Belakangan, manusia era sekarang hidup di sebuah dunia yang penuh dengan kegemukan informasi, fenomena hijrah artis dianggap “wow”, kemunculan ustaz media,  ekstasi komunikasi, fantasi lebih nyata, dan distingsi marak terjadi di tengah masyarakat. Yang, mengutip Jean Baudrillard, disebut dengan “Simulakra” atau dunia yang “melampaui realitas”.

Dunia yang telah melampaui realitas ini, akibat dari kemajuan teknologi dan informasi serta ilmu pengetahuan yang kian kemari makin tak bisa ditoleransi lagi. Seakan, berduyun-duyun datang membuat sebuah kejutan baru yang tidak disadari. Semuanya bermula pada saat dunia Barat mengalami masa peralihan dari abad pertengahan ke abad modern, atau sebutan yang sangat familiar di kepala kita yakni Renaisans.

Di era Renaisans, seorang pemikir sosialis Karl Marx (1818-1883) mengelaborasi teori sosial yang menyebut jika seseorang memiliki alat dan bahan baku produksi, maka ia menguasai peradaban. Karena ketika individu memiliki alat untuk memproduksi kebutuhan hajat hidup manusia, dengan sendirinya ia seorang borjuis. Tapi, perlahan teori itu tak akan berlaku hari ini, melihat realitas yang sesungguhnya banyaknya individu yang memiliki alat produksi yang membuat persaingan di mana-mana.

Perlahan-lahan paradigma penguasaan kendali peradaban, yaitu kepemilikan atas alat-alat produksi, kini mulai bergeser ke arah baru yang disebut kepemilikan atas simbol. Sekarang, siapa yang mampu mengendalikan simbol konsumsi manusia, ia adalah penguasa peradaban. 

Konkretnya, masyarakat modern lebih memilih mengonsumsi barang-barang bermerek daripada yang sama kegunaannya dan harga yang jauh lebih murah. Dalam makna sederhana adalah konsumsi manfaat yang telah bergeser ke konsumsi simbol.

Terpakunya masyarakat modern atas konsumsi simbol membuat orientasi konsumsi yang semula diperuntukkan untuk “kebutuhan hidup”, menjadi sebuah tren “gaya hidup”. Implikasinya berimbas pada distingsi sosial yang diakibatkan oleh pilihan selera. 

Semisal, seseorang yang memakai celana yang berbentuk kaki kuda dianggap ketinggalan zaman dan orang desa, ketimbang yang memakai celana jeans atau model celana yang ramai dipakai banyak orang. Padahal dari segi kegunaan dan manfaatnya sama.

Selain terjadi distingsi sosial, hal selanjutnya adalah memanipulasi sebuah tanda. Orang-orang digiring oleh media untuk mengonsumsi barang tertentu dengan sebuah tanda. Sebagai contoh, dalam sebuah iklan produk deterjen tertentu, produk yang diiklankan mengirim sebuah tanda bahwa dengan menggunakan produk ini jauh lebih ampuh akan menghilangkan noda di pakaian ketimbang produk lain. 

Dan pada akhirnya, saat makin marak iklan itu, perlahan-lahan orang tidak menangkap kegunaan deterjen. Namun, memilih membeli produk yang diiklankan tersebut. Sekali lagi, kalau secara akal sehat, semua fungsi deterjen sama walaupun berbeda merek.

Semua hal di atas terkoneksi pada sebuah dunia simulasi yang dianggap nyata. Coraknya bersifat melampau realitas. Dan yang dibawa lebih banyak adalah “kebohongan”. 

Yang lebih ekstrem lagi misalnya: iklan parfum yang apabila seorang lelaki memakainya akan membuat perempuan seisi kota akan mengikutinya, iklan multivitamin yang dapat membuat anak cerdas seketika, sekalian juga tidak perlu belajar cukup minum multivitamin ini, anak akan cerdas.

Dan tidak sampai di sini, era melampaui realitas ini berimplikasi pada berakhirnya kehidupan sosial. Mereka yang terjebak dalam dunia simulasi dapat dipastikan berakhir kehidupan sosialnya. 

Semisal, seorang anak yang lebih memilih bermain video games di rumah ketimbang bermain bersama teman di luar rumah, seorang ibu rumah tangga yang menonton sinetron daripada beraktivitas sosial di luar, dan yang paling mengerikan, para pecandu internet dan bacaan komik yang menghabiskan banyak waktu guna melakoni kegemarannya ketimbang berinteraksi sosial.

Titik fokus era ini sangat berefek bagi pola hidup masyarakat modern. Setiap orang hanyut dalam mekanisme teknologi media komunikasi dan menjauhkan mereka dari isi sebenarnya makna komunikasi. Terjadi kegemukan data dan informasi. 

Semua privasi menjadi transparan—ruang privasi beralih ke ruang publik. Dan, dalam ranah psikologis, dunia simulasi dianggap nyata, kepalsuan dianggap lebih benar daripada kenyataan, isu lebih dipercaya ketimbang informasi, rumor dianggap lebih benar dari informasi yang diterima.

Dalam agama pun terjadi pendangkalan peran agama. Media-media membuat pola agama sebagai subjek kejutan. Yang ditampilkan adalah aspek yang “menarik” dan “wow”. Mulai dari terorisme, ustaz media, makhluk halus, artis taubat, dan lain sejenisnya. Pada akhirnya realitas agama menjelma menjadi simulakra—lahirnya citra/model-model keagamaan baru yang tanpa asal-usul yang jelas.

Akhirnya, timbullah fenomena menafsirkan agama dengan data-data yang dimiliki, tapi, dangkal dalam persoalan bagaimana seharusnya menafsirkannya. Tentunya, akan membuat kegaduhan dan nirmakna (hilangnya corak beragama sebagaimana mestinya). 

Orang-orang akan menjadi ustaz media dadakan tanpa landasan kedalaman ilmu agama. Kecondongan ini akan berakhir pada pertentangan, jika tidak sependapat dengannya.

Pada prinsipnya, corak masyarakat modern telah hilang daya kritisnya dalam menangkap sebuah manfaat yang disuguhkan dunia modern. Simbol, bahasa, ekstase komunikasi menjadi sebuah kekuatan baru dalam hegemoni peradaban kapital. Pemanfaat teknologi yang negatif, perlahan akan memberanguskan realitas dan menggantikan dengan dunia simulasi yang penuh fantasi.

Apakah kita semua telah sadar. Atau tanpa sadar, kita diombang-ambingkan oleh era simulasi. Sudah saatnya, masyarakat modern harus cerdas. Edukasi sesegera mungkin dilakukan. Setidaknya mulai dari lingkungan kecil, yakni keluarga, sahabat, teman. Jangan sampai lebih banyak korban lagi ditimbulkan atas hadirnya era ini.