Media sosial tengah ramai membahas kudeta yang terjadi di Turki. Meskipun kudeta berhasil diredam, kontroversi terkait usaha perebutan kekuasaan tersebut masih terus bergulir. 

Analisis tentang kudeta bermunculan, ada yang mengatakan bahwa kudeta di Turki adalah bentuk perlawanan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan yang otoriter dan ingin menanggalkan sekularisme yang diwariskan Mustafa Kemal. Tidak sedikit yang menganalisis bahwa itu hanyalah rekayasa dari Erdogan sendiri.

Apa pun spekulasi mengenai Erdogan dan kudeta Turki, yang jelas ada hal yang menarik dari pembahasan ini. Apalagi kalau bukan disangkutpautkannya Jokowi, Presiden Indonesia. 

Orang-orang yang mengambil sikap oposisi terhadap pemerintahan Jokowi mengajukan pertanyaan, “Jika kudeta terjadi di Indonesia, apakah banyak juga yang membela Jokowi?” atau mengajukan statement seperti: “Kalau Jokowi ingin dicintai seperti Erdogan, sudah selayaknya dia membuat kebijakan yang pro-rakyat.”

Saya sendiri selalu geli setiap kali Jokowi dikaitkan dengan permasalahan yang tidak ada hubungannya dengan Indonesia. Kudeta Turki itu murni urusan dalam negeri Turki sendiri. Tak ada keterkaitan sama sekali dengan NKRI. 

Tapi namanya juga Jokowi sudah telanjur jadi sosok fenomenal, wajarlah kalau setiap peristiwa dihubung-hubungkan dengan sosoknya. Entah tujuannya untuk memojokkan, memfitnah, atau bahkan menyanjung beliau. Bandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya.

Saya juga heran mengapa beberapa orang begitu mengagumi Erdogan dan membandingkan ia dengan Jokowi. Mereka bahkan menganggap Erdogan lebih layak dicintai daripada Jokowi. 

Alasan mereka kagum dengan Erdogan, antara lain: Erdogan ingin menegakkan kembali kejayaan Islam seperti masa pemerintahan Kekaisaran Ottoman, Erdogan calon khalifah idaman, dan sikapnya yang merakyat. Menurut fans Erdogan di tanah air yang sekaligus haters Jokowi, itu berkebalikan dengan sosok Jokowi.

Mengagumi seseorang sah-sah saja. Ini hak setiap orang yang tidak boleh diganggu gugat. Tetapi sebelum memutuskan untuk mengagumi Erdogan dan membandingkan Jokowi dengan mantan Perdana Menteri Turki tersebut, ada baiknya pikirkan ulang poin-poin di bawah ini:

Kita tinggal di Indonesia atau di Turki?

Nah, poin yang pertama ini jelas bisa dijawab setiap orang tanpa ragu. Kita jelas tinggal di Indonesia dan menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pemerintahan Indonesia. 

Sekarang, Presiden kita adalah Jokowi. Maka, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendukung kinerja beliau yang sungguh amatlah berat. Kalaupun ada kebijakan yang terlihat tidak pro-rakyat, ajukan kritik dengan sehat dan argumen yang logis. Apakah mungkin kalau Jokowi ingin menghancurkan dan membenci rakyat Indonesia? Impossible.

Sedangkan sebaik-baiknya Presiden atau Perdana Menteri negara lain itu tidak akan memengaruhi kehidupan kita di Indonesia. Percayalah! Tidak ada ceritanya kalau presiden negara lain memimpin negaranya dengan baik, maka kesehatan dan pendidikan di Indonesia juga menjadi lebih baik karena dia.

Jadi, untuk apa memuji-muji pemimpin Turki? Lebih baik fokus mendukung pemimpin negeri sendiri.

Sikap terhadap Kebebasan

Berdasarkan berita-berita yang beredar, Pemerintahan Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan sangat otoriter. Apa buktinya? 

Banyak media online yang sikapnya oposisi terhadap pemerintahan langsung diblokir tanpa peringatan. Banyak jurnalis yang dipenjarakan; hakim-hakim dan militer yang berseberangan dengan sang pemimpin mendapatkan hukuman.

Saya rasa sudah bukan rahasia kalau kebebasan di Turki sangat dibatasi. Nuansanya mungkin lebih mirip zaman Orde Baru dulu di mana setiap ada kritik sekecil apa pun langsung diberangus. Banyak yang menyebut bahwa Erdogan adalah figur yang antikritik. Bahkan secara terang-terangan, Erdogan mengatakan bahwa pemerintahan diktator ala Hitler sangat ideal untuk diterapkan. Seram, ya?

Apakah hal yang sama dilakukan oleh Jokowi? Tidak perlu saya jelaskan panjang lebar. Kalau itu dilakukan oleh Jokowi, tidak akan ada orang-orang yang memanfaatkan popularitas beliau untuk jualan seprai ataupun bisnis lain. 

Media-media berhaluan radikal masih bebas mengkritik beliau seenak jidat tanpa argumen yang jelas. Bahkan Jokowi pernah bersikap sangat ramah terhadap orang yang menghina beliau. Simple, kan, menyimpulkannya?

Pemerintahan yang bersih dan gaya hidup sebagai pemimpin

Agustus mendatang, Turki akan melakukan pemilihan umum. Ada kabar yang berhembus kalau Erdogan dituduh telah korupsi. 

Ya, bisa jadi ini kampanye negatif untuk menggulingkan pemerintahan Erdogan. Tapi bukan itu yang ingin dibahas. Permasalahannya adalah sikap Erdogan menanggapi tudingan itu.

Beredarnya rekaman hasil sadapan yang membuktikan Erdogan terlibat dalam kasus korupsi membuat dia geram. Dia sendiri membantah dengan menyatakan bahwa itu rekaman palsu dan memblokir situs yang menyebarkan rekaman tersebut. 

Erdogan juga menegaskan bahwa pengadilan sekalipun tidak akan bisa melakukan hal itu pada penguasa di Turki. Jika Erdogan tidak bersalah, mengapa dia bereaksi sekeras itu?

Dari segi gaya hidup, Erdogan mulai dianggap otoriter karena membangun Istana Putih yang megah dengan pengeluaran 615 juta dolar USA. Kabarnya, Istana itu punya 1000 kamar. Rakyat menganggap itu sebagai pemborosan.

Bagaimana dengan Jokowi? Silakan nilai sendiri. Apakah pemimpin kita itu adalah sosok yang suka bermegah-megahan? Jokowi adalah pemimpin paling sederhana dan merakyat dibandingkan pemimpin-pemimpin yang sebelumnya. Bahkan dunia angkat topi dengan gaya hidup Jokowi yang sama sekali tidak seperti presiden pada umumnya.

Mungkinkah dengan sikap hidup yang amat sederhana, Jokowi berambisi untuk korupsi? Pikirkanlah!

Sikap dan Hubungan dengan Israel

Siapa pun yang masih punya nurani tak akan pernah menyukai Israel walau seujung jari pun. Negeri itu tak mengenal yang namanya belas kasih. Israel adalah monster yang pernah ada di dunia dan terus mendapatkan kecaman. Israel layak dikutuk.

Erdogan beberapa waktu yang lalu melakukan normalisasi dengan Israel dan memberikan sinyal yang kuat bahwa Turki dan Israel bisa kembali “mesra”. Bagaimana dengan Jokowi?

Dalam KTT luar biasa OKI Maret 2016 silam, Jokowi tegas bersikap akan terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina sampai kapan pun. 

Jokowi juga mengutip pernyataan Founding Father bangsa ini, Soekarno: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”

Jokowi juga menambahkan bahwa Indonesia akan segera membuka Konsulat Kehormatan di Palestina. Tidak hanya itu, Jokowi mengimbau OKI untuk memboikot produk-produk Israel.

Sudah jelas kan pemimpin mana yang layak dikagumi? Yang pro penjajah atau anti terhadap penjajah?