Buku yang diangkat dari skripsi ini, berawal dari kegelisahan penulisnya tentang kondisi masyarakat modern. Dengan menggunakan pemikiran Erich Fromm, tokoh psikoanalisis humanis serta anggota dari mazhab Frankfrut, penulis ingin membedah kondisi psikologis mayarakat modern.

Ternyata dalam kondisi saat ini masyarakat sudah mengalami keterasingan. Apa itu keterasingan atau alienasi? Dalam buku ini alienasi dijelaskan sebagai suatu keadaan terkucil dari diri sendiri dan lingkungan (hal: 14). Keadaan alienasi ini kita alami secara tidak sadar.

Pernahkah kita mempertanyakan tentang hubungan kita dengan sesama? Pernahkah kita menanyakan pada diri kita “apakah saya bertindak dengan menggunakan kedirian saya sepenuhnya atau saya melakukan tindakan hanya berdasarkan tindakan orang lain dengan manafikan diri saya sendiri?” Buku ini mencoba untuk menggelitik kesadaran kita dalam menjawab segala pertanyaan tersebut.

Buku ini dibagi menjadi lima bab. Bab pertama berisi tentang kondisi masyarakat modern dan diberi judul “kondisi masyarakat modern”. Bab ini menjelaskan bagaimana kondisi masyarakat modern yang sepintas terlihat sangat menikmati keadaanya tapi pada tataran bawah sadar sebenarnya manusia modern mengalami kebosanan (hal: 4).

Kebahagiaan dalam masyarakat modern bersifat artifisial dan untuk lari dari keadaan tersebut manusia melakukan tinakan-tindakan yang sebenarnya memperparah kebosanan tersebut. Tindakan tersebut salah satunya adalah mengkonsumsi produk-produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Kenapa demikian? Tindakan konsumsi tersebut bukan dilandaskan dengan hasrat pemenuhan akan nilai guna tapi lebih sebagai bentuk aktifitas untuk mengalihkan rasa bosan tersebut. Keadaan tersebut terjadi dengan dukungan iklan-iklan yang menawarkan berbagai mimpi yang bisa dicapai konsumen ketika membeli produk tersebut.

Contohnya bisa kita lihat di televisi (TV) yang menayangkan iklan rokok, dalam iklan rokok tak jarang ditampilkan sosok laki-laki yang mengendarai mobil mewah dengan perempuan cantik di sampingnya. Iklan rokok seolah memberi pesan pada penonton: “ketika kamu menghisap rokok kami, maka kamu bisa seperti ini.”

Bab kedua dalam buku ini menjabarkan tentang berbagai konsep tentang alienasi. Definisi alienasi sesungguhnya sudah dijabarkan oleh tokoh-tokoh sebelum Fromm, di antaranya Hegel, Karl Marx, Ludwig Feuerbach dan tokoh lainya.

Hegel mengidentikan keterasingan dengan kondisi manusia dengan roh absolut dalam proses dialektika, Feuerbach mendefinisikan keterasingan sebagai: keadaan manusia yang mempercayai adanya tuhan. Menurut Feuerbach Tuhan hanya proyeksi dari manusia. Sementara itu, Marx mendefinisikan keterasingan berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat (hal:16).

Penjabaran berbagai definisi tentang alienasi atau keterasingan dalam buku ini, bertujuan sebagai pembanding dengan konsep keterasingan menurut Fromm yang digunakan sebagai acuan utama dalam buku ini.

Bab Ketiga diberi judul “Alienasi Menurut Erich Fromm”. Keadaan alienasi menurut fromm dalam buku ini adalah keadaan di mana manusia mengalami keterasingan dengan aktivitas produski, hasil produksi, diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Bagi pembaca yang sudah pernah membaca tentang teori Marx, mungkin tidak asing dengan berbagai jenis-jenis alienasi ini, karena empat jenis alienasi tersebut memang sama seperti yang dijabarkan Marx, perbedaanya hanya penulis buku ini menghubungkanya dengan kajian-kajian Fromm yang disertai berbagai kutipan langsung karya Fromm.

Selain membahas mengenai konsep alienasi menurut Fromm, dalam bab ini juga dijabarkan sedikit tentang latar belakang pemikiran dan kehidupan Fromm.

Bab kelima dan penutup, menjabarkan solusi untuk keluar dari keterasingan menurut Fromm dan kritik terhadap solusi tersebut. Menurut Fromm, jalan keluar dari keadaan terasing yaitu dengan adanya perubahan dari struktur masyarakat dan individu. Dalam hal ini Fromm mengusulkan bentuk masyarakat sosialisme komunitarian.

Secara garis besar sosialisme komunitarian adalah keadaan masyarakat yang di antara individunya terjalin hubungan yang dilandaskan cinta. Seperti apa hubungan yang dilandaskan cinta? Hubungan tersebut menuntut adanya sikap saling menghargai dan tidak memperalat. Fromm juga terkenal sebagai tokoh yang terpengaruh oleh pemikiran Marx.

Kemudian, bagaimana menurut pendapat Fromm tentang keadaan ekonomi dalam masyarakat sosialisme komunitarian? Dalam masyarakat komunitarian Fromm menghendaki sistem ekonomi industri menjadi lebih humanis.

Dalam sosialisme komunitarian harus ada sebuah industri di mana setiap karyawan menjadi pemeran aktif serta bertanggung jawab, di mana pekerjaan menjadi menarik dan bermakna, di mana modal tidak memperalatk karyawan, tetapi karyawan yang memperalat modal.” (hal: 60)  

Solusi tentang bentuk masyarakat sosialisme komunitarian mendapat kritik dari penulis buku ini dan para anggota mazhab Frankfrut lainnya. Kritiknya semua hampir sama. Menurut para pengkritiknya, Fromm terlalu optimis dengan bentuk masyarakat yang diimpikanya.

“Fromm tidak pernah menyadari bahwa manusia juga memiliki sifat kebengisan dan sikap saling berperang seperti yang termaktub dalam karya Hobbes “Leviathan”, manusia sejatinya bisa saling membunuh untuk mempertahankan hidupnya.” (hal: 89)

Begitulah kritik yang disampaikan salah satu anggota mazhab Frakfrut Theodore W. Ardono.

Dari segi isi, buku ini menggunakan bahasa yang bisa dipahami karena diangkat dari skripsi, sehingga diharapkan cakupan pembacanya bisa luas. Sumber-sumber utama berupa karya Fromm dalam buku ini juga cukup lengkap untuk membahas tema keterasingan mulai dari: The Fear of Freedom, Man for Himself, The Art of Love, Masyarakat yang Sehat, Revolusi Pengharapan dan beberapa karya Fromm lainya.

Kekurangan lain dari isi buku ini menurut saya sebagai pembaca, penulis buku ini kurang menyertakan kritik dari tokoh lain terhadap teori Fromm, meskipun dalam buku ini sudah menyertakan kritik dari Ardono dan Hockheimer tapi kritik tersebut hanya dicantumkan beberapa baris saja.

Penulis buku ini bisa menambahkan kritik dari filsuf teistik untuk memperkaya isinya, karena dari pembacaan saya mulai dari awal buku sampai selesai, buku ini kurang memberikan ruang dari segi agama dalam membahas masalah keterasingan. Misalnya penulis buku ini bisa menambahkan pandangan Soren Kierkegaard tentang alienasi manusia ketika memalingkan diri dari agama sebagai antitesis teori Fromm.

Dari segi sampu,l menurut saya sendiri sebagai pembaca umum, kurang menarik, karena kurang menyampaikan pesan dari buku ini dan kurang menggoda untuk dibaca. Sampul buku ini menampilkan dua orang dengan posisi yang berbeda. Satu orang berada di posisi duduk dengan menelpon dan yang satunya tampak pada posisi jongkok tertunduk.

Judul Buku : Cinta dan Keterasingan dalam Masyarakat Modern | Penulis : Martinus Satya Widodo | ISBN : 979-7564-66-5 | Penerbit : Narasi | Tahun Terbit : 2005 | ​Tebal : 97 halaman