Mata memang indera yang mudah disentuh kecurigaan. Saya ingat cerita ketika Sartre, filosof juling asal Prancis itu mengintip sosok di balik lubang pintu. Ketika tengah mengintip, Sartre justru terperangkap dalam kecurigaan. 

Ia mengawasi, sekaligus diawasi. Ia menatap; bersamaan, ia curiga kalau ia sedang ditatap. Ketika lama melototi sosok di balik lubang pintu, filosof eksistensialis itu bergumam: “Keberadaanku di bawah ancaman berbahaya!” Mata Jean Paul Sartre mengawasi dunia sambil menaruh curiga.

Menjelajahi akhir pekan serasa melempem ketika mata tak sampai melotot. Usia Juni di akhir pekan kali ini memang mentereng: menginjak angka 19 menuju 20. Mau apa? Mengoles mata dengan deretan koleksi Sabtu adalah sesuatu. Iya, sesuatu yang mengucek-ngucek mata.

Di akhir pekan, indera yang paling getol berspekulasi soal daftar rencana kegiatan adalah pengelihatan. Mata yang “kusut” berusaha mengatur fokus pengelihatan. Ada banyak objek yang dikonfirmasi mata ke otak untuk didiskusikan. Mata menghela jala tuk menangkap. Ada pinggiran, puncak, tepian, laut, sungai, hingga pusat perbelanjaan. Di sekujur wahana yang gemar plus ramai di akhir pekan ini, mata kadang-kadang menjadi ereksi.

Kebutuhan mata memang tak semuanya bisa terpenuhi. Di bibir pantai, mata kadang-kadang sayup menerkam silau panas. Di puncak, mata kadang-kadang diserempet luapan oksigen yang menyibak kelompak. Di pinggiran, kadang-kadang mata layu dipejam hening dan kesepian. Lalu bagaimana dengan pusat perbelanjaan atau jantung kota yang ramai dirona warga?

Di pusat perbelanjaan, mata urung memejam. Mata dilaundry. Mata dipaksa melampaui kekuatan pengelihatan. Ia tak bosan memandang, melihat, mengamat-amati, memantau, memergoki, dan memeloloti. Dengan kata lain, mata menjadi ereksi. Ia tak mudah capek. Ia segera mengusap lelah, meski raga secara keseluruhan hampir tak kuat menyokong arah. Mata tetap eksis.

Bagi saya, mata orang-orang di sekujur wilayah pusat perbelanjaan tak terlalu betah. Dari ruang parkir, menuju basement, lantai satu hingga ke lantai pucuk yang kadang tak lagi ramai dikunjung karena alien bernama Covid-19, mata tetap menaruh curiga. 

Mata mengawasi sekitar sambil mendownload keadaan sekitar tuk dipaste ke dalam ingatan. Dari sana, file-file itu lalu dibawa pergi. Dilipat. Dibungkus. Diberi tarif harga dan akhirnya diceritakan kembali. Dalam ingatan, hasil jepretan mata diolah sedemikian rupa agar dijadikan sajian khas untuk Sabtu akhir pekan.

Ambisi mata di pusat perbelanjaan tak segelora sajian puncak, pinggiran atau pesisir pantai. Meski panorama pantai begitu eksotis dan memanjakan kelima indera, akan tetapi mata tetap tak kuat menatap. Di bibir pantai, mata cepat letih dan lelah. Ketika letih, mata kerap mengalihkan objek pengelihatan. Dan, ketika lelah, mata cepat mengatup pengelihatan. Dalam hal ini, mata memang memiliki intuisi khusus tuk merawat perhatian dan ingatan.

Panorama pusat perbelanjaan, jujur meremajakan mata. Terapi mata untuk menjiwai syaraf-syaraf yang lelah-letih dibekuk rutinitas, serasa sukses dipijat etalase pusat perbelanjaan. Mata sebetulnya butuh wadah. Mata sebetulnya butuh objek. Mata sebetulnya butuh yang namanya kebutuhan untuk melihat. Dari aktivitas melihat, mata menjadi tangguh. Ia tangguh untuk menatap hari esok dengan beragam koleksi pengelihatan yang disimpan dalam ingatan. Dari mata, memori tak pernah terpejam.

Saya memperhatikan orang-orang di pusat perbelanjaan. Arah mereka tak sama meski menyukai hal yang sama. Yang satu menyebut nama yang sama, tetapi tangan mereka menunjuk ke arah yang berbeda. Mereka tertawa kikikan sambil berlari menghampiri markas produk belanja. Ada sepatu, baju, pakain anak, pakaian perempuan, koleksi jersey, McDonalds. Macem-macem. Semua meremajakan mata.

Di pusat perbelanjaan, ereski mata tak mudah dibendung. Dari pintu masuk, satpam memelototi sambil menyenter tangan. Menuju brankas produk, para pelayan mememergoki, mengamat-amati. Di sudut tersembunyi, petugas security cam juga ikut mengawasi. Dua pasang mata saya, sungguh diawasi puluhan dan mungkin ratusan mata yang tak terdeksi. Saya dipantau. Mata saya juga memantau. Meski kita santai mengayuh langkah, mata tetap mengawasi.

Mata memang indera yang mudah disentuh kecurigaan. Saya ingat cerita ketika Sartre, filosof juling asal Prancis itu mengintip sosok di balik lubang pintu. Ketika tengah mengintip, Sartre justru terperangkap dalam kecurigaan. Ia mengawasi, sekaligus diawasi.

Ia menatap; bersamaan, ia curiga kalau ia sedang ditatap. Ketika lama melototi sosok di balik lubang pintu, filosof eksistensialis itu bergumam: “Keberadaanku di bawah ancaman berbahaya!” Mata Jean Paul Sartre mengawasi dunia sambil menaruh curiga.

Sartre kemudian membuat spekulasi seperti halnya saya ketika menata pijakan di pusat perbelanjaan. Mata kanan Satre memang sayup-sayup, seperti hasil jepretan yang bewarna sephia. Lantas apakah ia menyerah tuk mengawasi? Sartre justru mengunci pengelihatan sampai ia benar-benar merasa bebas untuk mengawasi. Ketika Sartre merefleksikan hal ini, ia justru sampai pada sebuah kesimpulan: “Kebebasanku dicaplok; direnggut karena tatapan. Aku disandera!”

Kebutuhan mata untuk melihat, sekali lagi, sungguh mengikat sebuah diskursus atau semacam dialog pengetahuan yang tak menuai hilir. Ketika mata berposisi sebagai pengawas, objek yang dilihat justru direnggut, dicaplok dari kebebasannya, dan jatuh pada ritual definisi. Di sana, objek pengelihatan menjadi kerdil, hilang, dan luas sejauh pemahamanku. Dan, dalam frame dialogis kecurigaan inilah, relasi subjek-objek itu bermula.

Mata ereksi, ingatan memberi kesaksian. Itulah mata di Sabtu kali ini. Mata akhir pekan memantau sekitar dengan penuh kecurigaan. Bukan sebatas mataku. Mata tukang parkir, mata satpam, mata pelayan, mata pengawas kamera CCTV, juga mata mereka yang ikutan berbelanja saling mengawasi. Jadilah demikian: Sabtu dan pengelihatan yang ereksi.