Teroris adalah mereka yang frustrasi! Jelas, wong hanya dengan kekacauan mereka mampu mewujudkan kepentingan sempitnya. Di Kota Marawi, Filipina, jalan perang merupakan satu-satunya cara kelompok (yang terafiliasi) ISIS untuk menegaskan eksistensi politik territorial. Cara-cara kekerasan dihalalkan oleh radikalis karena gagasan mereka telah dimentahkan oleh masyarakat dimana mereka ingin mewujudkan ideologinya. Hambatan itu berupa kondisi sosio-kultural maupun struktural.

Serangan teroris yang menyasar representasi negara-negara barat, seperti bom Bali yang menyasar klub malam di Kuta pada tahun 2002; bom di hotel JW Marriott tahun 2003; atau bom mobil pada tahun 2004 di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, merupakan konstruk simbolik akan ekspresi terbunuhnya - hal yang mereka anggap- kezaliman, kemaksiatan dan simbol hegemoni “barat”. 

Lewat justifikasi macam itu kekerasan menjadi wajar bahkan perlu. Ekspresi kekerasan yang menyasar representasi barat dan budayanya, dapat dimaknai sebagai sikap yang muncul karena ada hambatan kultural bagi berkembangnya ide dan pelaksanaan tujuan mereka; kondisi bahwa ada “penerimaan” atas representasi barat di Indonesia. 

Bagi mereka jelas, hegemoni barat atas politik dunia merupakan biang keladi penderitaan dan sub-ordinasi yang dialami umat Islam. Perlu untuk diketahui, klaim itu tidak berdasar pada kajian ilmiah berbasis bukti (evidence), justru propaganda yang dipakai sebagai pembenaran aksi mereka yang malah sifatnya dogmatis. Hipokrit! Itu malah yang terlihat dari perjuangan mereka. Contoh kecilnya, media Kompas (Juli, 2017) mencatat setidaknya ada 17 aksi teror yang dikomunikasikan lewat aplikasi Telegram. Terlepas dari atribut manfaat yang ada di aplikasi Telegram, media itu tetap produk intelektual “Barat”. 

Tak kalah gila, media internasional juga menyatakan bahwa ada perbudakan wanita yang dimaksudkan sebagai “fasilitas seksual” militan ISIS. Sungguh biadab. Padahal jelas, islam sangat menjunjung tinggi derajat wanita. 

Kemudian, pergeseran sasaran ekspresi kekerasan pada polisi dan aparat keamanan - diluar motif balas dendam - menandakan adanya hambatan struktural bagi ideologi mereka. Dapat dimaknai demikian karena, aparat negara merupakan perpanjangan tangan legitimasi politik, yang secara hukum sah memonopoli kekerasan untuk kepentingan keamanan dan ketertiban publik (sosial). Kita juga tahu bahwa dalam UUD 1945 (Konstitusi) kita dijamin bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan harga mati yang tidak bisa diganggu gugat. 

Cara-cara melukai aparatur keamanan negara merupakan upaya untuk menunjukkan perlawanan terhadap sistem politik sekaligus pemerintahan yang sah. Artinya, jalur konstitusional telah mustahil ditempuh bagi usaha perwujudan ide mereka. Ajaran yang membenarkan kekerasan atau terorisme, baik dalam agama atau budaya merupakan tindakan politis. 

Kekerasan dapat berarti baik atau buruk secara etik tergantung motif dan konsekuensi yang terjadi dari tindak kekerasan itu. Namun demikian, saat ini dalam perkembangan dunia yang mengalami demokratisasi secara masif, kekerasan dalam dirinya sendiri memuat nilai negatif atau buruk dan tidak dapat dibenarkan secara universal. Mengapa? Karena kekerasan dalam motif apapun dan dalam konsekuensi apapun, bukan merupakan jalan pemanusiaan manusia. Kekerasan secara empiris hanya melahirkan rantai kebencian yang sulit dihentikan. Pada gilirannya akan menciptakan jalan panjang kekerasan lainnya.

Teroris adalah manusia dengan “gagasan kolektif” yang sepakat bahwa hanya dengan ekspresi kekerasan tujuan mereka dapat tercapai. Aksi kekerasan dalam derajat apapun bahkan yang mengancam korban jiwa merupakan buah kesadaran akan bentuk perjuangan yang dianggap efektif. Soal ranah ideologis negara Indonesia telah menjadi arena tarik-menarik antara kaum nasionalis, kaum agama bahkan komunis sekalipun sejak lama. Pancasila sebagai produk konsensus bukan produk satu malam.

 Ada alasan besar mengapa negara islam bukan solusi bagi kebaikan kolektif bangsa kita. Proses lahirnya republik ini juga bukan suatu jokes. Prosesnya dibidani langsung oleh tokoh-tokoh kebangsaan yang juga berjalan dengan cukup alot. Maksudnya adalah, konsep itu telah matang dipikirkan. Sah bagi siapa saja menilai bahwa gagasan tadi bukan yang terbaik. Namun, dengan sikap legawa, kita dapat menangkap semangat yang ada didalam gagasan itu. Semangat kebangsaan yang berorientasi pada kesatuan, kebhinekaan. Buah dari kesadaran yang mengamini bahwa Indonesia sebagai sistem sosial secara empiris memang majemuk dan multikultural. 

Kita harus maklum. Negara tidak hidup dalam ruang hampa yang steril dari variabel-variabel sosial. Indonesia adalah fenomena. Indonesia adalah keragaman. Indonesia adalah keajaiban dunia. Indonesia akan berhenti menjadi Indonesia apabila keragaman tercerabut darinya. Mari, jauhi kekerasan!