Selama hampir 15 tahun kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk, Turki, negara Islam yang berada di wilayah Asia Barat dan Eropa Tenggara ini, menjadi negara penganut paham sekuler masa itu yang dibawa oleh Mustafa Kemal Attaturk. Sikap diktator dan radikal Mustafa Kemal Attaturk dalam menjalankan pemerintahannya, serta keinginannya menjadikan Turki negara anti Islam, memunculkan penurunan akhlak masyarakat serta pejabat pemerintah di masa itu.

Gaya kepemimpinan Mustafa Kemal seperti ini menyebabkan kemerosotan ekonomi di negara Turki. Masyarakat cenderung menjadi cinta dunia dan gemar hidup serba mewah, dan membuat masyarakat Turki pada saat itu melupakan syariat Islam.

Sikap sekuler, menghapus dakwah dan jejak Islam di Turki, menjadikan sulitnya kaum Muslimin Turki menemukan peninggalan peradaban Islam di sana. Setelah sekian lama masyarakat Turki hidup dalam pemerintah sekuler, muncul harapan akan kembalinya syariat Islam di Turki melalui kemunculan Reccep Tayyip Erdogan.

Erdogan adalah presiden ke-12 Turki. Ia memulai jabatannya pada tahun 2014, setelah sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri Turki selama kurang lebih 11 tahun. Sejak kepemimpinannya, Turki kembali menjadi negara Islam yang maju. Nuansa islami semakin terasa.

Cara yang dilakukan Erdogan adalah dengan mengusung visi Islam di AK Parti (Adalet Kalkinma Paritisi), partai yang mendominasi jagad politik di negara dua benua ini. Sejak kepemimpinan Reccep Tayyip Erdogan, Turki bangkit.

AK Parti menang dengan jumlah suara melebihi 50 persen secara berturut-turut pada pemilu Turki. Bahkan dalam Pemilu legislatif, AK Parti kembali menang dengan jumah suara melebihi 40 persen tingkat nasional. Suatu pencapaian besar bagi suatu partai “Islamis” di negara yang resmi menggunakan sistem sekuler sebagai ideologi negara. 

Partai-partai sekuler seperti MHP (Miliyetci Hareket Partisi) dan CHP (Cumhuriyet Halk Partisi) tidak popular lagi. Ini bukti nyata sekulerisme mulai runtuh di Turki. Hal itu terjadi karena Recep Tayyip Erdogan sebagai figur sentral AK Parti yang disegani. Perlahan ia membawa Turki ke arah kebangkitan. Meski di sisi lain ia harus siap menghadapi tantangan yang siap menghadangnya. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Di bawah kepemimpinan Erdogan, Turki berkembang pesat di berbagai bidang Ekonomi, pendidikan serta teknologi Turki semakin maju. Tidak hanya itu, militer Turki pun semakin diperkuat dengan sistem persenjataan yang canggih.

Dilansir berbagai sumber, di bawah kepemimpinan Erdogan, Turki mengalami lompatan peringkat ekonomi yang signifikan. Dari sebelumnya di peringkat 111 menjadi peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10% per tahun. Turki masuk menjadi 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

Erdogan tidak diktator. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha menanamkan syariat Islam. Membuat masyarakatnya hidup dalam keadilan dan kemakmuran. Dengan gaya ini pula, banyak kemajuan dalam negara Turki, baik di bidang sosial maupun ekonominya.

Sejak kekuasaan Erdogan, situasi politik di Turki relatif stabil. Tidak ada upaya kudeta militer sejauh ini. Memang ada beberapa demonstrasi terjadi, respons terhadap beberapa kebijakan Erdogan yang banyak berakhir kerusuhan.

Situasi ekonomi Turki juga kembali stabil setelah krisis pada tahun 2001. Reformasi kebijakan ekonomi Erdogan dengan pro terhadap pasar, membuat investor kembali tertarik menanam modal. Hal ini juga membuka lapangan kerja serta peningkatan pembangunan infrastruktur di setiap wilayah.

Di samping banyaknya perubahan dilakukan Erdogan untuk negara Turki, ia juga dihadapkan dengan beberapa hal yang harus diselesaikan. Dalam mewujudkan visi Turki 2023, yang bertepatan dengan 100 tahun berdirinya negara Turki. 

Salah satunya adalah menyelesaikan rencana perubahan konstitusi sesegera mungkin dengan adanya perubahan konstitusi, Turki akan memiliki dua badan eksekutif yakni presiden dan perdana menteri. Apabila hal itu terwujud kinerja presiden akan lebih cepat. Karena ia mempunyai legitimasi untuk menjalankan program – programnya.

Hal ini juga untuk menunjukan bahwa presiden mempunyai peran tinggi. Setelah sebelumnya peran presiden hanya sebagai figur dan simbol nasional. Dengan perubahan ini diharapkan posisi seorang presiden kembali diperhitungkan.

Lalu, kebijakan Erdogan yang pro terhadap syariat Islam dikhawatirkan kubu oposisi akan meningkatnya praktik – praktik Islam di Turki dan meninggalkan peninggalan sekuler yang di wariskan Kemal Attatur, oleh karena itu ia perlu melakukan rekonsiliasi Turki.

Selanjutnya, adanya perundingan intens yang dilakukan oleh Erdogan terkait konflik domestik yang terjadi di Turki yaitu gerakan separatis Kurdi yang diwakili oleh Partai Pekerja Kurdi (PKK). Gerakan separatis yang dilakukan telah menyebabkan banyak nyawa yang melayang, baik dari kubu Kurdi  maupun militer Turki.

Sikap Erdogan yang selalu aktif dalam mendukung perdamaian dunia seperti membela Palestina dan kepentingan kaum Muslimin di dunia perlu dipertahankan. Karena bagaimanapun hanya Erdogan yang selama ini berani bersuara lantang untuk kepentingan umat Islam di dunia, sepeninggalan Ahmadinejad di Iran. Bisa dikatakan banyak perubahan yang dirasakan oleh masyarakat dunia dan Turki pada saat Erdogan menjalankan pemerintahan nya. Keberaniannya menjalankan syariat Islam dalam memimpin Turki memperlihatkan hasil nyata. Berbanding jauh dengan situasi saat Turki masih menganut paham sekuler.