke-tiga hal diatas membuat ia menjadi seorang yang keras dalam pendiriannya, cerdas dalam mengambil keputusan, dan kuat ketika berada dalam medan perang.

Namun sebagaimana manusia ada yang baik dan ada yang buruk, demikian juga orang-orang yang ada disekitar Ertugrul. Ketidaktaatan terhadap salah satu dari ke-tiga hal diatas berimplikasi terhadap perilaku mereka, sehingga dapat memunculkan potensi penghianatan.

Dalam lingkup suku kayi terdapat beberapa penghianat yang mencoba untuk merebut kekuasaan sehingga memilih berkomplot dengan musuh, menghalalkan segala cara, melakukan segala tipu muslihat, bahkan pembunuhan guna mencapai kekuasaan.

Sehingga dalam konteks ini peletakan istilah  Machiavellis adalah pantas buat mereka.

Para Machiavellis ini akan selalu berusaha untuk mendapatkan kekuasaan, bagaimanapun caranya. Hal inilah yang membuat dalam kehidupan Ertugrul terdapat banyak sekali penghianatan yang dilakukan oleh para penghianat.

Sebut saja Kurdoglu, Gumustekin, Ural, Bahadir, bahkan sang Emir (Saddetin Kopek). Mereka adalah sebagian dari pada para penghianat yang karena hasrat berkuasa maka segala cara pun akan mereka tempuh.

Sebagaimana disampaikan Ertugrul "ambisi kekuasaan membuat dia mengahalalkan segala cara".

Namun walaupun terdapat banyak penghianatan, tipu muslihat, pembunuhan, dan sebagainya, tidak satupun dari mereka yang berhasil dalam penggulingan kekuasaan.

Menurut hemat penulis jika dilihat kenapa sampai Ertugrul masih tetap teguh dalam mempertahankan ke-tiga hal tersebut? Maka jawabanya adalah IMAN.

Alasan pertamanya adalah agamanya islam, ke-dua karena tradisinya juga islam, dan sistem negaranya juga islam. Maka dalam konteks jika dilihat ke-tiga hal tersebut memiliki hubungan erat dengan islam. 

Dalam esensi ajaran islam kita belajar bahwa esensi ajaran islam terdapat di kalimat Tauhid, dan untuk mempertahankannya kita harus memiliki iman yang kuat.

Kepribadiannya yang kuat, tidak gampang terpengaruh, konsistensi terhadap Tauhid, serta tepat dalam mengambil suatu keputusan menggambarkan bagaimana kuatnya iman seorang Ertugrul.

Maka dari itu tidak heran kalau Ertugrul bisa mengagalkan segala bentuk tipu muslihat, kejahatan,  dan pembunuhan Yang notabenenya adalah tindakan para Machiavellis guna memenuhi hasrat berkuasa.

Dengan demikian, berdasar pada uraian diatas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa politik Machiavellian yang dilakukan oleh para Machiavellis tidak akan dapat terwujud selama masih ada orang-orang yang kuat imannya.